Apakah Tetap Wajib Shalat Jumat bagi Mereka yang Telah Shalat Id? – Aspiratif News

Apakah Tetap Wajib Shalat Jumat bagi Mereka yang Telah Shalat Id?
Views: 15
Read Time:3 Minute, 59 Second

Apakah Tetap Wajib Shalat Jumat bagi Mereka yang Telah Shalat Id? – Aspiratif News

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Redaksi Aspiratif News, hari raya idul adha pada tahun 2020 ini bersesuaian dengan hari Jumat. Adapun sebagian orang seperti masyarakat pedalaman boleh meninggalkan shalat Jumat karena telah shalat id pada pagi harinya. Mohon penjelasannya atas problem ini? Terima kasih. (Abdul Fatah/Bogor).

Respon

Penanya yang budiman, semoga dirahmati Allah SWT. Pada tahun 2020 ini, kita mendapati hari raya idul adha bersesuaian dengan hari Jumat. Adapun Pelaksanaan shalat id mempunyai kemiripan dengan Pelaksanaan shalat Jumat.


Dalam hadits, kita mendapati keringanan (rukhshah) atas kewajiban shalat Jumat bagi orang pedalaman yang ikut datang Pelaksanaan shalat id di kota pada pagi hari. Hadits rukhshah ini diriwayatkan oleh Zaid bin Arqam berikut ini:

قال: صَلَّى الْعِيْدَ ثُمَّ رَخَصَ فِي الْجُمْعَةِ، فَقَالَ: مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُصَلِّ 


Artinya, “Rasulullah menjalankan shalat Id lalu memberikan keringanan (rukhshah) perihal tidak ikut shalat Jumat. Rasulullah lalu bersabda, ‘Siapa yang ingin shalat Jumat, silakan!’” (HR Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ad-Darimi, Ibnu Khuzaimah, dan Al-Hakim).


Dari hadits ini, ulama dari mazhab syafi’i lalu berpendapat bahwa agama memberikan keringanan bagi masyarakat pedalaman yang telah bersusah payah ikut datang Pelaksanaan shalat id pada pagi hari untuk kembali ke kediaman mereka di pedalaman tanpa Penting kembali lagi untuk ikut shalat Jumat pada siang harinya.

READ  Cerita Tobatnya Seorang Pembunuh, Diterima atau Ditolak? - Aspiratif News

إذا وافق يوم العيد يوم جمعة وحضر أهل القرى الذين يبلغهم  لصلاة العيد وعلموا أنهم لو انصرفوا لفاتتهم الجمعة فلهم أن ينصرفوا ويتركوا الجمعة في هذا اليوم على الصحيح المنصوص في القديم والجديد وعلى الشاذ عليهم الصبر للجمع


Artinya, “Bila hari Id berbarengan dengan hari Jumat–sementara masyarakat pedalaman yang sampai ke mereka untuk shalat id itu mengadiri shalat id serta mereka mengerti bila bergeser ke pedalaman (kembali) akan luput dari shalat Jumat–maka mereka boleh bergeser semenjak pagi dan boleh meninggalkan shalat Jumat pada hari tersebut menurut pandangan shahih yang tersebut nashnya pada qaul qadim dan jaded. Tetapi menurut qaul syadz yang tidak umum, mereka wajib bersabar menahan diri untuk ikut datang gabungan keduanya (shalat id dan Jumat),” (Imam An-Nawawi, Raudhatut Thalibin wa ‘Umdatul Muftin, [Beirut, Darul Fikr: 2005 M/1425-1426 H], juz II, halaman 9-10).


Pandangan Mazhab Syafi’i ini juga dapat kita temukan dari Penjelasan Imam As-Sya’rani berikut ini:

ومن ذلك قول الشافعي إذا وافق يوم العيد يوم جمعة فلا تسقط صلاة الجمعة بصلاة العيدعن أهل البلد بخلاف أهل القرى إذا حضروا فإنها تسقط عنهم ويجوز لهم ترك الجمعة والإنصراف


Artinya, “Salah satunya ialah pandangan Imam As-Syafi’i, ‘Jika hari Id berbarengan dengan hari Jumat, maka kewajiban shalat Jumat tidak gugur dari masyarakat kota dengan sebab Pelaksanaan shalat id. Lain halnya dengan masyarakat pedalaman, bila mereka ikut datang shalat Id, maka kewajiban shalat Jumat gugur dari mereka. Mereka boleh meninggalkan Jumat dan bergeser ke kediaman mereka di pedalaman’” (Imam As-Sya’rani, Al-Mizanul Kubra, [Beirut, Darul Fikr: 1981 M/1401 H], juz I, halaman 202).

READ  Teroris ISIS Lancarkan Serbuan Sengit, Beberapa prajurit Relawan Irak Terbunuh - Aspiratif News


As-Sya’rani menambahkan bahwa ada pandangan lain yang lebih berat dan bahkan lebih ringan tatkala hari raya id dan hari Jumat berbarengan di hari yang sama. Imam Abu Hanifah mewajibkan shalat Jumat bagi masyarakat kota dan masyarakat pedalaman.


Ahmad bin Hanbal merilis ketidakwajiban shalat Jumat bagi masyarakat kota dan masyarakat pedalaman. Kewajiban shalat Jumat telah gugur sebab Pelaksanaan shalat id pada pagi hari. Penduduk kota dan pedalaman dapat menggantinya dengan shalat zuhur. Sementara Imam Atha menerangkan, kewajiban shalat Jumat atau shalat zuhur telah gugur sehingga sesudah Pelaksanaan shalat Id tidak ada shalat lain selain ashar.


Pandangan As-Syafi’i meringankan orang pedalaman. Pandangan Abu Hanifah membebani orang kota dan orang pedalaman. Pandangan Ahmad bin Hanbal meringankan orang kota dan orang pedalaman. Pandangan Imam Atha amat meringankan orang kota dan orang pedalaman. Tetapi pilihan atas pelbagai pandangan itu dikembalikan pada pertimbangan yang proporsional. (As-Sya’rani, 1981 M/1401 H: I/202).


Dalam konteks Indonesia, khususnya di pulau Jawa, di mana nyaris tiap-tiap desa mempunyai masjid yang menyelenggarakan Jumat, maka konsep masyarakat kota dan masyarakat pedalaman yang sulit mengakses masjid karena problem jarak atau geografis yang menyulitkan dalam kajian fiqih tidak kontekstual pada sebagian besar daerah di Indonesia.

READ  Politisi Irak Menyebut Negaranya Aman Berkat Jasa al-Hashd al-Shaabi - Aspiratif News


Dengan sedemikian, kita dapat mengembalikan shalat idul adha dan shalat Jumat pada hukum asalnya. Kita tetap melaksanakan shalat sunnah idul adha dan shalat Jumat yang wajib.


Sedemikian respon singkat kami. Semoga dapat dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan anjuran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 


(Alhafiz Kurniawan)

Apakah Tetap Wajib Shalat Jumat bagi Mereka yang Sudah Shalat Id? – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *