Beberapa Ketentuan Kurban waktu Terjadi Beda Waktu Hari Raya – Aspiratif News

Views: 2583
Read Time:4 Minute, 0 Second

Beberapa Ketentuan Kurban waktu Terjadi Beda Waktu Hari Raya – Aspiratif News

Seiring adanya perbedaan Masalah sumber rujukan sebagai pedoman penetapan hari raya Idul Kurban, ummat Islam terkadang wajib mengalami dilema Masalah waktu penyembelihan haewan kurban. Setidaknya ada 2 kondisi yang mungkin terjadi di masarakat Masalah hal itu, yaitu: 


•    Orang yang berkurban merayakan hari raya sama dengan jamaah masjid setempat

•    Orang yang berkurban, merayakan hari raya tidak sama dengan jamaah masjid setempat

    

Ke hal ini, dibutuhkan langkah penyikapan dalam bentuk tata laksana penyembelihan haewan kurban. Pertimbangan pokok dalam kondisi sedemikian rupa ini ialah memperhatikan kondisi pihak yang tengah berkurban. 


Ke-1, bagaimanapun juga bahwa ibadah kurban wajib Dikerjakan memenuhi syarat dan ketentuan berkurban, khususnya terkait dengan waktu. Haewan kurban cuma sah dikerjakan bila haewan tersebut disembelih pada tanggal 10, 11, 12 atau 13 Hijriah. 


Nash yang merilis waktu penyembelihan dikerjakan pada tanggal 10 Dzul Hijjah, di antaranya ialah hadits riwayat Imam Ahmad. Imam Ahmad meriwayatkan dari Buraidah radhiallahu anhu, dia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لا يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ ، وَلا يَأْكُلُ يَوْمَ الأَضْحَى حَتَّى يَرْجِعَ ، فَيَأْكُلَ مِنْ أُضْحِيَّتِهِ 


“Ialah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak berangkat untuk shalat Idul Fitri sebelum makan dan tidak makan pada hari Idul Kurban kecuali sesudah pulang (dari shalat), lalu beliau makan dari haewan kurbannya.”

READ  Sidang Vonis Ditunda, Massa Penyokong Sugi Nur Bawa Bendera Tauhid


Adapun nash yang merilis bahwa ibadah kurban bias Dikerjakan pada hari tasyriq, salah satunya ialah sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:

كل منى منحر ، وكل أيام التشريق ذبح


“Semua Mina ialah tempat memotong (hadyu) dan semua hari tasyrik ialah waktu untuk memotong.”


Ke-2, bila pihak yang berkurban ikut ketetapan hari raya pihak lain yang tidak sama dengan masjid setempat, maka ketetapan waktu yang musti diikuti ialah menyesuaikan dengan 10 Hijriahnya pihak yang berkurban (mudlahhi). Panitia kurban dalam hal ini kedudukannya selaku wakil dari pihak mudlahhi.

ويجب على الوكيل موافقة ما عين له الموكل من زمان ومكان وجنس ثمن وقدر كالأجل والحلول وغيرها اودلت قرينة قوية من كلام الموكل اوعرف اهل ناحيته فإن لم يكن شيئ من ذلك لزمه العمل بالأحوط 


“Wajib atas wakil melaksanakan pekerjaan sesuai dengan apa yang ditetapkan kepadanya oleh pihak yang mewakilkan (muwakkil), mulai dari zaman, tempat, kategori, harga dan kadar, seperti tempo, waktu pelunasan, dan selainnya. Atau meminta bukti yang kuat terkait dengan kalamnya muwakkil, baik berupa pengetahuan penduduk kisaran muwakkil. Apabila hal ini tidak ditemukan juga, maka ia berkewajiban melakukan pekerjaan yang dikerjakan dengan prinsip hati-hati.” (Bughyatu al-Mustarsyidin, halaman 250)

READ  Cara Ansor Katingan Bantu Petani Ikan Keramba dan Terdampak Covid-19 - Aspiratif News


Ketiga, penyembelihan haewan kurban yang dikerjakan sebelum pihak yang berkurban masuk tanggal 10 Hijriah yang diikutinya, menjadikan sembelihan haewan kurban tersebut jadi tidak sah. 

ومتى خالف الوكيل الموكل فى بيع ماله بأن باعه الوجه المأذون فيه أو فى الشراء بعينه بأن اشترى له بعين ماله على وجه لم يأذن له فيه فتصرفه باطل لأن الموكل لم يرض بخروج ملكه على ذلك الوجه


“Waktu seorang wakil bertindak tidak sesuai dengan kehendak orang yang mewakilkan dalam menjualbelikan hartanya, seperti jikalau menjual barang yang diwakilkan padanya, atau membelikannya sesuatu menurut cara yang tidak diizinkan kepadanya, maka pengelolaannya wakil dalam konteks ini ialah bathil (batal). Sebab pihak muwakkil (orang yang mewakilkan/berkurban) tidak ridha dengan cara yang dilakukannya yang keluar dari apa yang sudah ditentukannya.” (Mughni al-Muhtaj, Juz 2, halaman 229)


Ke-4, penyembelihan haewan kurban wajib memastikan bahwa pihak yang berkurban sudah masuk tanggal 10 Hijriah dari bulan Dzulhijjah. 

اودلت قرينة قوية من كلام الموكل اوعرف اهل ناحيته فإن لم يكن شيئ من ذلك لزمه العمل بالأحوط


“Atau meminta bukti yang kuat terkait dengan kalamnya muwakkil, baik berupa pengetahuan penduduk kisaran muwakkil. Apabila hal ini tidak ditemukan juga, maka ia berkewajiban melakukan pekerjaan yang dikerjakan dengan prinsip hati-hati.” (Bughyatu al-Mustarsyidin, halaman 250)

READ  Waspada! Instagram Kemenkeu Mengaji Sesatkan Ajaran Tasawuf - Warta Batavia


Kelima, kekhilafan yang berhubungan dengan waktu penyembelihan haewan kurban, menjadikan pihak yang ditunjuk sebagai wakil mudlahhi (pihak yang berkurban) wajib mengganti haewan kurbannya mudlahhi karena kurban tersebut jadi tidak sah.

ومتى خالف شيأ مما ذكر فسد تصرفه وضمن قيمته يوم التسليم ولو مثليا 


Apabila wakil bertindak di luar ketentuan muwakkil sebagamana telah disebutkan, maka penasarufan harta tersebut jadi rusak, dan ia bertanggung jawab dalam mengganti rugi harga haewan sesuai hari diterimanya haewan tersebut oleh mudlahhi, atau dengan harga mitsil.” (Hasyiyah I’anatu al-Thalibin, juz 3, halaman 106). 

Wallahu a’lam bi al-shawab

Ustadz Muhammad Syamsudin, Pengasuh Pondok Pesantren Hasan Jufri Putri, Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur; Peneliti Bidang Ekonomi Syariah di Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur

 

Beberapa Ketentuan Kurban waktu Terjadi Beda Waktu Hari Raya – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *