Batasan Orang Disebut Sanggup Berkurban – Aspiratif News

Batasan Orang Disebut Mampu Berkurban
Views: 14
Read Time:5 Minute, 1 Second

Batasan Orang Disebut Sanggup Berkurban – Aspiratif News

Sebuah syiar Islam akan cepat Datang mendekati kita semua yaitu hari raya Idul Kurban atau biasa disebut sebagai hari raya kurban, sebab pada hari itu ummat Muslim di dunia akan melaksanakan ibadah kurban.


Ibadah kurban mempunyai nilai hikmah yang amat besar, di antaranya ialah berbagi kegembiraan ke mereka yang memerlukan, memperkuat tali brothership di antara ummat Muslim dan menanamkan rasa kasih sayang di antara mereka. Ibadah kurban Ialah bagian ibadah sunah yang amat dianjurkan, Allah subhanahu wata’ala berfirman: 

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ


   “Maka shalatlah ke Tuhanmu dan sembelihlah haewan kurban”(QS. al Kautsar ayat 2).


Akan tetapi seperti ini, kesunnahan ini tidak berlaku bagi tiap-tiap orang, melainkan bagi mereka yang masuk ke dalam kategori orang sanggup, sehingga bagi mereka yang tidak termasuk sanggup, tidak dituntut melakukan kurban. Di waktu situasi ekonomi serba sulit seperti masa pandemi ini, banyak orang merasa tidak sanggup berkurban. Lantas sejauh mana batasan orang yang sanggup berkurban?


Seseorang dapat dikatakan sanggup apabila ia mempunyai ongkos yang cukup dibuat kurban yang melebihi kebutuhannya dan orang-orang yang wajib ia nafkahi, selama hari raya kurban dan 3 hari tasyriq setelahnya (tanggal 11,12 dan 13 Dzulhijjah). 


Berpijak dari hal tersebut, seseorang yang mempunyai uang senilai harga haewan kurban, akan tetapi kebutuhan pokok bagi dirinya dan pihak yang wajib dinafkahi akan kekurangan di waktu hari raya Idul Kurban atau hari tasyriq, maka ia bukan termasuk sanggup berkurban. 


Sebagian ulama cuma mengharuskan harta yang ia gunakan untuk berkurban melebihi kebutuhan nafkah wajib di waktu hari dan malam Idul Adlha saja. Berpijak dari pandangan ini, seseorang yang mempunyai uang senilai harga haewan kurban, semisal 3 juta yang cukup untuk berbelanja kambing, akan tetapi kebutuhan pokok bagi dirinya dan keluarganya akan kekurangan di waktu hari raya dan malamnya, maka ia bukan termasuk sanggup berkurban. Apabila kebutuhan pokok di hari dan malam Idul Kurban terpenuhi, akan tetapi tidak mencukupi untuk kebutuhan pokok di hari tasyriq, maka termasuk orang yang sanggup berkurban.

READ  [VIDEO] tentara, Nasional AS Turun ke Jalanan Washington DC - Aspiratif News


Syekh Sulaiman bin Muhammad bin Umar al-Bujairimi berkata:

وإنما تسن لمسلم قادر حر كله، أو بعضه والمراد بالقادر من ملك زائدا عما يحتاجه يوم العيد وليلته وأيام التشريق ما يحصل به الأضحية خلافا لمن نازع فيه وقال فاضلا عن يومه وليلته


“Dan kurban disunahkan cuma bagi orang Islam yang sanggup, merdeka seluruh dirinya ataupun cuma sebagian saja. Dan yang dikehendaki dengan orang yang sanggup ialah orang yang mempunyai harta yang cukup untuk berkurban yang melebihi dari kebutuhannya waktu hari raya, malamnya dan beberapa hari tasyriq. Tidak sama dengan pandangan sebagian ulama yang menyelisihi perihal standar sanggup ini, menurutnya yang jadi standar ialah harta yang melebihi kebutuhan di hari raya dan malamnya. (Syekh Sulaiman bin Muhammad bin Umar al-Bujairimi, Hasyiyah al Bujairomi ‘Ala Syarh Manhaj al Thulab, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, juz 4, hal 396).


Dalam Penjelasan yang lain, Syekh Syihabuddin Ibnu Hajar Al-Haitami berkata:

هي سنة في حقنا لحر أو مبعض مسلم مكلف رشيد نعم للولي الأب أو الجد لا غير التضحية عن موليه من مال نفسه كما يأتي قادر بأن فضل عن حاجة ممونه ما مر في صدقة التطوع 


“Dan kurban disunnahkan dalam hak kita bagi orang yang merdeka atau sebagian dirinya saja yang merdeka, Muslim, mukallaf dan cakap mengelola harta. Bagi wali yaitu bapak atau kakek bukan selainnya boleh berkurban untuk orang yang Ada dalam kekuasaannya dari hartanya seperti Penjelasan yang akan Datang, yang sanggup yaitu hartanya melebihi kebutuhan orang yang wajib dinafkahi, seperti Penjelasan yang telah lewat dalam fasal sedekah Sunah. (Syekh Syihabuddin Ibnu Hajar Al-Haitami, Tuhfah Al Muhtaj, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, juz 12 hal 245-246).

READ  Penanganan Radikalisme Wajib Dilakukan Bareng-sama antara Pemerintah dan Organisasi Keagamaan   - Aspiratif News


Mengomentari rujukan di atas, Syekh Abdul Hamid al-Syarwani berkata:

 (قوله بأن فضل عن حاجة ممونه إلخ) ومنه نفسه


“Ucapan Syekh Ibnu Hajar (yaitu hartanya melebihi kebutuhan orang yang wajib dinafkahi), di antaranya ialah melebihi kebutuhan dirinya sendiri”. (Syekh Abdul Hamid al-Syarwani, Hasyiyah al-Syarwani ‘ala Tuhfah Al Muhtaj, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, juz 12, hal. 245-246).


Termasuk orang yang wajib dinafkahi ialah fakir miskin yang memerlukan kebutuhan pokok sandang-pangan, meski bukan dari kerabatnya. Sehingga orang disebut sanggup berkurban apabila mempunyai ongkos kurban yang melebihi tanggung jawab nafkah kaum dluafa. Kurban ialah ibadah sunah, sedangkan memenuhi kebutuhan darurat kaum lemah ialah wajib, Penting memahami skala prioritas di antara keduanya, dengan mendahulukan ibadah wajib atas ibadah sunah.


Syekh Sayyid Abu Bakr bin Sayyid Muhammad Syatha Al-Dimyati berkata:

والمراد بمن يجب نفقته الزوجة والقريب والمملوك المحتاج لخدمته وأهل الضرورات من المسلمين ولو من غير أقاربه لما ذكروه في السير من أن دفع ضرورات المسلمين بإطعام جائع وكسوة عار ونحوهما فرض على من ملك أكثر من كفاية سنة وقد أهمل هذا غالب الناس حتى من ينتسب إلى الصلاح.


“Yang dikehendaki dari orang yang wajib dinafkahi ialah istri, kerabat, budak yang dimilikinya yang dibutuhkan untuk melayaninya, dan orang-orang Islam yang amat memerlukan walaupun bukan kerabatnya karena argumentasi yang disebutkan dalam bab Al-Sair (jihad) bahwa membantu orang-orang Islam yang amat memerlukan dengan cara memberi makan orang yang kelaparan, memberi pakaian orang-orang yang telanjang (tidak punya pakaian) dan selainnya Ialah kewajiban bagi orang yang mempunyai lebih dari kecukupan 1 tahun. sebagian besar orang acuh untuk hal ini, bahkan orang yang disebut-sebut saleh sekalipun.” (Syekh Sayyid Abu Bakr bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyati, I’anah At-Tholibin, al-Hidayah, juz 2, hal 282).

READ  Hidupkan Kembali WFH - Aspiratif News


Dari Penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa batasan seseorang dapat di kategorikan sanggup berkurban ialah orang yang mempunyai harta yang cukup untuk berkurban yang melebihi dari kebutuhan dirinya dan orang-orang yang wajib dinafkahi seperti Famili dan fakir miskin yang mengalami darurat sandang pangan. Perihal durasi kecukupan yang dimaksud ulama tidak sama pandangan. Pandangan yang kuat Menyatakan terhitung semenjak hari raya kurban sampai akhir hari tasyriq. Sebagian ulama mencukupkan di hari dan malam hari raya kurban saja. 

 

Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pondok Pesantren Raudlatul Quran, Geyongan, Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat.

 


Batasan Orang Disebut Sanggup Berkurban – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *