Radikalisme-696x387.jpg

Alhamdulillah! Potensi Radikalisme di Indonesia Menurun Selama Pandemi COVID-19

Diposting pada
Ilustrasi, foto: spesial

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Boy Rafli Amar mengungkapkan, potensi radikalisme di Indonesia pada 2020 tergolong rendah.

Pernyataan ini berdasarkan survei yang dilakukan BNPT bersama Alvara Research dan Yayasan Nasaruddin Umar saat bertemu dengan Komisi III DPR RI, di kompleks DPR / MPR, Jakarta, Senin (22/3/2021).

Dikutip dari detik.com, Boy awalnya memberitakan bahwa indeks global terorisme Indonesia di dunia pada tahun 2020 berada di peringkat ke-37. Ini memposisikan Indonesia, kata dia, sebagai negara yang masuk dalam kategori kendaraan yang terkena terorisme.

“Pada tahun 2020 Global Terrorism Index akan mempublikasikan hasil survei yang menjelaskan bahwa Indonesia berada di peringkat ke-37 atau lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Posisi tersebut menjelaskan bahwa Indonesia berada pada kategori menengah negara terdampak terorisme,” ungkapnya. Komite RI DPR. Aku, aku, aku

Selain itu, Boy mengatakan Indonesia juga merupakan negara yang lebih aman dari radikalisme dan terorisme dibandingkan Filipina, Thailand, dan Myanmar di tingkat regional. Hal ini, kata dia, terlihat dari tren penurunan radikalisme di Indonesia.

Baca Juga :  Gugat AD/ART Demokrat, Kubu Moeldoko Minta Ganti Rugi Rp100 M

“Di tingkat regional di Asia Tenggara, Indonesia bahkan lebih aman dibanding Filipina, Thailand, dan Myanmar,” ujarnya.

Boy kemudian mengungkapkan jajak pendapat BNPT yang menunjukkan bahwa tren radikalisme di Indonesia pada tahun 2020 menurun hingga 14%. Menurutnya, ini bisa digolongkan sebagai potensi radikalisme yang sangat rendah di Indonesia.

“Tren potensi radikalisme di Indonesia mengalami penurunan sejak 2017 sebesar 55,2% atau berada pada kategori sedang, pada tahun 2019 kategori rendah sebesar 38,4% dan pada tahun 2020 menjadi kategori sangat rendah sebesar 14%,” ujarnya. .

Meski tren potensi radikalisme di Indonesia sedang memudar, Boy mengatakan masih perlu mewaspadai ancaman global. Pasalnya, menurutnya, penyebaran radikalisme kini sudah lewat dari media online.

“Hal ini menunjukkan bahwa pada masa pandemi COVID-19 potensi radikalisme cenderung menurun, justru menurun, namun secara global kita perlu tetap waspada karena banyak penyebaran terorisme radikal melalui media online,” ujarnya.

(Warta Batavia)

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *