Aksi-Demonstrasi-Antirasisme-Di-AS-Terus-Memanas.jpg

Aksi Unjuk rasa Antirasisme Terus Memanas di AS

Diposting pada

Unjuk rasa Antirasisme Memanas di Kota-kota AS, Juga Dipicu Akibat Pandemi Virus Corona Berdampak ke Ekonomi dan Sosial

WASHINGTON – Unjuk rasa antirasial masih berlangsung di puluhan kota di Amerika Serikat (AS). Untuk ke-1 kalinya, Jacob Blake, lelaki kulit hitam yang ditembak di punggung oleh petugas kepolisian kulit putih di Wisconsin bulan lalu, berbicara ke publik Soal keadilan rasial.

Unjuk rasa itu berlangsung juga ditambah dengan dampak ekonomi dan sosial akibat pandemi virus corona yang mematikan 190.000 orang di AS. Unjuk rasa itu juga jadi tantangan berat bagi Presiden Donald Trump yang fokus dalam penegakkan hukum dan tatanan untuk dipilih kembali pada Pemilihan Umum 3 November yang akan datang.

Di New York, polisi menembakkan gas air mata ke para 2.000 demonstran di Rochester pada akhir Minggu lalu. Sembilan orang ditangkap dan 3 polisi cedera serta dirawat di RS sebab cedera waktu bentrok dengan aparat keamanan.

Wali Kota Rochester Lovely Warren membentuk tim intervensi krisis Famili dan cepat melaksanakan reformasi departemen kepolisian. “Saya berkomitmen untuk mengatasi tantangan dan menjamin Pergantian akan cepat terjadi,” kata Warren dikutip Reuters.

Baca Juga :  Kemensos distribusikan bantuan untuk pengungsi Merapi

Reformasi itu sesudah kematian seorang lelaki kulit hitam, Daniel Prude, di tahanan polisi pada Maret lalu. Tujuh polisi telah dicopot sebab insiden itu. Jaksa Agung New York Letitia James Mempublikasikan pembentukan dewan juri untuk menginvestigasi kematian lelaki berumur 41 tahun. Kematian Prude sejatinya 2 bulan sebelum aksi tembak George Floyd yang memicu aksi global.

“Kita mempunyai manusia yang memerlukan sokongan. Pada momen itu, kita mempunyai Peluang untuk melindunginya,” kata Warren. “Saya berkomitmen untuk melaksanakan apa pun yang dibutuhkan,” ujarnya.

Kerusuhan juga masih terjadi Portland, Oregon, memperingati unjuk rasa ke-100. Mereka melemparkan bom molotov ke arah aparat kepolisian yang membalas dengan serbuan gas air mata. Sebanyak 50 orang ditangkap polisi.

Sementara itu, Jacob Blake, lelaki kulit hitam yang ditembak tujuh kali oleh seorang polisi kulit putih di negara bagian Wisconsin, AS, bulan lalu, menjelaskan dalam sebuah video yang diupload di internet bahwa dia terus menerus merasa kesakitan.

Blake, yang menurut Famili, kemungkinan sekarang lumpuh dari pinggang ke bawah, juga menyampaikan ujaran full harapan dan menjelaskan “perjalanan hidup masih panjang”.

Baca Juga :  Trending Tagar #PecatTengkuzulDariMUI, Desak MUI Pecat Tengku Zul

lelaki berumur 29 tahun itu ditembak di punggungnya waktu dia ditangkap polisi. Kejadian tersebut kembali memicu protes antirasisme dan tindakan brutal aparat kepolisian di AS. Aksi aksi anarkis pecah di sejumlah protes di Kenosha, kota tempat Blake ditembak, dan berujung pada 2 orang meninggal. Investigasi atas aksi tembak Blake terus berlanjut.

Dalam sebuah video yang diupload ke Twitter oleh pengacara keluarganya, Blake yang masih di ranjang RS, berbicara mengenai hal rasa sakit dideritanya. (qa/ummatina/AHM/sindonews))

Aksi Unjuk rasa Antirasisme Terus Memanas di AS

Aksi Unjuk rasa Antirasisme Terus Memanas di AS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *