FPI..-696x464.jpg

Arogansi Berbalut Agama | The Truly Islam

Diposting pada
Ilustrasi

Saya tidak menganggap ormas itu ada secara yuridis (kalau zaman Suharto bisa disebut OTB yaitu Organisasi Tanpa Bentuk), karena sudah sejak Juni 2019 izinnya sudah kadaluarsa dan tidak diperpanjang hingga sekarang. Tapi anehnya ketika saya menulis ormas itu layak dibubarkan karena tingkah polah yang menyebalkan, mereka marah lalu mengerahkan kekuatan mereka se-Bogor raya bergerak ingin menggeruduk pesantren saya.

Untunglah Ansor dan Banser se-Bogor Timur merapat dan gelar pasukan. Nyali mereka pun kempes dan Polsek Cileungsi turun tangan memediasi kesepakatan damai.

Kata mereka, postingan saya sudah dua tahun dipantau dan dianggap selalu menyindir mereka. Mereka pun menganggap saya banyak followernya, di mana sebagiannya banyak kalangan aktivis dan intelektual berpengaruh di negeri ini. Jadi mereka takut tulisan saya ini menjadi trigger (pemicu) yang akan merugikan mereka.

Padahal sejatinya tulisan-tulisan saya tidak pernah menggunakan menggunakan bahasa-bahasa sarkastik yang jauh dari kesopanan. Hal yang amat disayangkan, mereka menganggap sindiran atau kritik sebagai suatu penghinaan. Sejak kapan kritik atau sindiran itu identik dengan penghinaan?

Baca Juga :  Pengamat Intelejen dan Terorisme: Aksi Bom Bunuh Diri Makasar Dilakukan JAD

Dalam uraian ini sengaja saya tidak mau menyebutkan nama ormas tersebut. Dikarenakan Saya sudah berjanji untuk tidak menyebut nama ormas itu dalam kesepakatan damai, selain itu pula karena memang tidak sesuai dengan hati dan akal sehat saya. Semua orang juga bisa menyaksikan sendiri tindak tanduk mereka yang seringkali tidak sesuai dengan identitas Islam yang dibawa-bawa oleh mereka.

Saya berharap mereka mau berubah menjadi ormas Islam yang santun, penuh kasih sayang membina umat dan bekerja sama membangun negeri agar lebih baik. Mengkritik pemerintah boleh dan bukan suatu kesalahan, asalkan tidak disertai caci maki. Lalu segera menghentikan klaim umat islam sekarang sedang dizholimi.

Mereka merasa mewakili umat Islam di Indonesia. Padahal mayoritas umat Islam di tanah air tidak pernah merasa diwakili oleh mereka yang jumlahnya masih minoritas (menurut hasil survei 2019, jumlah mereka cuma 0,4% dari jumlah penduduk di Indonesia). Anehnya, warga NU dan Muhammadiyah yang mayoritas di negeri ini sendiri tidak merasa dizholimi oleh pemerintahan Jokowi.

Baca Juga :  FPI Resmi Dibubarkan, Sejumlah Laskar Ditangkap di Petamburan

Jadi, umat Islam yang dizolimi sebagaimana yang mereka maksud adalah golongan mereka sendiri. Tapi sejauh mana mereka diperlakukan secara zhalim, sementara mereka masih bebas berdakwah dengan bumbu caci maki, juga bebas berdemo, asalkan tertib dan tidak anarkis. Mana ada hal demikian ditemukan pada masa Orde Baru di bawah pimpinan Soeharto, yang sering disebut-sebut lebih enak dan lebih baik daripada sekarang. Saya mengalami sendiri zaman pemerintahan Suharto, bagaimana banyak umat Islam yang ditindas, ditembaki, disiksa, dijebloskan ke penjara hanya karena menentang kebijakan Soeharto.

Jangan pula menganggap ulama-ulama dikriminalisasi. Padahal mereka yang diproses hukum dan dijebloskan ke penjara adalah mereka yang terbukti melakukan penganiayaan, caci maki dan penghinaan terhadap NU dan ulamanya, serta melecehkan simbol-simbol negara. Semoga di tahun 2021 negara kita lebih damai, aman, maju, bermartabat dan berdaulat. Aamiin ya Mujibas saailiin

Sumber: FB Ustad Cep Herry Syarifuddin

(Warta Batavia)

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *