Bagaimana Professor dan Doktor Kok Dapat Jadi Member HTI ?

professor-dan-doktor-menjadi-anggota-HTI-yang-bertujuan-mendirikan-negara-khilafah.jpg
Views: 635
Read Time:3 Minute, 43 Second

Bagaimana Professor dan Doktor Kok Dapat Jadi Member HTI ?

38 Views


Read Time:3 Minute, 34 Second

Di medsos ada pertanyaan terkait adanya professor dan doktor masuk HTI yang sekilas kelihatan sederhana, tapi untuk menjawab pertanyaan tersebut membutukan pemikiran dan fakta-fakta sosial yang ada di Indonesia.

Pertanyaan:

Indonesia ialah negara yang telah jadi dengan sistem demokrasi komprehensif dengan perangkat negara seperti DPR, MPR, Presiden, serdadu, polisi, kehakiman, kejaksaan, dll. Intinya, negara ini dan rakyatnya tentu mempunyai harga diri.

Yang keterlaluan, bagaimana ada orang-orang berpendidikan, bahkan ada yang professor dan doktor melalaikan eksistensi NKRI dan nekat jadi member HTI yang punya tujuan mendirikan negara khilafah di negara Indonesia? Kok kesannya mereka itu bodoh ya?

Berikut respon untuk pertanyaan tersebut oleh Ayik Heriansyah eks pengurus HTI. Semoga berguna ….

Profesor dan Doktor Gabung ke HTI Jadi Bodoh, Kenapa?

Dengan membaca Pancasila dan Pembukaan UUD 1945, orang awam pun langsung paham, Indonesia ialah negara agamis. Tidak mungkin jadi negara sekuler. Apatah lagi sekuler ala Barat.

Agama menjiwai seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. Baik, urusan agama yang bersifat umum (politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan, dll) yang diurus oleh bermacam kementerian, badan dan lembaga negara; Maupun urusan agama yang bersifat spesial, yang diurus oleh Kementerian Agama beserta badan, lembaga dan ormas keagamaan. Kesemuanya diformalkan di dalam konstitusi dan perundang-undangan serta dibiayai dari biaya negara (APBN dan APBD).

Kesemuanya diformalkan di dalam konstitusi dan perundang-undangan serta dibiayai dari biaya negara (APBN dan APBD).

Bagaimana Professor dan Doktor Kok Bisa Menjadi Anggota HTI ?

Miris, kalau ada “Forum Doktor” yang masih membicarakan isu dihapuskanya konten ajaran Islam dalam buku pelajaran agama Islam oleh Kementerian Agama. Padahal di website legal Kementerian Agama, Direktur Kurikulum, Fasilitas, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah A Umar menjelaskan bahwa Madrasah, baik Ibtidaiyah (MI), Tsanawiyah (MTs), maupun Aliyah (MA), akan mempergunakan kurikulum baru untuk Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab.

Sikap ilmiah semestinya telah mendarah daging di dalam diri seorang doktor dan profesor. Seperti ingin tahu suatu hal secara mendalam dan detail, objektif, jujur dan terbuka serta senantiasa mengutamakan kebenaran ilmiah. Lalu diwujudkan dengan mempergunakan metode ilmiah yang ketat dan disiplin. Melaksanakan falsifikasi, verifikasi, validasi dan komparasi kepada objek yang mau dikaji. Sehingga buah pikirannya benar dan akurat, siap diuji secara terbuka oleh siapapun dan kapanpun. Dan tetap memberi ruang untuk direvisi kalau ditemukan kekhilafan.

Akan tetapi, hal di atas tidak berlaku bagi profesor dan doktor yang berkoalisi dengan HTI. Maksudnya yang sudah jadi bagian integral Hizbut Tahrir sesudah mengucapkan janji (qassam), semacam bai’at, di depan seorang ketua pengurus cabang (distrik). Sikap dan metode ilmiah seorang profesor dan doktor langsung menguap ke udara sesudah mengucapkan janji tersebut. Sebab janji (qassam) untuk jadi member HTI berbunyi:

Uqsimu billahil ‘azhim. An akuuna hariisan amiinan lil islam. Mutabaniyan ara a hizbit tahrir hadza wa afkaarahu wa dustuurahu qaulan wa ‘amalan. Waatsiqan biqiyaadatihi. Munaffidzan qaraaratihi wa in khalafat ra’yi. Baadzilan juhdi fi tahqiiqi ghaayatihi. Maa dumtu ‘unwan fihi. Wallahu maa aquulu syahiid.

“Saya bersumpah atas nama Allah yang Maha Agung. Saya akan jadi penjaga Islam dipercaya. Mengadopsi pendapat-pendapat Hizbut Tahrir ini, pemikiran-pemikirannya dan konstitusinya dengan perkataan dan perbuatan. Percaya kepada kepemimpinannya, melakukan segala keputusannya walaupun bertentangan dengan pendapatku. Mengerahkan segala daya upayaku dalam mewujudkan tujuannya. Selama saya masih jadi member. Dan Allah jadi saksi atas apa yang saya ucapkan ini.”

Janji ini yang membikin sedoktor atau seprofesor apapun seseorang jika jadi member HTI akan jadi bodoh. Sebab dia wajib meninggalkan ilmu pengetahuannya kalau bertentangan dengan pandangan, pemikiran dan dan konsitusi yang diadopsi Hizbut Tahrir. Dan sama sekali dicegah mengucapkan dan melaksanakan perbuatan yang bertentangan dengan pandangan, pemikiran dan dan konsitusi yang diadopsi Hizbut Tahrir.

Sedoktor atau seprofesor apapun seseorang akan jadi seperti kerbau dicocokhidungnya saat memperoleh perintah (taklif) dari pemimpin Hizbut Tahrir, dari pemimpin di tingkat internasional (Amir Hizbut Tahrir), tingkat wilayah/nasional (Mu’tamad/Mas’ul ‘Am), tingkat daerah/distrik (Naqib/Mas’ul Mahalliyah) sampai tingkat grup halaqah (Musyrif). Doktor dan profesor itu pasti patuh dan tsiqah walaupun tingkat kecerdasan, pendidikan, ilmu pengetahuan dan wawasan pemimpin mereka di bawahnya. Doktor dan profesor itu pasti patuh dan tsiqah walaupun perintah yang diberikan bertentangan dengan ilmu pengetahuan yang dipercayai kebenarannya.

Jadi ingin maklum, jika masih ada “Forum Doktor” di tengah pandemi COVID 19, sempat-sempatnya menggelar FGD untuk membicarakan isu hoaks terkait penghapusan konten ajaran agama Islam dalam buku pelajaran agama Islam oleh Kementerian Agama.

*Ayik Heriansyah, Pengurus LD PWNU Jabar, dan Pernah Menjabat Selaku Ketua DPD HTI Bangka Belitung

Bagaimana Professor dan Doktor Kok Bisa Menjadi Anggota HTI ?

READ  Harga Mahal Buat Turki Untuk Petualangan Regional Erdogan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *