Begini Pola ‘New Normal’ di Pesantren Tebuireng Jombang – Aspiratif News

Views: 19
Read Time:3 Minute, 8 Second

Begini Pola ‘New Normal’ di Pesantren Tebuireng Jombang – Aspiratif News

Jombang, Aspiratif News

Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur sudah bersiap diri menerapkan new normal di lingkungan pesantren. Sampai hari ini segala teknis penyokong ke Pelaksanaan tatanan kenormalan baru itu terus dipersiapkan.

 

“Karena kita sungguh tidak dapat berdiam terus, mesti memulai kegiatan-kegiatan di pesantren. Tetapi juga dengan memperhatikan protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah,” kata Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz waktu dijumpai Aspiratif News di ndalem kesepuhan, Rabu (17/6).

 

Proses penerapan new normal diawali dari pola kembalinya santri ke pesantren. Ribuan santri Tebuireng yang sampai waktu ini masih di rumah masing-masing Diplaningkan kembali ke pesantren secara berangsur. Dalam waktu tidak lama diprioritaskan cuma untuk santri kelas 3, baik di jenjang sekolah lanjutan tingkat ke-1 (SLTP) maupun sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA).

 

“Pertimbangannya anak kecil kelas 3 itu lebih mudah kita dapat ajak bicara karena butuh kedisiplinan di dalam menerapkan protokol kesehatan,” ungkapnya.

READ  Terus Berkerja dan Gantungkan keinginan Cuma Ke Allah

 

Tahap ke-1, bagi kyai yang akrab dipanggil Gus Kikin ini menarget sebanyak 30 % santri Tebuireng sudah kembali setidaknya pada bulan Juli. Hitungannya mereferensi pada nominal semua santri yang Ada di kelas 3 SLTP dan SLTA secara keseluruhan.

 

“Kita memasukkan (mengembalikan) santri kira-kira dari 30 % dulu,” ucap Gus Kikin.

 

Keputusan taktik ini diambil dengan memperhatikan situasi penyebaran Covid-19 yang tetap merebak, juga agar pihak pesantren lebih mudah mengevaluasi keputusan taktik new normal waktu sudah diberlakukan.

 

“Kita belum tahu nanti penerapan new normal di pesantren dapat berjalan dengan baik atau tidak. Makanya kita evaluasi terus sesudah santri tahap ke-1 kembali ke pesantren,” ujarnya.

 

Para santri yang sudah kembali nantinya tidak langsung memulai proses pembelajaran, melainkan diisolasi terlebih dahulu selama 2 Minggu di tempat yang sudah disediakan, yaitu gedung Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) dan Ma’had Aly. Seterusnya, sesudah sepuluh hari diisolasi akan Dilakukan rapid tes.

 

“Santri semua masuk (kembali) dulu, kemudian isolasi 14 hari, nah di hari kesepuluh baru kita lakukan rapid tes,” katanya.

READ  Pemprov DKI Pastikan Pesantren Belum Buka untuk Umum - Aspiratif News

 

Gus Kikin menjelaskan dengan tegas, bahwa ongkos rapid tes ditanggung oleh pesantren bukan atas ongkos mandiri masing-masing santri. Ia mengakui, di samping ongkos dari pesantren, pihaknya juga sudah berkomunikasi dengan beberapa pihak untuk membantu Pelaksanaan rapid tes.

 

“Rapid tes dari pesantren. Kita macam-macam, ada yang dapat sokongan. Santri tidak dikenakan ongkos rapid tes dan insyaallah sanggup,” ujarnya.

 

Penegakan protokol kesehatan dan kedisiplinan santri Ialah kunci new normal di pesantren akan efektif. Karenanya, Gus Kikin mengakui pesantren sudah mempersiapkan ragam kebutuhannya, seperti tempat cuci tangan di bermacam titik. 

 

Begitu juga santri nantinya akan menerapkan physical distancing atau menjaga jarak, baik waktu ngaji, tidur, antre makan, makan, dan seterusnya. 

 

“Di jasa boga sudah kita kasih tanda di mana santri mesti menjaga jarak. Lalu di tempat makan pun juga begitu. Begitu juga waktu santri ngaji di masjid sudah ada tanda jaga jarak,” jelasnya. Terkait tempat tidur, karena baru sepertiga santri yang kembali, tempatnya otomatis longgar, lanjutnya.

READ  Pemerintah Tengah Godok Larangan, Disokong PBNU - Warta Batavia

 

Sementara itu, jadwal kembalinya santri tahap berikutnya belum dapat dipastikan. alasannya, pihak pesantren akan mengevaluasi terlebih dahulu sesudah tahap ke-1 selesai. Yang jadi pertimbangan bukan kecepatan santri dapat kembali ke pesantren, tapi lebih untuk seberapa efisien protokol kesehatan di pesantren Dilakukan santri.

 

“Nah, hal ini tidak ada target waktu. Kalau semua proses protokol kesehatan berjalan dengan baik, kita melangkah pada tahapan seterusnya. Artinya itu tergantung pada situasi yang ada, bukan pada target waktu,” ungkapnya.

 

menurut data internal pesantren, sebagian besar santri Tebuireng sungguh dari Jawa Timur. Jumlahnya mencapai 59,8 % dari total 3.881 santri mukim. Disusul Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten dan Kalimantan Timur. Untuk itu Gus Kikin menjelaskan dengan tegas akan terus melakukan kajian dan evaluasi karena kondisi di lapangan yang terus dinamis. 

 

Pewarta: Syamsul Arifin

Editor: Ibnu Nawawi

 

Begini Pola ‘New Normal’ di Pesantren Tebuireng Jombang – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *