FPI-a.jpeg

Astaghfirullah! Terciduk Terima Dana Luar Negeri, FPI Antek Asing?

Diposting pada

Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mendeteksi ada arus lalu lintas keuangan lintas negara terkait rekening Front Pembela Islam (FPI). Hal itu disampaikan langsung oleh Kepala PPATK Dian Ediana Rae, setelah rekening FPI diblokir. Pertanyaannya, dengan adanya aliran dana dari luar negeri tersebut, mungkinkah FPI itu antek asing?

Sebagaimana diketahui, pemblokiran rekening FPI itu seiring dengan kebijakan pemerintah yang telah melarang dan membubarkan organisasi tersebut. Keputusan itu termaktub dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) yang ditandatangani enam Kementerian dan Lembaga Tinggi Negara pada 30 Desember 2020. Terhitung sejak 4 Januari, PPATK telah memblokir sementara rekening milik FPI dan afiliasinya di berbagai bank nasional, yang jumlahnya mencapai 92 rekening dan telah menerima aliran dana dari luar negeri.

Dengan banyaknya jumlah rekening FPI dan kenyataan bahwa FPI telah menerima aliran dana luar negeri, maka di sini kita jadi bertanya-tanya, apakah mungkin FPI itu antek asing? Jika melihat sepak terjang FPI yang kerap melakukan tindakan kontroversi, maka kita memang patut curiga. Curiga, bahwa FPI benar antek asing. Antek asing yang ditugaskan untuk melakukan provokasi, memecah belah umat, dan memainkan politik adu domba (devide et impera).

Baca Juga :  Ketika Teologi Bencana Masih Disalahgunakan untuk Kepentingan Politik

Sebagaimana disebut Abdul Wahab Jamil dalam buku Manajemen Konflik Keagamaan (2014), bahwa FPI kerap dikritik berbagai pihak karena main hakim sendiri yang berujung pada perusakan hak milik orang lain. Rangkaian aksi penutupan tempat perjudian, pelacuran, klub malam, ancaman terhadap warga negara tertentu, sweeping warga negara tertentu, konflik dengan ormas lain, merupakan wajah FPI yang paling sering muncul di media massa.

Berdasarkan pernyataan Abdul Wahab Jamil tersebut, wajah FPI dari dulu hingga kini memang belum berubah. FPI tetap menjadi ormas yang kerap melakukan provokasi, memecah belah umat, dan kerap memainkan politik devide et impera berbasis agama. Jika benar demikian, maka akan sangat berbahaya bagi kelangsungan negara ini.

Secara historis, politik devide et impera adalah suatu upaya dari Belanda yang digunakan untuk menguasai sebuah wilayah dengan menggunakan adu domba dalam sebuah sistem kerajaan. Belanda menggunakan sistem ini sejak awal memasuki Indonesia, dari zaman VOC hingga Hindia Belanda. Politik adu domba pada abad 17 sangat digemari VOC untuk menguasai suatu daerah, dengan cara inilah Belanda yang bahkan jumlahnya jauh lebih sedikit dari pribumi bisa mengalahkannya.

Baca Juga :  Mahfud: Tak Setuju Aturan Pemerintah, Tempuhlah Mekanisme Konstitusional

Dari sejarah di atas, seharusnya kita bisa belajar agar tidak terjadi lagi politik devide et impera di negeri ini. Karenanya, melihat sepak terjang FPI yang kerap mengarah pada tindakan provokasi, pemecahbelahan dan adu domba antarumat, kita harus terus waspada terhadap segala intrik dan manuver FPI ke depan, termasuk pembuatan organisasi baru Front Persaudaraan Islam. Bisa jadi, organisasi baru tersebut hanya untuk menampung aliran dana luar negeri yang terus disuplai oleh asing untuk merong-rong kedaulatan dan mengganggu stabilitas negara.

Yang lebih berbahaya lagi adalah apabila aliran dana asing tersebut ditujukan untuk mendukung gerakan terorisme di negeri ini. Seperti yang kita ketahui, bahwa FPI adalah salah satu organisasi yang secara eksplisit pernah menyatakan dukungannya kepada organisasi teroris, yaitu ISIS dan Al-Qaeda (lihat tulisan sebelumnya berjudul ‘FPI Dukung ISIS dan Al-Qaeda, Akhirnya Dilarang’). Apabila itu terjadi, jelas menjadi ancaman yang serius untuk negeri ini.

Karena itu, aliran dana luar negeri tersebut tak bisa diabaikan begitu saja. PPATK beserta Polri harus berkolaborasi mengusut tuntas aliran dana tersebut dan menindak tegas apabila ada penyalahgunaan dana itu untuk mendukung gerakan terorisme. Jangan sampai aliran dana luar negeri yang diterima FPI itu menjadikan FPI sebagai kepanjangan tangan asing untuk terus mengganggu stabilitas negara ini.

Baca Juga :  Maaher Soni Ernata Ditangkap, Begini Respon Nikita Mirzani

Jika kita melihat sepak terjang dan kiprah FPI dari awal berdirinya hingga kini, yang kerap melakukan provokasi, memecah belah dan adu domba antarumat, ditambah aliran dana luar negeri yang diterima FPI, maka kita patut bertanya-tanya, mungkinkah FPI itu benar-benar antek asing?

Fatihul Afham

Sumber: https://www.kadrun.id/2021/02/02/fpi-terima-aliran-dana-luar-negeri-mungkinkah-fpi-antek-asing/

(Warta Batavia)

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *