30 Juz Diselesaikan Berjamaah, Dapatkah Keutamaan Khataman Al-Qur’an? – Aspiratif News

Views: 10
Read Time:5 Minute, 33 Second

30 Juz Diselesaikan Berjamaah, Dapatkah Keutamaan Khataman Al-Qur’an? – Aspiratif News

Kesadaran masyarakat akan perlunya mempergunakan media sosial untuk hal-hal yang positif rupanya betul-betul dinikmati waktu ini. Kita dapat melihat di bermacam platform media sosial begitu banyak konten-konten keagamaan yang dishare para netizen, seperti ceramah keagamaan, majelis dzikir, dan bermacam aktivitas lain yang membikin media sosial dapat memberi manfaat dan bernuansa religius.


Realitas seperti ini tidak lain dikarenakan animo masyarakat untuk menjadikan media sosial sebagai ladang ibadah. Bagian di antara ikhtiar tersebut ialah dengan mengagendakan khataman Al-Qur’an secara daring atau online. Hal ini biasanya ditunaikan di grup-grup Whatsapp, di mana masing-masing anggota grup ditugaskan untuk membaca 1 atau 2 juz, sampai jika dijumlah semuanya mencapai 30 juz Al-Qur’an.


Apakah tradisi khataman Al-Qur’an dengan model seperti ini memperoleh fadhilah (keutamaan) khatmil Qur’an? Pahala apa saja yang didapatkan dengan melakukan khataman Al-Qur’an via online ini?


Mengkhatamkan Al-Qur’an Ialah bagian ibadah yang besar nilai pahala dan barakahnya. Bagian fadhilahnya secara tegas dijelaskan dalam hadits:

إِذَا خَتَمَ الْعَبْدُ القُرْآنَ صَلَّى عَلَيْهِ عِنْدَ خَتْمِهِ سِتُّوْنَ أَلـْفِ مَلَكٍ 


“Apabila seseorang mengkhatamkan Al-Qur’an, maka 60.000 malaikat memohonkan rahmat untuknya pada waktu khatamannya” (HR Ad-Dailami).


Dalam memaknai hadits di atas, para ulama cenderung mengartikan fadhilah tersebut didapatkan secara perseorangan, bukan bersifat kolektif. Sehingga fadhilah mengkhatamkan Al-Qur’an cuma diperuntukkan bagi orang yang membaca Al-Qur’an mulai dari awal surat al-Fatihah sampai akhir surat An-Nas secara sempurna. Pemaknaan ini salah satunya seperti yang disebutkan dalam kitab as-Siraj al-Munir Syarh al-Jami’ as-Shagir:

 ـ(إذا ختم العبد القرآن) أي كلّما قرأه من أوّله إلى آخره (صلى عليه عند ختمه ستون ألف ملك) أي استغفروا له. قال المناوي يحتمل أنّ هذا العدد يحضرون عند ختمه والظاهر أنّ المراد بالعدد التكثير لا التحديد


“Waktu seseorang mengkhatamkan Al-Qur’an, maksudnya tatkala ia membaca Al-Qur’an dari awal sampai akhir, maka 60.000 malaikat memohonkan rahmat untuknya, maksudnya memintakan ampun untuknya. Imam al-Munawi berkata: ‘Maksud dari hitungan total malaikat yang Hadir waktu khatam Al-Qur’an, secara jelas cuma sebatas mempertunjukkan arti banyak, bukan bilangan tertentu” (Syekh Ali bin Ahmad al-Azizi, as-Siraj al-Munir Syarh al-Jami’ as-Shagir, juz 1, Hal. 111)

READ  Kepergok Hina Gus Mus, FB Hendro Purnomo Diserbu Netizen


Pemaknaan tersebut tidak lain berdasar kandungan ‘urf dari lafadz dalam hadits yang cuma terkhusus pada perseorangan yang menyempurnakan membaca Al-Qur’an dari awal sampai akhir. Dalam kitab at-Tanwir Syarh Jami’ as-Shagir disebutkan:

ـ (ومن ختم القرآن) أي تمّه إلى آخره إذ هو عرف هذا اللفظ 


“Sesiapa saja yang mengkhatamkan Al-Qur’an, maksudnya menyepurnakan membaca Al-Qur’an sampai akhir/khatam, sebab makna ini Ialah ‘urf dari lafadz hadits tersebut” (Muhammad bin Isma’il al-Hasani, at-Tanwir Syarh Jami’ as-Shagir, juz 10, hal. 295)


Maka dapat disimpulkan bahwa tradisi khataman Al-Qur’an secara daring tidak termasuk kategori mengkhatamkan Al-Qur’an yang dimaksud dalam beberapa hadits, sehingga tidak betul jika dipahami bahwa khataman via online memperoleh fadhilah khatmil Qur’an. 


walaupun tidak memperoleh fadhilah khatmil Qur’an, mengkhatamkan Al-Qur’an secara berjamaah via online bukan artinya tidak berguna dan tidak berpahala sama sekali. Di zaman ini, cara khataman daring dapat memotivasi orang lain untuk membaca atau mendengarkan Al-Qur’an, serta memperoleh fadhilah berkumpul dalam majelis Al-Qur’an.

READ  20 Komentar Para Figur publik Dunia Soal Nabi Muhammad SAW


Masalah fadhilah berkumpul dalam majelis Al-Qur’an, salah satunya disebutkan dalam hadits:

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِيمَنْ عِنْدَهُ رواه أحمد


“Tidak berkumpul suatu kaum di rumah dari rumah-rumah Allah (masjid) sembari melantunkan Al-Qur’an dan saling mempelajari Al-Qur’an di antara mereka, kecuali turun pada mereka Kedamaian, rahmat Allah menaungi mereka, malaikat mengelilingi mereka dan Allah menyebut mereka dalam golongan orang yang ada di sisi-Nya” (HR Ahmad).


Maksud dari redaksi “rumah Allah” dalam hadits di atas ialah masjid. Tetapi, para ulama berpandangan bahwa penyebutan kata “rumah Allah” yang artinya masjid dalam hadits di atas bukanlah sebuah pengkhususan, sebab fadhilah berkumpul dalam majelis Al-Qur’an juga didapatkan bagi orang yang berkumpul di tempat-tempat yang lain, termasuk via Online. Pandangan ini seperti yang dijelaskan Imam an-Nawawi dalam kitab Syarh an-Nawawi li al-Muslim:

ويلحق بالمسجد في تحصيل هذه الفضيلة الاجتماع فى مدرسة ورباط ونحوهما إن شاء الله تعالى ويدل عليه الحديث الذي بعده فإنه مطلق يتناول جميع المواضع ويكون التقييد في الحديث الأول خرج على الغالب لا سيما في ذلك الزمان فلا يكون له مفهوم يعمل به


“Disamakan dengan masjid dalam hasilnya fadhilah yaitu berkumpul di madrasah, pondok dan tempat-tempat sesamanya, Insya Allah. Hal ini ditunjukkan dengan hadits setelahnya yang berlafalkan mutlak, sehingga meliputi semua tempat. Maka memberi batasan makna dalam hadits ke-1 keluar dari pemahaman umum, terlebih pada zaman tersebut. Maka tidak ada mafhum yang dapat diamalkan” (Syekh Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Syarh an-Nawawi li al-Muslim, juz 17, hal. 22)

READ  Melempar Jumrah, Menag Pilih Sore Hari


Dengan seperti ini, tradisi mengkhatamkan Al-Qur’an via online layak kita sokong dan apresiasi setinggi-tingginya dalam rangka menjadikan media sosial sebagai Sarana yang positif, sebab dalam tradisi ini Ada pahala yang amat besar, seperti membiasakan diri kita membaca Al-Qur’an, memotivasi orang lain membaca Al-Qur’an dan berkumpul dalam majelis Al-Qur’an. Tetapi meski begitu, tradisi ini tidak Penting dipromosikan dengan iming-iming yang keterlaluan keterlaluan dan tidak benar menurut pandangan para ulama salafus shalih, seperti menganggap tradisi ini memperoleh fadhilah khatmil Qur’an, sehingga dianggap sama dengan mengkhatamkan Al-Qur’an secara keseluruhan yang ditunaikan oleh 1 orang. Dengan memberikan pemahaman yang benar Soal hal tradisi ini, masyarakat akhirnya dapat lebih ikhlas dalam beramal dan lebih mengerti Soal hal batasan fadhilah yang didapatkan dalam tradisi khataman via online ini. Wallahu a’lam

Ustadz M. Ali Zainal Abidin, Pengajar di Pon. Pes. Annuriyyah, Kaliwining, Rambipuji, Jember

30 Juz Diselesaikan Berjamaah, Dapatkah Keutamaan Khataman Al-Qur’an? – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *