Ayat Khilafah versi HTI | The Truly Islam – Aspiratif News

Ayat Khilafah versi HTI | The Truly Islam - Warta Batavia
Views: 2618
Read Time:5 Minute, 3 Second

Ayat Khilafah versi HTI | The Truly Islam – Aspiratif News

Ilustrasi

HTI mengakui: “Ayat Al-Qur’an QS. al-Baqarah: 30 yang memerintahkan pendirian Khilafah”. Berikut ayatnya:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً…. الآية

HTI memperkuat dengan mengutip Tafsîr al-Qurthûbî.

Bantahan NU:
Imam Qurthûbî (Abû Abdillâh Muhammad ibn Ahmad al-Anshârî al-Qurthûbî) ialah salah seorang mufassir terkemuka dari Cordova, Spanyol, yang hidup di masa keemasan dinasti Islam di Semenanjung Iberia. Beliau bermadzhab Maliki, belajar ke Timur, menetap dan wafat di Mesir. Karyanya yang terkenal ialah Tafsîr al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, dikenal dengan Tafsîr al-Qurthûbî. Fokus tafsir ini menguraikan bermacam hukum Islam berdasar dalil al-Qur’an dan Sunnah. Versi yang saya gunakan ialah cetakan Beirut: Dâr al-Kitâb al-Arabî, 2008, ditahqiq oleh Abdurrazzâk al-Muhdî.

Jika di kitab tafsir lain terkait QS. al-Baqarah: 30 tidak ditemukan ‘tafsir politis’ (karena ayat ini menerangkan proses pengangkatan Nabi Adam sebagai خليفة الله في الارض), Imam Qurtûbhî menafsirkan ayat وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً sebagai titik tolak pembahasan Soal hal fikih siyasah, diuraikan panjang lebar, sampai 14 h (dari h. 302 ̶ 315).

HTI mengutip Qurthûbî untuk mengukuhkan keyakinan Soal hal kewajiban penegakan Khilafah. Penggalan pernyataan yang dikutip ialah:
هذه الاية اصل في نصب امام وخليفة

“Ayat ini ialah dasar untuk mengangkat imam atau khalifah.”

Saya akan mengutip selengkapnya sebagai berikut (h. 305):

هذه الآية أصل في نصب إمام وخليفة يسمع له ويطاع ، لتجتمع به الكلمة ، وتنفذ به أحكام الخليفة . ولا خلاف في وجوب ذلك بين الأمة ولا بين الأئمة إلا ما روي عن الأصم حيث كان عن الشريعة أصم ، وكذلك كل من قال بقوله واتبعه على رأيه ومذهبه ، قال : إنها غير واجبة في الدين بل يسوغ ذلك ، وأن الأمة متى أقاموا حجهم وجهادهم ، وتناصفوا فيما بينهم ، وبذلوا الحق من أنفسهم ، وقسموا الغنائم والفيء والصدقات على أهلها ، وأقاموا الحدود على من وجبت عليه ، أجزأهم ذلك ، ولا يجب عليهم أن ينصبوا إماما يتولى ذلك . ودليلنا قول الله تعالى : إني جاعل في الأرض خليفة ، وقوله تعالى : يا داود إنا جعلناك خليفة في الأرض ، وقال : وعد الله الذين آمنوا منكم وعملوا الصالحات ليستخلفنهم في الأرض أي يجعل منهم خلفاء ، إلى غير ذلك من الآي .

READ  PM Irak: Arahan dan Nasihat Ayatullah Khamenei Andaikan Kunci Mengatasi Problem - Aspiratif News

“Ayat ini ialah dasar untuk mengangkat imam atau khalifah yang didengar dan dipatuhi, untuk menyatukan kalimat dan melaksanakan hukum-hukum khalifah. Tidak ada perbedaan pandangan di antara ummat dan imam Soal hal kewajibannya kecuali apa yang diriwayatkan oleh al-Asham (Abu Bakar al-Asham, pemuka Mu’tazilah), padahal dia tuli ke syariat, dan orang yang sama pandangan dengannya dan pengikutnya, yang menerangkan: ‘Mengangkat imam/khilafah tidak wajib, tetapi sekadar menyempurnakan agama. Apabila ummat sudah dapat mendirikan haji dan jihad, saling bahu-membahu di antara mereka, mencurahkan hak mereka sendiri, membagikan harta rampasan perang, fai, dan sedekah ke yang berhak, menegakkan hukum ke pelaku kejahatan—yang sedemikian ini sudah cukup dan tidak wajib mengangkat imam untuk memimpin Pelaksanaan hal-hal itu.”

Dalil kami (Soal hal wajibnya mengangkatnya pemimpin) ialah firman Allah:
إني جاعل في الأرض خليفة
dan firman Allah yang lain:
يا داود إنا جعلناك خليفة في الأرض
serta ayat:
وعد الله الذين آمنوا منكم وعملوا الصالحات ليستخلفنهم في الأرض.

READ  Bendera PDIP Dibakar, Megawati Keluarkan Surat Perintah Harian - Aspiratif News

Apa yang dapat dipetik dari kutipan ini?

1) Imam Qurthûbî Menyatakan pengangkatan pemimpin (imam/khalifah) atau bahasa arabnya نصب الامامة itu wajib. Wajibnya bukan wajib aqli, tetapi wajib syar’i. Pernyataan ini lumrah di kalangan Sunni, termasuk al-Mawardi dalam kitabnya al-Ahkam as-Sulthaniyyah yang dipelajari di pesantren-pesantren. walaupun menyebut tidak ada perbedaan di antara imam-imam besar Soal hal kewajiban نصب الامامة, Qurthûbî Menyenggol pandangan ganjil al-Asham—pemuka Mu’tazilah yang dia cela sebagai tuli ke syariat (الأصم كان عن الشريعة أصم) —yang berpendapat sebaliknya.

2) Yang Penting digarisbawahi ialah kewajiban mengangkat pemimpin, bukan sistem kepemimpinan Khilafah ala HTI yang bentuknya sampai sekarang tidak Jelas. Kalau soal نصب الامامة, yang Dilakukan di semua negara di dunia, termasuk negeri-negeri Muslim, semuanya ialah dalam rangka نصب الامامة. Mereka mengangkat pemimpin mereka, ada yang dengan cara demokrasi—dengan bermacam bentuk dan variasinya, ada model monarki/ مملكة (dinasti turun temurun), ada juga kudeta (mengambil paksa dari pemimpin sebelumnya), dst.

Hal ini diakui Qurthûbî dalam uraian seterusnya bahwa bentuk نصب الامامة bermacam-macam yang tidak didasarkan ke nash baku. Karena itu, beliau Tidak mau pandangan yang berkembang di kalangan syiah Soal hal Kewajiban transmisi Imâmah dari jalur Imam Ali karramallahu wajhah dan keturunannya berdasar hadis “من كنت مولاه فعلي مولاه”.

READ  Semenjak Remaja, Syekh Nawawi Al Bantani Mempunyai Karomah Luar Biasa - Warta Batavia

Hadis ini, menurut Qurthûbî, bukan justifikasi tekstual untuk mengangkat Imam Ali dan keturunanannya sebagai Khalifah dalam pengertian pemimpin politik sepeninggal Nabi. Qurthûbî mengakui bentuk-bentuk نصب الامامة bermacam-macam sebagaimana berlangsung di antara Khulafa’ Rasyidun, yaitu pengangkatan Abu Bakar RA, dari Abu Bakar RA ke Umar RA, dari Umar RA ke Utsman RA, dari Utsman RA ke Ali KW; masing-masing berbeda-beda dan wajib ditaati. Bahkan, seandainya seorang Imam meraih kekuasaan dengan cara kudeta, dia juga mesti ditaati, sejauh tidak mengancam agama (h. 311).

3) Demokrasi ialah bagian mekanisme نصب الإمامة yang sah. Dan ini yang dipilih dan disepakati oleh founding fathers yang mendirikan NKRI. Para pendiri NKRI di antaranya ialah ulama dan tokoh-tokoh Islam yang paham dalil. Program HTI ialah merubah Tekad bulat, mengharamkan nasionalisme, men-thagut-kan demokrasi, dan berniat mengganti NKRI berdasar Pancasila dengan Khilafah. Dalam perspektif Qurthubi, tindakan ini Ialah خروج من البيعة, keluar dari Tekad bulat, bagian dari planning bughot yang mesti diperangi.

Jadi, kewajiban mengangkat pemimpin ialah 1 hal, cara memilih pemimpin ialah hal lain.

Nun Al-Qolam

Sumber: https://facebook.com/story.php?story_fbid=160555218911691&id=100048716412282

( Suara Islam)


Ayat Khilafah versi HTI | The Truly Islam – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *