343-ilustrasi_tim_densus_88_antiteror-718x452-696x428.jpg

Alhamdulillah! Ditangkap Densus 88, Ini Keahlian Zulkarnaen Buron Teroris Bom Bali I

Diposting pada
Ilustrasi Tim Densus 88 Antiteror( foto: Istimewa)

Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror menangkap buron teroris Zulkarnaen alias Aris Sumarsono alias Daud alias Zaenal Arifin alias Abdulrahman. Zulkarnaen setelah 18 tahun jadi buron.

“Telah dilakukan penangkapan tanpa perlawanan terhadap tersangka (DPO) Zulkarnaen alias Aris Sumarsono alias Daud alias Zaenal Arifin alias Abdulrahman pada hari Kamis, 10 Desember 2020, pukul 19.30 WIB di Kabupaten Lampung Timur, Lampung,” kata Kadiv Humas Polri, Irjen Argo Yuwono seperti dikutip dari detikcom, Sabtu (12/12/2020).

Lebih lanjut, Argo mengungkapkan Zulkarnaen merupakan buron teroris Bom Bali I. Saat itu, Zulkarnaen merupakan panglima askari (kelompok bersenjata) Jamaah Islamiyah (JI).

“Zulkarnaen adalah panglima askari Jamaah Islamiyah ketika Bom Bali I. Dia yang membuat unit khos yang kemudian terlibat bom Bali serta konflik-konflik di Poso dan Ambon. Unit khos itu sama dengan special task force,” imbuhnya.

Tim Densus 88 juga menggeledah rumah Zulkarnaen. Saat ini Zulkarnaen masih diperiksa intensif.

“Saat ini masih diperiksa,” ujarnya.

Zulkarnaen disebut-sebut memiliki kemampuan lengkap. Mulai merakit bom, ahli fisika (untuk meramalkan efek ledakan), dan ahli kimia untuk menciptakan bahan-bahan bom, termasuk kemampuan merekrut pengikut, sehingga figurnya sangat ditokohkan.

Baca Juga :  Kapolri Sebut Tilang Elektronik Cegah Polisi Salah Gunakan Wewenang

Zulkarnaen, yang juga punya nama lain Daud alias Arif Sunarso, diduga berperan sebagai penanggung jawab seluruh operasi teror JI. Dia juga Ketua Dewan Askari atau pimpinan kelompok bersenjata Jamaah Islamiyah, namun dia bukanlah eksekutor lapangan, melainkan penanggung jawab aksi teror.

Ditengarai beberapa aksi peledakan bom yang mendapatkan restu Zulkarnaen antara lain Bom Bali I pada 2002 yang menewaskan 202 orang. Juga peledakan bom di Hotel JW Marriott pada 2003, serta peledakan bom di Kedutaan Besar Australia, Jakarta, pada September 2004.

(Warta Batavia)

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *