Beda Kritik dan Cacian dalam Berdakwah – Aspiratif News

Diposting pada

Beda Kritik dan Cacian dalam Berdakwah – Aspiratif News

Bandar Lampung, Aspiratif News
Jikalau ada orang yang tengah mencaci mengatasnamakan kebenaran, maka sebenarnya ia tengah berbuat kebatilan. Jikalau ada orang yang mencaci bersembunyi dibalik kemuliaan Nabi, maka sejatinya ia telah menghina Nabi SAW. Jikalau ada orang yang mencaci berdalih atas nama Allah, maka itulah kedustaan dan kezaliman yang amat besar.

 

Inilah penegasan KH Suparman Abdul Karim, Pengurus Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Provinsi Lampung terkait fenomena orang yang berdakwah dengan kata-kata kotor dan mengatasnamakan agama, Jumat (22/5).
 

“Mengkritik di negara demokrasi ialah keniscayaan. Kita bahkan mesti sering-sering Mengingatkan para penyelenggara negara agar tidak korupsi. Orang yang paling mudah berbuat zalim ialah penguasa jika mereka tidak sering diingatkan,” katanya menambahkan.

 

Tetapi, semua kritikan tersebut haruslah menghindari cacian dan makian. Di antara ciri pokok makian menurutnya ialah ke-1,  berisi ucapan kotor, penghinaan, dan ujaran kebencian, ke-2 menjadikan prasangka sebagai tudingan, dan ketiga cenderung provokatif dan menciptakan permusuhan.

 

“Belakangan kita menyaksikan model beragama yang pemarah (at-tadayyun al-ghadib). Perilaku beragama yang mengedepankan orasi dan dipenuhi amarah, caci maki, penghinaan, ujaran kebencian dan mudah menyalahkan,” ungkapnya.

 

Perilaku ini sama sekali tidak mewakili kebanyakan kaum muslimin. Dan bahkan malah bertentangan dengan ajaran Islam. Maka dari itu, jika ada orang mempergunakan cacian atas nama Allah dan atas nama membela kebenaran, Bahkan, sebenarnya ia tengah terang-terangan menghina dan menistakan Allah SWT.

 

“Tetapi yang disayangkan jika ada sekelompok orang malah jadi ‘kompor’. Dengan sengaja mensupport cacian itu. Lalu mereka saling sokong untuk membangun kebencian dan permusuhan. Lalu seenaknya membikin legitimasi bahwa mereka mewakili kebanyakan ummat Islam. Saya amat malu atas perilaku semacam ini,” katanya.

 

Ia pun Mengingatkan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah mengajarkan dakwah Islam dengan cacian dan permusuhan. Bahkan Rasulullah Sawmenegaskan, jika Fathimah binti Rasulullah berbuat kriminal sekalipun, beliau sedia langsung menghukumnya. 

 

“Jadi, tidak ada perbuatan tercela yang boleh disandarkan ke dzurriyat Rasulullah Sawdan tidak boleh disandarkan ke Islam. Jikalau kita tetap melakukannya maka inilah kedustaan ke Allah Ta’ala,” tegasnya.

 

Apa pun alasannya, mencaci ialah perbuatan tercela. Belum pernah ada contohnya dari Nabi SAW, dari sahabat siapa pun dan dari ulama salaf 1 pun yang berdakwah dengan mencaci-maki. 

 

Apalagi waktu ini muncul fenomena tercela yang dikerjakan orang tertentu dengan mencaci-maki pemerintah. Padahal Nabi Saw bersabda dalam hadits riwayat Turmudi, “Barangsiapa yang menghina seorang pemimpin, maka Allah akan menghinakannya.”

 

Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Kendi Setiawan

Beda Kritik dan Cacian dalam Berdakwah – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *