Akhlak Bertabayun di Era Keterbukaan Informasi – Aspiratif News

Akhlak Bertabayun di Era Keterbukaan Informasi
Views: 947
Read Time:3 Minute, 49 Second

Akhlak Bertabayun di Era Keterbukaan Informasi – Aspiratif News

Akhlak yang baik atau akhlaqul karimah jadi pondasi penting orang-orang beragama. Akhlak ini berbasis nilai. Nilai Ialah sesuatu yang bersifat universal. Sehingga pada dasarnya, akhlak yang baik ada pada diri tiap-tiap orang beragama, tiap-tiap manusia. Apalagi ajaran Rasulullah full dengan teladan-teladan akhlak yang baik di tengah masarakat.


Membahas problem akhlak, globalisasi yang disertai dengan Pergantian sosial yang begitu cepat salah satunya berdampak pada pergeseran nilai sekaligus mendegradasi akhlak manusia. Akhlak dan budi pekerti yang luhur amat dibutuhkan untuk mengisi kehidupan masarakat.


Kian luhur akhlak seseorang, maka kian mantap kebahagiaannya. Sedemikian juga dengan masarakat, kian kompak anggota-anggotanya secara bersama-sama melaksanakan nilai-nilai akhlak yang disepakati bareng, maka kian bahagia masarakat tersebut.


Muhammad Quraish Shihab dalam Yang Hilang dari Kita: Akhlak (2017) menerangkan, para filsuf Yunani kuno menjunjung tinggi etika dan kemanusiaan. Langkah-langkah kaki mereka tidak pernah berhenti mencari ruang-ruang kehidupan manusia, dimana akhlak, etika, dan kemanusiaan dihidupkan.


Nurani amat terkait dengan Kemajuan akhlak luhur pada diri manusia. Layaknya pelita yang selalu menerangi, nurani Ialah pencerah hati dan perasaan manusia sehingga memungkinkan dirinya terhindar dari hal-hal negatif.

READ  Perkara Makar, Sofyan Jacob Batal Diperiksa karena Masih Sakit


Akan tetapi seperti ini, hati nurani bukan hasil dari pemikiran teoritis akliah. Tetapi ia lahir dari kerja perasaan yang dapat jadi tidak mudah untuk didefinisikan substansinya. Akan tetapi, tiap-tiap orang dapat merasakan hati nurani dan tidak mudah untuk mengabaikannya.


Akhlak juga berhubungan dengan kebaikan dan keburukan atau kejahatan. Keburukan atau kejahatan ialah lawan dari kebaikan. Ia meliputi 2 hal pokok, ke-1, sakit atau perih, baik jasmani maupun rohani, seperti musibah kebakaran atau tenggelam.

Ke-2, ialah yang menghantar pada sakit atau perih seperti kebodohan dan kedurhakaan. Keburukan dan kejahatan itu dapat jadi bersumber dari pihak lain dan dapat juga akibat ulah yang mengalaminya sendiri.


Quraish Shihab (2017: 57) mengungkapkan bagian doa yang diamalkan dan diajarkan Rasulullah waktu akan keluar rumah, ialah: “Ya Allah, kami memohon perlindungan-Mu sehingga kami tidak sesat, tidak juga disesatkan, tidak tergelincir atau digelincirkan, tidak menganiaya tidak juga dianiaya, serta tidak berbuat jahil (picik), tidak juga kami diperlakukan dengan picik.”


Doa tersebut mengisyaratkan kemungkinan terjadinya keburukan dan kejahatan akibat ulah pihak lain maupun ulah kita sendiri. Dalam konteks keterbukaan informasi dan Kemajuan teknologi, ditekankan akhlak bertabayun atau melakukan kroscek kebenaran ke informasi dan berita yang beredar, baik itu melalui media cetak, website, maupun media sosial.

READ  Waktu PSBB, BRI Hadirkan Servis Pembayaran Zakat Secara Daring - Aspiratif News


Dalam hal ini, Allah SWT dalam QS Al-Hujurat [49] ayat 6 memerintahkan manusia untuk senantiasa melakukan tabayun atau cek dan ricek.

“Hai orang-orang yang beriman, jika Datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka bersungguh-sungguhlah mencari kejelasan agar kamu tidak menimpakan suatu musibah ke suatu kaum tanpa pengetahuan yang menyebabkan kamu atas perbuatan kamu jadi orang-orang yang menyesal.” (QS Al-Hujurat: 6)


Tanpa usaha bertabayun terlebih dahulu, tidak terhitung orang-orang yang aktif di media sosial termakan oleh berita-berita palsu dan bohong. Agaknya pasar netizen yang mudah dibohongi makin marak, dampaknya seakan kebohongan dalam bentuk informasi jadi sebuah industri.


Lagi-lagi, di sinilah akhlak luhur wajib dikedepankan. Jikalau sebelum era digital langsung dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, waktu ini akhlak juga wajib dijunjung tinggi waktu berinteraksi di media sosial.


Quraish Shihab mengisahkan bahwa pada masa Nabi Saw, ada sekelompok orang yang menyebarkan rumor soal istri Nabi Muhammad SAW, Aisyah ra yang cukup meresahkan Nabi dan sahabat-sahabat karib beliau.


sesudah sebulan rumor itu berkembang, baru Allah SWT ayat-ayat yang membantah rumor tersebut sambil memberi pengajaran ke ummat bagaimana langkah yang wajib ditempuh jika tabayun tidak menghasilkan apa yang diinginkan atau bila rumor itu menyangkut orang yang selama ini dikenal baik.

READ  Tanggapi Hook, Mousavi: AS akan Berlutut di Depan Bangsa Iran - Aspiratif News


Allah berpesan dalam QS An-Nur [24]: 12 yang maksudnya di antaranya merilis bahwa mestinya sewaktu seseorang menguping rumor, selaku orang-orang mukmin dan mukminah wajib bersangka baik ke yang dicemarkan namanya itu. Karena yang dicemarkan namanya tersebut ialah sesama orang beriman.


Pada ayat 24 dalam surat di atas, Allah dengan jelas Memperingatkan bahwa orang-orang yang suka tersebarnya berita-berita yang mencemarkan dalam masarakat Islam, mereka itu akan ditimpa siksa yang pedih.


Krisis akhlak yang kian akut khususnya di kalangan generasi muda. Bangsa Indonesia, khususnya ummat Islam Penting memperhatikan tradisi keilmuan dan pendidikan di pesantren yang integratif antara akhlak, ilmu, dan amal.


Bahkan, pengembangan adab dan budi pekerti luhur amat ditekankan di pesantren sehingga lembaga pendidikan khas di Indonesia itu sanggup jadi benteng moral bagi generasi bangsa semenjak berabad-abad lalu sampai waktu ini.


 

Fathoni Ahmad, Redaktur Aspiratif News

Akhlak Bertabayun di Era Keterbukaan Info – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *