NU-dan-Pancasila-696x418.jpg

Bagaimana ASWAJA Mengkritik Pemerintah | The Truly Islam

Diposting pada

Kami sering membaca berita, para saksi, ada orang yang bermasalah dengan hukum karena mereka mengkritik pemerintah. Atau tokoh yang kritiknya terhadap pemerintah membuat kita merasa kurang beradab. Memang kritik terhadap pemerintah seperti apa yang diperbolehkan oleh ajaran Islam, terutama pemahaman Ahlussunnah Waljama’ah (aswaja) yang benar?

Pengikut Aswaja yang sejati, terutama di kalangan ulama, sangat memahami bahwa mengkritik pemerintah bukanlah sesuatu yang dilarang, tetapi harus berpegang pada prinsip-prinsip yang bersumber dari ajaran Islam itu sendiri.

Jangan sampai ketika Anda mengkritik pemerintah Anda jatuh ke dalam gugatan bughot atau memberontak terhadap pemerintah. Memang hukuman bagi pelaku bughot sangat keras dalam Islam. Apa prinsip aswaja dalam mengkritik pemerintah?

Pertama, mengkritisi pemerintah harus dilakukan dengan data yang benar dan menegakkan keadilan, dan inilah bentuk jihad yang terbaik. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: “Jihad di atas segalanya adalah kutukan yang adil di hadapan para pemimpin yang tidak adil” (HR Imam Abu Dawud dan Imam Tirmidzi) ”

Kedua, pemerintah wajib mengakumulasi dan mengoreksi kekurangan-kekurangannya untuk kemajuan bangsa dan negara, bukan untuk kepentingannya sendiri. Lebih jauh, hal itu memicu hinaan dan ujaran kebencian, karena Nabi Muhammad sangat melarangnya. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa menghina pemimpin Allah di bumi, maka Allah akan mempermalukannya.” [HR. at-Tirmidzi].

Baca Juga :  Lagu Indonesia Raya Dibuat Parodi, Kemlu: Polisi Malaysia Sedang Investigasi

Ketiga, dalam mengkritisi pemerintah, yang terpenting adalah penyampaian materi kritis. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa di antara tata cara siaran itu tidak di depan khalayak tetapi disiarkan langsung kepadanya. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa ingin menasihati penguasa, jangan menunjukkannya secara terbuka. Ia harus memegang tangannya dan menyendiri dengannya. Jika pengurus rumah mau mendengarkan nasehat, maka ini yang terbaik dan jika pengurus rumah tangga itu ogah-ogahan (tidak mau menerima), maka dia benar-benar memenuhi amanat kewajiban yang dibebankan padanya “(HR Imam Ahmad)”.

Keempat, jika dipaksa untuk mengkritik pemerintah di depan umum, terutama di era media sosial saat ini, maka kritik itu tidak boleh memicu kebencian, penghinaan, penghancuran struktur publik, apalagi pemberontakan, bahkan jika pemerintah melakukan kekejaman. . itu sama sekali tidak bisa dibenarkan. Habib Abdillah Bin Husein Baalawy dalam bukunya Is’adurrafiq menyatakan bahwa yang dilarang adalah kata apapun yang menyebabkan seseorang mencelakakan, menghina, menghina, menjadi jahat atau mencelakakan. Tentang pemerintahan yang melakukan ketidakadilan, Imam Abu Ja`far al-Thahawi dalam bukunya yang berjudul Al-Aqidah At-Thahawiyyah, menyatakan bahwa Ahlussunnah Waljama`ah tidak memiliki konsep menggulingkan pemerintahan yang sah, meskipun ia telah melakukan ketidakadilan.

Baca Juga :  Jokowi Perintahkan Mensos Risma-Kepala BNPB ke Lokasi Gempa Mamuju

Kelima, jangan mengkritik pemerintah dan bersabar sambil terus berdzikir dan taqarrub kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang tidak mencintai sesuatu (politik), amirnya, bersabarlah. Bagi siapa saja yang menyimpang sedikit dari sultan (kekuasaan), dikhawatirkan mati di Jahiliyah (HR. Bukhari)”.

Dalam hadits lainnya, Rasulullah SAW juga bersabda: Sesungguhnya kalian akan melihat pemimpin berurusan dengan kepentingan pribadi, maka bersabarlah sampai suatu saat kalian bertemu dengan saya (di akhirat) “(HR. Bukhari).
Allah SWT meyakini sebuah hadits qudsi, melalui sabda Nabi Muhammad SAW: “Akulah Allah.

Tidak ada tuhan selain aku. Saya adalah penguasa semua kerajaan dan Raja segala raja. Hati semua raja ada di tanganku. Dan sesungguhnya semua hamba, jika mereka mematuhiku, niscaya aku akan mengasihani hati raja mereka.

Dan memang, jika hamba tidak menaati Aku, niscaya Aku akan membuat hati raja-raja mereka keras dan tidak adil, jadi Aku akan menimpakan berbagai siksaan kepada mereka. Jangan khawatir tentang berdoa kepada raja-raja itu karena kejahatan mereka, tetapi berlatih dzikir dan taqarrub bersama-Ku, Aku akan melindungimu dari rajamu. “(HR Imam Ath-Thabrani).

Baca Juga :  Ditagih Kapan BLT Subsidi Gaji Cair, Begini Jawaban Menaker

Akhir dari Kalam, kesimpulannya, bagi siapa saja yang mengabaikan kelima prinsip di atas, bukan bagian dari hukum Aswaja dan wajib untuk tidak bergabung dan bergabung dengan mereka yang mengabaikan lima prinsip dalam mengkritik pemerintah, tidak peduli seberapa baik konsep il. aku s. dan narasi yang mereka bawa.

Ustad Rakhmad Zailani Kiki, Alumni UIN Jakarta dan Sekjen Barisan Ksatria Nusantara (BKN)

Sumber: https://m.republika.co.id/berita/qpn0vw412/princip-kriti-aswaja-terhadap-pemerintah

(Warta Batavia)

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *