Abu Manshur al-Maturidi, Imam Aqidah Ahlusunnah wal Jama’ah – Aspiratif News

Views: 15
Read Time:7 Minute, 17 Second

Abu Manshur al-Maturidi, Imam Aqidah Ahlusunnah wal Jama’ah – Aspiratif News

Figur publik kita 1 ini selalu disandingkan dengan Abu al-Hasan al-Asy’ari sebagai 2 figur publik besar manhaj Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Sungguh benar, rekam jejak kehidupannya sedikit diulas oleh para sejarawan terkenal seperti Ibnu Katsir, Ibnu Khalkan, Ibnu Nadim, dan Ibnu Atsir dalam catatan-catatan sejarah mereka. Akan tetapi, seluruh kehebatan murid-muridnya serta karya tulisnya telah mempertunjukkan ke kita betapa hebatnya figur publik kita 1 ini. Tidak ayal, para pengikutnya menjuluki figur publik kita ini dengan julukan Rais Ahlussunnah (pemimpin golongan Ahlussunnah), al-Imam al-Zahid (pemimpin yang zuhud), dan beberapa julukan lainnya.


Ia bernasab komprehensif Muhammad bin Muhammad bin Mahmud atau yang dijuluki juga dengan Abu Manshur al-Maturidi. Malam manuskrip kitab at-Tauhid karya Abu Manshur al-Maturidi tertulis bahwa Abu Manshur Ialah anak cucu dari Abu Ayyub Khalid bin Zaid al-Anshari, seorang figur publik sahabat Nabi yang rumahnya jadi tempat ke-1 Nabi menetap di kota Madinah tatkala hijrah dari kota Makkah. Hal ini juga diutarakan oleh Kamaluddin Ahmad al-Bayadhi dalam kitab Isyarat al-Maram min Andaikan al-Imam.


Abu Manshur al-Maturidi lahir di desa Matrid, sebuah desa di daerah Samarkand yang sekarang termasuk bagian dari negara Uzbekistan. Masalah tahun kelahirannya, Dr. Muhammad Ayyub Mempublikasikan Abu Manshur al-Maturidi lahir kisaran sebelum tahun 238 H. Ia hidup di zaman kemajuan daerah Asia Tengah sebagai pusat peradaban Islam. Di antara ulama besar yang sezaman dan berasal dari 1 daerah dengan beliau ialah Muhammad bin Isma’il al-Bukhari (w. 256 H) dan Muslim bin Hajjaj an-Naisabur (w. 261 H). (Lihat tesis doktoral Dr. Muhammad Ayyub di Universitas Dar al-Ulum, Kairo berjudul al-Islam wal Imam al-Maturidi).

Corak Pemikiran Abu Manshur al-Maturidi

Semenjak Khalifah al-Mutawakkil dari dinasti Abbasiyyah mengucilkan ajaran sekte Muktazilah pada tahun 234 H maka semenjak itulah ajaran sekte Muktazilah mulai menyingkir ke daerah-daerah kisaran Asia Tengah. Begitu juga dengan sekte Qaramithah yang mencapai kejayaan dakwahnya di daerah Asia Tengah kisaran tahun 261 sampai tahun 278 H. Ditambah dengan pengaruh ajaran Zoroaster dan beberapa ajaran agama lain yang mengakar kuat semenjak dahulu di Asia Tengah. Hal ini juga dikarenakan letak daerah Asia Tengah yang strategis sebagai jalur perdagangan dan perjumpaan budaya dari daratan China sampai wilayah Timur tengah.

READ  “tentara, Tidak Terkalahkan” yang Dipecundangi Sebuah Statemen atau Kebungkaman - Aspiratif News


Maka, tampillah Abu Manshur al-Maturidi sebagai figur publik Aswaja paling berpengaruh di Asia Tengah dengan segenap karya tulisnya yang sanggup mematahkan segenap pemikiran sekte yang melenceng dengan argumentasi nalar yang kuat. Pemakaian nalar akal yang cukup dan seimbang ialah corak pemikiran Abu Manshur al-Maturidi dalam ilmu aqidah yang juga mengacu untuk karakter pemikiran Imam Abu Hanifah. Oleh karena itu, tidak keterlaluan bahwa pemikiran yang dibawa oleh Abu Manshur al-Maturidi ialah penyempurna argumentasi yang dibangun oleh Abu Hanifah dalam kitab al-Fiqh al-Akbar. Bahkan, sampai waktu ini sebagian besar pengikut ajaran Abu Manshur al-Maturidi ialah pengikut mazhab Abu Hanifah dalam bidang ilmu fiqih. Tentu hal ini amat tidak sama dengan sekte Muktazilah yang lebih mengedepankan akal melebihi nash Al-Quran dan Hadits. Sebagaimana yang diutarakan oleh Dr. Abu Zahrah:

إنّ منهاج الماتريدية للعقل سلطان كبير فيه من غير أىّ شطط أو إسراف، والأشاعرة يتقيّدون بالنّقل ويؤيِّدونه بالعقل، حتّى إنّه يكاد الباحث يقرّر أنّ الأشاعرة فى خطّ بين الاعتزال وأهل الفقه والحديث، والماتريديّة فى خطّ بين المعتزلة والأشاعرة


“Manhaj al-Maturidi mempergunakan argumentasi nalar yang besar tanpa melampaui batas dan keterlaluan. Adapun, manhaj al-Asy’ari konsisten dengan dalil Naql serta mengukuhkannya dengan argumentasi nalar akal. Sehingga sebagian pengkaji ilmu aqidah meneguhkan bahwa manhaj al-Asy’ari Ada di antara pemikiran sekte Muktazilah dan ulama ahli fiqh dan ahli Hadits sedangkan manhaj al-Maturidi Ada di antara pemikiran sekte Muktazilah dan manhaj al-Asy’ari” (Dr. Abu Zahrah, Kitab Tarikh al-Madzahib al-Islamiyyah [Kairo: Dar al-Fikr al-Arabi],  2008, vol. 1, hal. 212).


Sungguh benar, ada perbedaan pandangan di antara golongan al-Maturidi dan golongan al-Asy’ari dalam beberapa permasalahan, seperti hakikat iman orang yang taqlid (pengikut mazhab) dan sejenisnya sebagai imbas dari analogi pemikiran yang tidak sama. Akan tetapi, perbedaan tersebut tidak sampai membikin 1 golongan mengkafirkan dan membid’ahkan golongan yang lain. Bahkan, sebagian ulama pembesar mazhab al-Asy’ari juga beberapa kali lebih condong untuk pandangan Abu Manshur al-Maturidi begitu juga sebaliknya. Sebagaimana yang dicatat oleh Musthalah ad-Din Musthafa al-Kastali (w. 901 H):

READ  Hukum Haewan Disembelih Namun Tidak Mati, Halal atau Haram?

والمحققون من الفريقين لا ينسب أحدهما الآخر إلى البدعة والضلالة


“Dan para ulama ahli tahqiq dari 2 golongan (al-Maturidi dan al-Asy’ari), di antara keduanya tidaklah menisbatkan bid’ah dan sesat ke 1 sama lain” (Hasyiyah al-Kastali ala ‘Aqaid an-Nasafiyyah [Baghdad: Maktabah al-Mutsanna], 1979, hal. 17).


Sikap moderat dalam menyikapi akal dan nash juga ditegaskan oleh Abu Manshur al-Maturidi dalam kitab at-Tauhid, ia menerangkan, “Agama cuma dapat dikenal dengan mendengarkan (nash) dan nalar akal.” Oleh karena itu, Abu Manshur al-Maturidi memberikan batasan yang Jelas dalam seluruh karyanya soal pemanfaatan nalar akal. Dan ada kalanya akal mesti tunduk untuk nash sahih dalam Al-Qur’an dan Hadits. Kecuali itu, al-Maturidi juga banyak menukil pandangan Aristoteles soal sepuluh dasar ilmu logika dalam kitab at-Tauhid. Hal ini mempertunjukkan keluasan ilmunya yang tidak terbatas cuma meneliti nalar pemikiran sekte-sekte dalam Islam tetapi juga meneliti Kemajuan nalar pemikiran para filsuf Yunani kuno.

Karya-karya Abu Manshur al-Maturidi

Di antara karya Abu Manshur al-Maturidi yang terkenal dalam ilmu aqidah ialah kitab at-Tauhid, kitab Syarh al-Fiqh al-Akbar, kitab al-Maqalat al-Maturidi, kitab Bayan Wahm al-Mu’tazilah, kitab Radd Wa’id al-Fussaq, kitab Radd al-Ushul al-Khamsah, kitab Radd Tahdzib al-Jadal, kitab Radd Awail al-Adillah, kitab Radd ‘ala Qaramithah, kitab Aqidah al-Maturidi, dan kitab Radd al-Imamah. Adapun karya menumentalnya dalam ilmu tafsir Al-Qur’an ialah kitab Ta’wilat al-Maturidi dan kitab Ta’wilat Ahlus Sunnah. Dan karya monumental Abu Manshur al-Maturidi dalam ilmu ushul fiqh ialah kitab al-Jadal dan kitab Ma’akhidz asy-Syara’i. Hal ini semua mempertunjukkan bahwa Abu Mashur al-Maturidi ialah seorang pembesar ushul fiqh mazhab Hanafi yang juga seorang ahli ilmu tafsir dan ahli ilmu aqidah. (Abu Manshur al-Maturidi, Hayatuhu wa Arauhu al-‘Aqdiyyah [Tunisia: Dar at-Turk], 1989, hal. 62).

Sanad Keilmuan Abu Manshur al-Maturidi

Figur publik kita ini berguru ke Abu Bakar Ahmad al-Juzjani, Abu Nashr Ahmad al-‘Iyadh, dan Nushair bin Yahya al-Balkhi (w. 268 H), dan Muhammad bin Muqatil ar-Razi (w. 248 H). Seluruh guru Abu Manshur al-Maturidi tersebut mengambil sanad keilmuan ke Abu Sulaiman bin Musa al-Juzjani. Adapun, Abu Sulaiman bin Musa al-Juzjani mengambil sanad keilmuan ke al-Qadhi Abu Yunus (w. 182 H) dan Muhammad bin al-Hasan (w. 189 H) yang Ialah 2 murid the best imam Abu Hanifah. Murid-murid Abu Manshur al-Maturidi yang paling masyhur ialah Abu Qasim as-Samarkandi (w. 342 H), Ali ar-Rustaghni (w. 350 H), dan Abu Muhammad Abdul Karim bin Musa al-Bazdawi (w. 390 H). (Dr. Ahmad Hamdi Ahmad Ali, Juhud al-Madrasah al-Maturidiyyah [Kairo: Maktabah al-Azhariyyah li at-Turats], 2017, hal. 35).

READ  Syaikhona Kholil Bangkalan dan True Story Surat Ke Anjing Hitam - Warta Batavia


Dikisahkan, Abu Nashr Ahmad al-‘Iyadh bagian guru Abu Manshur al-Maturidi tidak pernah memulai berbicara di majlisnya sebelum Abu Manshur al-Maturidi Hadir. Dan tatkalaAbu Nashr Ahmad al-‘Iyadh melihat Abu Manshur al-Maturidi Datang dari kejauhan maka ia akan menyambut murid terkasihnya ini dengan lantunan ayat “Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki…” (Qs. Al-Qashah ayat : 68). (Ahmad bin Auwd al-Hazb, al-Maturidiyyah Dirasatan wa Tahqiqan [Riyadh: Dar al-‘Ashimah], 1992, hal. 98).

Akhir Hayat Abu Manshur al-Maturidi

Para ulama ahli sejarah setuju Mempublikasikan bahwa Abu Manshur al-Maturidi wafat pada tahun 333 H. Abu Manshur al-Maturidi wafat pada usia kisaran 100 tahun dan dimakamkan di daerah Samarkand. Waktu pemakamannya bagian muridnya yang bernama Abu Qasim as-Samarkandi mecatat di batu nisan Abu Manshur al-Maturidi dengan sebuah pujian yang indah untuk sang guru

هذا قبر من جاز العلوم بأنفاسه، واستنفد الوسع في نشره وأقباسه فحمدت في الدين آثاره واجتنى من عمره ثماره


Ini ialah makam figur publik yang telah mencapai bermacam keilmuan dalam saban nafasnya, ia telah menghabiskan masanya untuk menyebarkan dan mempelajari ilmu. Maka, terpujilah jejak langkahnya dalam membela agama serta dipetiklah buah-buah karya dan jerih payah dari seluruh umurnya. (Ahmad bin Auwd al-Hazb, al-Maturidiyyah Dirasatan wa Tahqiqan [Riyadh: Dar al-‘Ashimah], 1992, hal. 97).

Muhammad Tholhah al Fayyadl, Maha siswa jurusan Ushuluddin Universitas al-Azhar Mesir, alumnus Pondok Pesantren Lirboyo

Abu Manshur al-Maturidi, Imam Aqidah Ahlusunnah wal Jama’ah – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *