Antara Islam Masuk dan Menyebar di Nusantara – Aspiratif News

Antara Islam Masuk dan Menyebar di Nusantara
Views: 1508
Read Time:6 Minute, 36 Second

Antara Islam Masuk dan Menyebar di Nusantara – Aspiratif News

Pada umumnya kehadiran Islam dan cara menyebarkannya ke golongan bangsawan maupun rakyat umum Dilakukan dengan cara damai, melalui perdagangan sebagai Sarana dakwah oleh para mubaligh atau orang-orang ‘alim. Kadang-kadang pula golongan bangsawan menjadikan Islam sebagai alat politik untuk mempertahankan atau mencapai kedudukannya, khususnya dalam mewujudkan suatu kerajaan Islam.


Kehadiran Islam di bermacam daerah di Indonesia tidak Hadir secara bersamaan. Sedemikian pula dengan kerajaan-kerajaan dan daerah yang didatanginya, ia mempunyai situasi politik dan sosial budaya yang berlainan. Pada waktu kerajaan Sriwijaya mengembangkan kekuasaannya pada kisaran abad ke-7 dan ke-8, Selat Malaka sudah mulai dilalui oleh para pedagang Muslim dalam pelayarannya ke negeri-negeri di Asia Tenggara dan Asia Timur.


menurut berita Cina zaman T’ang pada abad-abad tersebut, Disangka masarakat Muslim telah ada, baik di Kanfu (Kanton) maupun di daerah Sumatra sendiri. Kemajuan pelayaran dan perdagangan yang bersifat internasional antara negeri-negeri di Asia bagian barat atau timur mungkin dikarenakan oleh aktifitas kerajaan Islam di bawah Bani Umayah di bagian barat maupun kerajaan Cina zaman dinasti T’ang di Asia Timur serta kerajaan Sriwijaya di Asia Tenggara.


Menjelang abad ke-10 para pedagang Islam telah menetap di pusat-pusat perdagangan yang penting di kepulauan Indonesia, khususnya di pulau-pulau yang terletak di Selat Malaka, terusan sempit dalam rute pelayaran laut dari negeri-negeri Islam ke Cina. 3 abad kemudian, menurut dokumen-dokumen sejarah tertua, permukiman orang-orang Islam didirikan di Perlak dan Samudra Pasai di Timur Laut pantai Sumatera.


Saudagar-saudagar dari Arab Selatan semenanjung tanah Arab yang melakukan perdagangan ke tanah Melayu kisaran 630 M (tahun ke-9 Hijriah) telah menemui bahwa di sana banyak yang telah memeluk Islam. Hal ini membuktikan bahwa Islam telah masuk ke Indonesia semenjak abad-abad ke-1 Hijriah, atau kisaran abad ke-7 dan ke-8 Masehi yang dibawa langsung oleh saudagar dari Arab.


Dengan sedemikian, Islam telah tiba di tanah Melayu kisaran tahun 630 Masehi tatkala Nabi Muhammad SAW masih hidup. Akan tetapi, di sini mesti dibedakan antara Islam mulai masuk dan menyebar ke Nusantara. Karena belum tentu waktu Islam masuk kemudian langsung disebarkan. Pada masa seterusnya, Islam dengan ajaran-ajarannya mulai disebarkan oleh para pendakwah sufi (Wali Songo) pada tahun 1400-an masehi.

READ  Waktu kiai Dahlan (Pendiri Muhammadiyah) Diteriaki “kiai Sesat” - Warta Batavia


Penjelasan lebih detail soal masuknya Islam ke Indonesia ditemukan pada berita dari Marcopolo, bahwa pada tahun 1292 ia pernah singgah di bagian utara daerah Aceh dalam perjalanannya dari Tiongkok ke Persia melalui laut. Di Perlak ia menjumpai penduduk yang telah memeluk Islam dan banyak para pedagang Islam dari India yang giat menyebarkan agama itu.


Para pedagang Muslim jadi penyokong daerah-daerah Islam yang muncul kemudian, dan daerah yang merilis dirinya sebagai kerajaan yang bercorak Islam ialah Samudra Pasai di pesisir timur laut Aceh. Munculnya daerah tersebut sebagai kerajaan Islam yang ke-1 diperkirakan mulai abad ke-13.

 

Hal itu dimungkinkan dari hasil proses Islamisasi di daerah-daerah pantai yang pernah disinggahi para pedagang Muslim semenjak abad ke-7. Sultan yang ke-1 dari kerajaan Islam Laut Pasai ialah Sultan Malik al-Saleh yang memerintah pada tahun 1292 sampai 1297.


Sultan ini kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Sultan Muhammad Malik az-Zahir. Kerajaan Islam Samudra Pasai jadi pusat studi agama Islam dan meru pakan tempat berkumpul para ulama Islam dari bermacam negara Islam untuk berdis kusi soal masalah-masalah keagamaan dan problem keduniawian.


menurut berita dari Ibnu Batutah, seorang pengembara asal Maroko yang mengunjungi Samudra Pasai pada 1345, dikabarkan bahwa pada waktu ia mengunjungi kerajaan itu, Samudra Pasai Ada pada puncak kejayaannya.


Dari catatan lain yang ditinggal Ibnu Batutah, dapat diketahui bahwa pada masa itu kerajaan Samudra Pasai Ialah pelabuhan yang amat penting, tempat kapal-kapal Datang dari Tiongkok dan India serta dari tempat-tempat lain di Indonesia, singgah dan berjumpa untuk memuat dan membongkar barang-barang dagangannya.


Kerajaan Samudra Pasai makin berkembang dalam bidang agama Islam, politik, perdagangan, dan pelayaran. Hubungan dengan Malaka makin ramai, sehingga di Malaka pun semenjak abad ke-14 timbul corak masarakat muslim. Kemajuan masarakat muslim di Malaka makin lama makin meluas dan akhirnya pada awal abad ke-15 berdiri kerajaan Islam Malaka.

READ  KPK Rekonstruksi Ulang Penerimaan Perkara Sogok Anggota DPR


Para penganut agama Islam diberi hak-hak istimewa, bahkan telah dibangunkan sebuah masjid untuk mereka. Para pedagang yang singgah di Malaka kemudian banyak yang menganut agama Islam dan jadi penyebar agama Islam ke seluruh kepulauan Nusantara, tempat mereka menggelar transaksi perdagangan.


Kerajaan Malaka ke-1 kali didirikan oleh Paramisora pada abad ke-15. Menurut cerita, sesaat sebelum meninggal dalam tahun 1414, Paramisora masuk Islam, kemudian berganti nama jadi Iskandar Syah. Seterusnya, kerajaan Malaka dikembangkan oleh putranya yang bernama Muhammad Iskandar Syah (1414-1445). Pengganti Muhammad Iskandar Syah ialah Sultan Mudzafar Syah (1445-1458).


Di bawah pemerintahannya, Malaka jadi pusat perdagangan antara Timur dan Barat, dengan kemajuan-kemajuan yang amat cepat, sehingga jauh meninggalkan Samudra Pasai. Usaha mengembangkan Malaka sampai mencapai puncak kejayaannya Dilakukan oleh Sultan Mansyur Syah (1458-1477) sampai pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Syah (1477-1488).


Sementara itu, kehadiran pengaruh Islam ke wilayah Indonesia bagian timur (Sulawesi dan Maluku) tidak dapat dipisahkan dari jalur perdagangan yang terbentang antara pusat lalu lintas pelayaran internasional di Malaka, Jawa, dan Maluku. Menurut tradisi setempat, semenjak abad ke-14, Islam telah sampai ke daerah Maluku. Disebutkan bahwa kerajaan Ternate ke-12, Molomateya (1350-1357), bersahabat karib dengan orang Arab yg memberinya petunjuk dalam pembuatan kapal, tetapi agaknya tidak dalam kepercayaan.


Pada masa pemerintahan Marhum di Ternate, datanglah seorang raja dari Jawa yang bernama Maulana Malik Husayn yang memperlihatkan kemahiran mecatat huruf Arab yang ajaib seperti yang tertulis dalam Alquran. Hal ini amat menarik hati Marhum dan orang-orang di Maluku.


Lalu, ia diminta oleh mereka agar mau mengajarkan huruf-huruf yang indah itu. Sebaliknya, Maulana Malik Husayn mengusulkan permintaan, agar mereka tidak cuma mempelajari huruf Arab, melainkan pula diharuskan mempelajari agama Islam. Demikianlah Maulana Malik Husayn berhasil mengislamkan orang-orang Maluku. Raja Ternate yang dianggap sungguh-sungguh memeluk Islam ialah Zainal Abidin (1486-1500).

READ  Membuka Toko dan Tempat Usaha, Ini Doa Ijazah Habib Umar Yaman - Warta Batavia


Dari ketiga pusat aktifitas Islam itulah, maka Islam menyebar dan meluas masuk pelosok-pelosok kepulauan Nusantara. Penyebaran yang nyata terjadi pada abad ke-16. Dari Malaka, daerah Kampar, Indragiri, dan Riau jadi Islam. Dari Aceh, Islam meluas sampai ke Minangkabau, Bengkulu, dan Jambi. Diawali semenjak dari Demak, maka sebagian besar Pulau Jawa telah menganut agama Islam.


Banten yang diislamkan oleh Demak meluaskan dan menyebarkan Islam ke Sumatera Selatan. Di Kalimantan, kerajaan Brunei yang pada abad ke-16 jadi Islam, meluaskan penyebaran Islam di bagian barat Kalimantan dan Filipina. Adapun Kalimantan Selatan memperoleh pengaruh Islam dari daratan Jawa.


Dari Ternate makin meluas meliputi pulau-pulau di seluruh Maluku serta daerah pantai timur Sulawesi. Pada abad ke-16 di Sulawesi Selatan berdiri kerajaan Goa. Demikianlah pada akhir abad ke-16 dapat dikatakan bahwa Islam telah tersebar dan mulai meresapkan akar-akarnya di seluruh Nusantara.


Meresapnya Islam di Indonesia pada abad ke-16 itu bersamaan pula dengan ditanamkannya benih-benih agama Katolik oleh orang-orang Portugis. Bangsa Portugis ini dikenal sebagai penentang Islam dan pemeluk agama Katolik fanatik. Maka, di saban tempat yang mereka datangi, di sanalah mereka berusaha memperoleh daerah tempat persemaian bagi agama Katolik. Hal ini menurut tanggapan mereka Ialah suatu tugas dan kewajiban yang memperoleh dorongan dari pengalaman mereka berhadapan dengan Islam di negeri mereka sendiri.


Tatkala pertahanan Islam terakhir di Granada jatuh pada 1492, maka dalam usaha mereka mendesak agama Islam sejauh mungkin dari Spanyol dan Portugis, mereka memperluas gerakannya sampai Timur Tengah yang waktu itu jadi daerah perantara perdagangan rempah-rempah yang menghubungkan Timur dengan Barat.


Timbullah kemudian suatu hasrat dalam jiwa dagang mereka untuk berusaha sendiri memperoleh rempah-rempah yang jadi pokok perdagangan waktu itu langsung dari daerah penghasilnya (Nusantara). Dengan sedemikian, mereka tidak akan Mengandalkan lagi ke pedagang-pedangan Islam di Timur Tengah.


 

Fathoni Ahmad, Redaktur Aspiratif News

Antara Islam Masuk dan Menyebar di Nusantara – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *