Bagaimana Sikap Ulama Ke Kalimat Sufistik yang Melewati Batas? – Aspiratif News

Views: 21
Read Time:3 Minute, 48 Second

Bagaimana Sikap Ulama Ke Kalimat Sufistik yang Melewati Batas? – Aspiratif News

Assalamu alaikum wr. wb.

Redaksi Aspiratif News, dalam khazanah tasawuf kita sering menguping ucapan para sufi yang tampak melewati batas dan kadang bertentangan dengan kaidah umum keislaman seperti yang terkenal Abu Yazid Al-Busthami, Al-Hallaj, Ibnu Arabi, atau Al-Jili. Bagaimana pandangan ulama perihal ini? Terima kasih. Wassalamu alaikum wr. wb. (Hamba Allah /Martapura)


Respon

Penanya yang budiman, semoga dirahmati Allah SWT. Kalam-kalam yang tampak melewati batas itu bukan cuma dilontarkan oleh sufi, tetapi juga pernah oleh sahabat rasul seperti Sayyidina Umar, Sayyidah Aisyah, dan sahabat lainnya yang sebagian dikutip di sini.


Sayyidina Umar pernah menerangkan, “Banjir Nuh dalam ratapanku seperti aliran air mata//Kobaran api Ibrahim seperti kepedihan hatiku yang terbakar oleh cinta.


Jikalau bukan embusan panjang napasku, niscaya saya tenggelam oleh air mata//tetapi sekiranya tanpa air mata, niscaya saya terbakar oleh napasku yang panas.


Dukaku apa yang diungkap Yakub itu baru minimal//semua bala yang menimpa Ayub cuma sebagian musibahku. (Lihat Syekh Abdul Wahhab As-Sya’rani, Al-Anwarul Qudsiyyah, [Beirut, Daru Shadir: 2010 M], halaman 229).

READ  sekretaris jendral KPCDI: Cerita Sutopo Inspirasi bagi Para Pasien Gagal Ginjal Kronik


Abu Yazid Al-Busthami menerangkan, “Ketaatan Allah kepadaku lebih banyak dibandingkan ketaatanku kepada-Nya.” Ia juga menerangkan, “Siksaku lebih keras daripada siksa Allah terhadapku.” “Menyaksikan wajahku sekali lebih baik daripada engkau menyaksikan Allah 1000 kali,” kata Abu Yazid ke salah seorang sahabatnya. (Lihat Syekh Abdul Wahhab As-Sya’rani, Al-Minanul Kubra/Lathaiful Minan fil Akhlaq fi Wujubit Tahadduts bi Nikmatillah alal Ithlaq, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 2010 M], halaman 204-205).


Al-Hallaj menerangkan, “Tidak ada di jubah ini kecuali Allah.” Al-Ghazali juga pernah menerangkan, “Tidak ada sesuatu hal mungkin yang lebih indah dari dunia ini.” Ibnul Arabi pun pernah menerangkan, “Hatiku menceritakan kepadaku Soal hal Tuhanku,” “Tuhanku mengabarkanku Soal hal hatiku,” atau “Tuhanku mengabarkanku Soal hal diri-Nya.” (Lihat As-Sya’rani, 2010 M: 206).


Kita juga pernah mengenal kalam serupa dari Rabi’ah Al-Adawiyah, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Umar Ibnul Faridh, Jalaluddin Rumi, Hamzah Fanshuri, Siti Jenar, dan lainnya. Dalam menyikapi itu semua, kita dituntuk untuk bijaksana sebagaimana pandangan As-Sya’rani berikut ini:

قال واعلم أن من صفات المحبين أنهم يتكلمون بلسان المحبة والعشق والسكر لا بلسان العلم والعقل والتحقيق


Artinya, “Ketahuilah, bahwa bagian sifat muhibbin itu ialah di mana mereka berbicara dengan bahasa mahabbah, isyq, dan mabuk cinta, bukan bahasa ilmu, akal, dan kondisi sesungguhnya.” (Lihat As-Sya’rani, 2010 M: 228).

READ  Waktu Rasulullah Maafkan Sahabat yang Berkhianat dalam Fathu Makkah - Aspiratif News


Menurut As-Sya’rani, kalam mereka ialah lughatul asyiqin atau bahasa orang yang tengah tenggelam dalam cinta mabuk sebagaimana kalam burung-layang-layang jantan yang tengah asyik-ma’syuk lalu melewati batas ke kekuasaan Nabi Sulaiman AS, tetapi kemudian dimaafkan.

قلت وفي هذه القصة عذر عظيم لأهل المحبة في أشعارهم


Artinya, “Menurut saya, cerita ini mengandung uzur besar bagi ahli mahabbah dalam syair mereka.” (Lihat As-Sya’rani, 2010 M: 228).


As-Sya’rani menambahkan bahwa mereka yang tengah tenggelam dalam asyik-ma’syuk atau mahabbah dapat berbicara dengan bahasa ketuhanan, bahasa kerasulan, atau bahasa kewalian. Tidak heran kalau kalam mereka memperoleh resistensi dan penolakan.

وربما تكلم العارف في نظمه أو غيره على لسان الحق تبارك وتعالى، وربما تكلم على لسان رسوله صلى الله عليه وسلم، وربما تكلم على لسان القطب. فيظن بعضهم على لسانه هو فيبادر إلى الإنكار


Artinya, “Terkadang, ahli makrifat dalam nazham atau bentuk ekspresi lainnya berbicara dengan bahasa ilahi. Terkadang ia berbicara dengan bahasa rasul-Nya SAW. Ia juga terkadang berbicara dengan bahasa wali quthub. Tetapi sebagian orang mengira ahli makrifat itu berbicara dengan bahasanya sendiri sehingga cepat memperoleh pengingkaran.” (Lihat As-Sya’rani, 2010 M: 203).

READ  Orang yang Paling Antusias kobarkan Pertikaian, Biasanya Paling Tidak Malu Melarikan Diri - Warta Batavia


Tetapi sedemikian, penolakan para ulama atas kalam-kalam sufi tersebut dimaksudkan untuk menjaga keyakinan orang awam dan mereka yang terhijab agar tidak ikut kalam-kalam sufi tersebut secara jahil.

فافهم وربما أنكر العالم على بعض الصوفية في بعض الأوقات رحمة بالعوام والمحجوبين خوفا أن يتبعوه في ذلك الأمر بالجهل فيهلكون لا ردا على ذلك الصوفي بالكلية 


Artinya, “Ketahuilah, ulama juga terkadang ikut mengingkari bahasa para sufi sebagai bentuk kasih saying ke orang awam dan mereka yang terhijab secara spiritual karena kuatir mereka ikut kalimat tersebut secara jahil sehingga mereka binasa, bukan karena penolakan secara keseluruhan ke kalimat sufi tersebut,” (Lihat As-Sya’rani, 2010 M: 203).


Seperti ini respon singkat kami. Semoga dapat dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan anjuran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)

 

Bagaimana Sikap Ulama Kepada Kalimat Sufistik yang Melewati Batas? – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *