Belajar Toleransi dari Bahasa al-Quran

Karikatur publik figur lintas agama berkumpul bareng (sumber: istimewa)

Oleh Iin Sholihin
Aspiratif News – Ummat Islam di Indonesia tengah gandrung dengan aksen Bahasa Arab. Lebih suka mempergunakan kata “ana” untuk menyebut diri mereka. Menyebut orang lain yang tengah diajak berbicara dengan sebutan “antum”. Menyebut kawan laki-laki dan Sahabat wanita dengan “ikhwan” dan “akhwat”. Bahkan menjelaskan “syukron” dan “afwan” untuk berterima kasih dan meminta maaf.

Muncul mitos baru di kalangan masarakat awam. Orang yang sering mempergunakan potongan-potongan kecil Bahasa Arab tersebut dinilai lebih islami. Lebih dekat dengan kesempurnaan ajaran Islam. “Tidak ada salahnya kan mulai membiasakan diri mempergunakan bahasa al-Quran mulai dari masalah yang remeh?” Begitu dalih mereka. Bahasa Arab sepenuhnya dinilai bahasa al-Quran yang suci. Karena al-Quran jadi representasi langsung dari kalam ilahi.

Seperti itulah pandangan soal Bahasa Arab selaku bahasa al-Quran waktu ditinjau dari sudut pandang keagamaan yang dimaknai secara normatif. Tetapi kalau bahasa al-Quran tersebut dikaji mempergunakan ilmu-ilmu sosial, maka akan menghasilkan perspektif lain yang jauh tak sama dari sebelumnya. Al-Quran tidak cuma terdiri dari Bahasa Arab saja, di dalamnya Ada keragaman bahasa. Merepresentasikan sifat keterbukaan al-Quran.

Bahasa selaku Simbol

Bahasa kata atau tulis jadi bagian media yang paling mudah dalam memahami atau mengungkapkan simbol untuk yang lainnya. Manusia selaku makhluk simbolik, mempunyai kategori bahasa tersendiri dalam mengutarakan sebuah ide dan perasaan dalam pikirannya.

Kubu yang tergabung di angkatan bersenjata pasti mempunyai simbol tersendiri dalam menyampaikan pesan antar sesama. Karena, bahasa dipresentasikan tak sama oleh pemakainya. Bahasa berupa rangkaian simbol-simbol penunjuk makna yang sudah disepakati masarakat.

Tetapi, waktu suatu masarakat hidup berdampingan dengan bangsa lain secara tidak langsung akan mempengaruhi aspek kebudayaan 1 sama lain, termasuk dalam aspek bahasa. Proses penyerapan kata dalam bahasa jadi lazim dan umum. Seperti ini juga bangsa Arab, yang terkenal semenjak dulu sering melaksanakan niaga ke negara lain. Tentunya, hal ini jadi trigger paling Inti dalam penyerapan bahasa.

Proses penyerapan bahasa asing ke dalam bahasa Arab telah terjadi semenjak lama. Hubungan bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lainnya seperti Persi, Yunani, Qibthi, dan Romawi di bermacam aspek kehidupan, membikin penyerapan bahasa jadi sebuah keniscayaan. Sehingga, tidak mengherankan jikalau di dalam al-Quran Ada kosa kata yang berasal dari bahasa non Arab.

Dalam kitab al-Muhadzab Fima Waqo’a Minal Mu’arob, Imam Suyuthi menghimpun kosa kata asing dalam al-Quran. Kosa kata itu berjumlah 125 kata. Adapun Muhammad Ali Balasi menyebutkan ada 160 kosa kata asing. Sungguh hitungan total kosa kata ini tidak begitu banyak kalau bandingkan dengan hitungan total kata dalam al-quran. Tetapi, keberadaan kosa kata asing jadi bagian realitas dalam al-Quran.

Dalam pandangan Heidegger seperti dilansir Reza A. Watimmena dalam rumahfilsafat.com, realitas mengungkapkan diri pada kesadaran manusia. Di mana manusia menangkap realitas itu sendiri tidak lepas dari hubungan manusia dengan realitas sekitarnya. Sehingga, pengungkapan diri realitas tidak Mengandalkan pada ruang kosong, melainkan pada kesadaran manusia dan apa yang melatarbelakanginya, termasuk memahami realitas bahasa asing dalam al-Quran.

Sebagian ulama menyaksikan bahwa keberadaan bahasa asing di dalam al-Quran, kontradiktif dengan ayat Tuhan (Qs. Yusuf: 2 dan Ibrahim: 4). Mereka menilai adanya bahasa asing jadi penanda kelemahan kalam Tuhan serta akan menciderai kemukjizatannya.

Adapun ulama lain menilai kekayaan bahasa al-Quran mengandung banyak hikmah. Keberadaan bahasa-bahasa tersebut jadi tanda kemajemukan masarakat pada waktu itu. Keragaman bahasa ini juga menandakan sifat keterbukaan al-Quran. Perbedaan dalam mengungkapkan realitas kata asing berdasar penghayatan kepada hubungan triadik antara penanda, petanda, dan tanda dalam memahami realitas tersebut: kosa kata asing dalam al-Quran.

Bahasa; Karakter Bangsa

Bahasa memperlihatkan karakter bangsa. Pepatah lama ini menggambarkan bahwa bahasa bukan semata jadi alat komunikasi. Melainkan pula mencerminkan karakter penuturnya. Dalam kajian sosiolinguistik, bahasa sungguh tidap dapat dilepaskan dari kultur sosial masyarakatnya. Al-Quran selaku pedoman ummat Islam yang mempunyai bermacam bahasa di dalamnya, jadi petanda sifat keterbukaan al-Quran. Hal itu seyogyanya memotivasi ummat Islam agar memperlihatkan karakter yang inklusif dan mudah menerima segala perbedaan.

Sejarah menulis waktu Nabi Muhammad Ada di Madinah, warga di sana tidak cuma orang Islam, Ada pula bermacam aliran kepercayaan dan suku-suku lainnya. Untuk mengakomodir hak-hak pengikut agama lain, Nabi Muhammad membikin Piagam Madinah selaku undang-undang negara yang ditaati bareng. Piagama Madinah jadi representasi dari sifat keterbukaan Islam kepada agama dan kepercayaan lainnya.

Keterbukaan Islam tersebut secara kontras jadi tertutup kalau menyaksikan realitas kehidupan ummat Islam Indonesia waktu ini. Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, sebagian kubu Islam Indonesia menampakkan wajahnya yang ekslusif. Tertutup kepada keberagaman, apalagi yang berhubungan dengan perbedaan agama. Ekslusifitas ummat Islam Indonesia begitu kelihatan dalam Perkara Pilkada DKI Jakarta 2016 lalu yang malah dipertontonkan oleh para  pemuka agama. Kenapa pemuka agama malah mempertontokan sikap yang ekslusif dan intoleran?

Pola keagamaan yang dipertontonkan pemuka agama malah mencerminkan sikap intoleran dan ekslusif. Diskriminasi kepada pemeluk Jemaat Ahmadiyah di Kendal atau pengikut keyakinan Sapta Dharma di Pati, tidak lain berawal dari fatwa-fatwa “sesat” dari elit agama. Bagian pengikut Jemaat Ahmadiyah Kendal pernah bercerita untuk penulis, semenjak mengenyam pendidikan SD sampai SMA, ia kerap kali memperoleh perlakuan intoleran dan diskriminatif dari orang sekitarnya. Kejadian-kejadian naas yang dialaminya begitu membekas sampai sekarang dan meninggalkan cedera psikologis yang tidak mudah dilupakan. Ini cuma sebagian kecil Perkara diskriminatif yang terjadi di bumi pertiwi ini.

Prilaku intoleran dan diskriminaif ini amat menciderai kultur bangsa ini, yang dibangun di atas keberagaman serta kemajemukan masyarakatnya. Islam selaku agama kebanyakan wajib sanggup jadi pengayom bagi kelompok-kelompok minoritas lainya. Jangan sampai prilaku intoleran dan diskriminatif terus berkambang di negara ini, karena hal itu dapat merusak persatuan dan keutuhan NKRI.

Maka telah seyogyanya, elit agama melepas ego dalam beragama. Setidaknya mereka mau sedikit membaca kembali (tanda) keberagamaan bahasa al-Quran. Sehingga pemuka agama dapat memperlihatkan dan mencontohkan sikap terbuka dan inklusif. Agama tidak lagi dikonteskan dalam aspek siapa yang benar dan salah, melainkan agama ialah jalan damai bagi seluruh pemeluknya. Kedamaian semacam itu akan terasa lebih indah, bukan? [Aspiratif News/in]


Belajar Toleransi dari Bahasa al-Quran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *