Abu ‘Ubaidah bin Jarrah, Sahabat Nabi yang Wafat Terkena Wabah – Aspiratif News

Abu ‘Ubaidah bin Jarrah, Sahabat Nabi yang Wafat Terkena Wabah
Views: 2082
Read Time:5 Minute, 17 Second

Abu ‘Ubaidah bin Jarrah, Sahabat Nabi yang Wafat Terkena Wabah – Aspiratif News

Sayyidina Abu ‘Ubaidah bin Jarrah ialah bagian dari sepuluh sahabat yang dijanjikan masuk surga. Ia termasuk dalam al-sâbiqûnal awwalûn (orang-orang yang paling awal masuk Islam). Sayyidina Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menominasikannya jadi khalîfatur rasûl di Saqifah Bani Sa’idah. Imam al-Dzahabi mecatat:

وقال أبو بكر الصديق وقت وفاة رسول الله صلي الله عليه وسلم بسقيفة بني ساعدة: قد رضيت لكم أحد هذين الرجلين: عمر وأبا عبيدة


Terjemah bebas: “(Sayyidina) Abu Bakar berkata di waktu wafatnya (Sayyidina) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Saqifah Bani Sa’idah: ‘Sungguh saya ridha Anda seluruh (memilih) bagian dari 2 laki-laki ini: ‘Umar’ dan ‘Abu ‘Ubaidah’.” (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, Beirut: Muassasah al-Risalah, tt, juz 1, h. 8).


Jujur dan amanah Ialah kualitas yang melekat dalam diri Abu ‘Ubaidah bin Jarrah. Karena itu, Sayyidina Abu Bakar tidak ragu mencalonkannya sebagai bagian kandidat kuat penerus kepemimpinan Rasulullah. Dalam sebuah riwayat dikatakan:

قال رسول الله صلي الله عليه وسلم: إنّ لكلّ أُمّة أمينًا, وأمين هذه الأمّة أبو عبيدة بن الجرّاح


“Rasulullah bersabda: ‘Sesungguhnya di saban ummat Ada seorang yang dipercaya, dan orang yang dipercaya di ummat ini ialah Abu ‘Ubaidah bin Jarrah” (Imam al-Hafidz Abu Na’im al-Asbahani, Hilyah al-Auliyâ’ wa Thabaqât al-Ashfiyâ’, Kairo: Dar al-Hadits, 2009, juz 1, h. 154).


Ia meriwayatkan cukup banyak hadits, dan menyaksikan banyak Peperangan. Menurut Imam Ibnu Ishaq dan al-Waqidi, Abu Ubaidah termasuk dalam sahabat yang Turut berhijrah ke Habasyah (kâna miman hâjara ilâ ardlil habsyah), tapi tidak menetap lama di sana:

READ  Juru Bicara Prabowo Kritik Sikap Moeldoko Problem Kepulangan Habib Rizieq

إن كان هاجر إليها فإنه لم يطل بها اللبث


“Jika pun (Sayyidina) Abu Ubaidah berhijrah ke Habasyah, maka ia tidak menetap lama di sana.” (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, juz 1, h. 8).


Sayyidina Abu ‘Ubaidah digambarkan sebagai seorang yang berakhlak mulia, full kelembutan dan amat tawaddu’ (maushûfan bi husnil khuluqi wa bil hilmil zâ’id wat tawâdlu’). Sayyidina Umar bin Khattab amat menghormatinya, meski ia Ada di bawah kepemimpinannya. Dalam sebuah riwayat diceritakan:

أن عمرّ لقي أبا عبيدة، فصافحه وقبّل يده


“Sesungguhnya (Sayyidina) Umar berjumpa dengan Abu ‘Ubaidah, kemudian ia bersalaman dengannya dan mencium tangannya.” (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, juz 1, h. 15)


Khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu amat tersentuh melihat kehidupan Sayyidina Abu ‘Ubaidah bin Jarrah. Waktu ia berkunjung ke Syam, ia bertamu ke rumah Abu ‘Ubaidah bin Jarrah, dan ia tidak melihat harta benda yang berharga di rumahnya. Khalifah Umar berkata:

لَا أري إلّا لِبْدا وصحفة وشنًّا، وأنت أمير، أعندك طعام؟


“Saya tidak melihat (apa-apa) kecuali alas pelana, piring besar dan griba (wadah air kecil dari kulit), padahal engkau ialah gubernur (Syam). Apakah engkau mempunyai makanan?” (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, juz 1, h. 18).


Kemudian Sayyidina Abu ‘Ubaidah beranjak untuk mengambil keranjang yang berisi potongan roti. Sayyidina Umar menangis melihat itu, dan berucap:

READ  Salat Id di Masjid Raya Medan Masih Terapkan Tradisi Melayu Deli - Aspiratif News

غيرتْنا الدنيا كلّنا غيرك يا أبا عبيدة


“Dunia telah merubah kami semua selain engkau, wahai Abu ‘Ubaidah” (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, juz 1, h. 18).


sesudah berhasil memperluas wilayah di Syam dan sekitarnya, terjadilah wabah besar di Syam (thâ’ûn ‘amwâs, wabah Amwas). Khalifah Umar kuatir dan mengirimkan sebuah surat kepadanya agar ia cepat kembali. sesudah membaca surat tersebut, Sayyidina Abu ‘Ubaidah berkata, “Saya mengerti kebutuhan Amirul Mukminin, sesungguhnya ia ingin mengamankan kelangsungan hidup seseorang yang tidak abadi.” Kemudian Sayyidina Abu ‘Ubaidah membalas surat Khalifah Umar, ia mecatat:

إنّي قد عرفت حاجتك، فحلّلني من عزيمتك، فإني في جندٍ من أجناد المسلمين، لا أرغب بنفسي عنهم


Terjemah bebas: “Sungguh saya mengerti kebutuhanmu (menyuruhku kembali), maka bebaskan saya dari kekuasaanmu (mengundurkan diri dari jabatan). Karena saya bersama-sama Prajurit muslim (di sini), saya tidak ingin (berpisah) dari mereka” (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, juz 1, h. 18-19).


Membaca surat itu, Khalifah Umar menangis. Seseorang menanyakan kepadanya, “Apa Abu ‘Ubaidah telah meninggal?” Umar menjawab, “Tidak, tapi kematian dekat dengannya.” Beberapa waktu kemudian, Sayyidina Abu ‘Ubaidah wafat terkena wabah ‘Amwas. Banyak juga pasukannya yang meninggal. Imam al-Marwazi berkata:

زعموا أنّ أبا عبيدة كان في ستة وثلاثين ألفا من الجند، فلم يبق منهم إلا ستة آلاف رجل


Terjemah bebas: “Diperkirakan bahwa Abu ‘Ubaidah bersama-sama 36.000 Prajurit, (dan) tidak bertahan (hidup) kecuali (kisaran) 6000 orang” (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, juz 1, h. 18-19).

READ  Pesan Gus Yahya untuk Banser: Rapatkan Barisan Wahai Pejuang! - Warta Batavia


Argumentasi lain kenapa Sayyidina Abu Ubaidah tidak meninggalkan Syam (pusat wabah), karena ada hadits Nabi yang melarang orang-orang dari daerah wabah keluar. Rasulullah bersabda (HR Imam al-Bukhari dan Imam Muslim):

الطَّاعُونُ آيَةُ الرِّجْزِ ابْتَلَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ نَاسًا مِنْ عِبَادِهِ فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ فَلَا تَدْخُلُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَفِرُّوا مِنْهُ


“Thâ’ûn (wabah pengakit menular) ialah warning Allah ‘Azza wa Jalla untuk menguji hamba-hambaNya dari (golongan) manusia. Maka, jika Anda seluruh menguping penyakit (menular) itu (menjangkiti suatu daerah), janganlah Anda seluruh masuk (daerah) tersebut. Dan, jika penyakit itu menjangkit di suatu daerah, dan Anda seluruh Ada di dalamnya, maka jangan Anda seluruh lari darinya (keluar dari daerah tersebut).” (Imam Jalaluddin al-Suyuthi, Jâmi’ al-Ahâdîts: al-Jâmi’ al-Shaghîr wa Zawâ’idihi wa al-Jâmi’ al-Kabîr, Beirut: Dar al-Fikr, 1994, juz 6, h. 147)


Target dari larangan tersebut ialah, agar wabah tidak meluas sehingga sulit dikontrol dan dikendalikan. Jika orang-orang yang berasal dari pusat wabah keluar dari daerahnya, tidak menutup kemungkinan wabah akan kian luas penyebarannya.


Menurut Abu Hafsh al-Fallas, Sayyidina Abu ‘Ubaidah bin Jarrah radhiyallahu ‘anhu wafat pada tahun ke-18 Hijriah, di usia 58 tahun. (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, juz 1, h. 23).

Wallahu a’lam bish shawwab…

Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen

 

Abu ‘Ubaidah bin Jarrah, Sahabat Nabi yang Wafat Terkena Wabah – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *