wakil-ketua-mui-minta-masyarakat-tak-terprovokasi-polemik-film-naura-genk-juara-1.jpg

Alhamdulillah! Ini Kata PBNU Soal Tersingkirnya Komplotan 212 dari MUI

Diposting pada
Kiai Masduki Baidlowi (©2017 Merdeka.com)

Gerbong 212 tidak masuk dalam formatur kepengurusan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Masduki Baidlowi, menepis persepsi adanya penyingkiran gerbong PA 212 dari kepengurusan MUI 2020-2025.

Menurutnya, tim formatur tidak memandang apakah calon pengurus yang dipertimbangkan adalah anggota PA 212 atau bukan.

“Tidak ada unsur kesengajaan menyingkirkan ini dan itu,” kata Masduki kepada detikcom, Sabtu (28/11/2020).

Lebih lanjut, Wakil Sekretaris Jenderal PBNU ini mengungkapkan, MUI adalah organisasi yang terdiri dari perwakilan ormas-ormas Islam, baik ormas besar maupun ormas kecil. Semuanya diakomodasi dalam kepengurusan.

Baca: Resmi! Din Syamsuddin dan Geng 212 Dicoret dari Kepengurusan MUI 2020-2025

Tim formatur terdiri dari perwakilan ormas-ormas, perguruan tinggi, pesantren, perwakilan petahana, dan perwakilan zona. Ada tujuh zona yang masing-masing mengajukan satu formatur. Berikut adalah tujuh zona itu.

Selanjutnya, tujuh zona perwakilan untuk tim formatur MUI:

Zona 1: Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Kepulauan Riau
Zona 2: Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu, Jambi, dan Bangka Belitung
Zona 3: Banten, Jawa Barat, DKI, DIY, Jawa Tengah
Zona 4: Jawa Timur, Bali, NTB, NTT
Zona 5: Kaltara, Kaltim, Kalteng, Kalsel, Kalbar
Zona 6: Seluruh Sulawesi
Zona 7: Maluku Utara, Mauku, Papua, Papua Barat

Baca Juga :  Jokowi Juga Akan Lantik Wamen Pagi Ini, Berikut Nama-Nama yang Beredar

Berdasarkan mufakat yang dicapai ormas-ormas, perwakilan tujuh zona, unsur perguruan tinggi, dan pesantren, maka Kepengurusan MUI untuk periode 2020-2025 telah terbentuk. Ketua Umum MUI adalah KH Miftachul Akhyar.

Gerbong PA 212 yang hilang dari kepengurusan MUI yang baru antara lain Din Syamsuddin, Tengku Zulkarnain, Bachtiar Nasir, hingga Yusuf Muhammad Martak. Hal ini menjadi pembahasan politikus parpol. Tengku Zulkarnaen sendiri sudah menanggapi dengan legowo.

“Kan harus ada regenerasi. Kalau saya merasa cukuplah, 10 tahun jadi wasekjen sudah cukup lama. Jadi saya pikir cukuplah, apalagi saya kan tidak dari organisasi besar awalnya, seperti MUI dan Muhammadiyah,” kata Tengku Zul ketika dihubungi, Jumat (27/11).

Din Syamsuddin juga sudah menanggapi. Dirinya tidak lagi menjabat dalam pengurusan MUI karena tidak bersedia. Din juga mengklarifikasi bahwa dirinya bukan anggota 212.

“Saya pribadi tidak terlibat pada gerakan 212. Dan saya tidak masuk dalam kepengurusan baru adalah karena saya tidak bersedia. Sebelum Munas MUI, saya sudah sampaikan di dalam Rapat Pleno terakhir Dewan Pertimbangan MUI pada 18 November 2020 bahwa saya ingin berhenti dari keaktifan MUI,” kata Din saat dihubungi detikcom, Jumat (27/11) kemarin.

Baca Juga :  Sekjen-Dirjen Kemensos Akui Terima Sepeda Brompton!

(Warta Batavia)

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *