a6b7f00c-4c84-484b-af6b-bfa287441bce_169.jpeg

Beras Melimpah, Buwas Beberkan Bukti RI Tak Butuh Impor

Diposting pada

Direktur Utama Bulog Budi Waseso menggagalkan rencana impor beras 1-1,5 juta ton. Pria yang akrab disapa Buwas ini yakin Indonesia masih bisa memenuhi kebutuhan beras masyarakat dari produksi dalam negeri.

Selain itu, cadangan beras CBP pemerintah di gudang Bulog saat ini mencapai 923.000 ton.

“Hari ini beras CBP kita 902.000 ton, ditambah serapan kemarin 800.000 ton, sekarang meningkat. Total penguasaan Bulog hari ini 923.000 ton,” kata Buwas dalam webinar PDIP, Kamis (25/3/2021).

Selain itu, Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksikan produksi beras pada Januari-April 2021 mencapai 14,54 juta ton dengan kebutuhan 9,7 juta ton. Dari angka tersebut, diproyeksikan selama periode Januari-April 2021 terjadi surplus stok beras sebesar 4,8 juta ton.

“Saya ingin membuktikan kepada diri sendiri bahwa produksi dalam negeri sudah cukup. Saya tetap berpegang pada apa yang dikomunikasikan oleh Kementerian Pertanian dan BPS. Jadi kalau saya tidak percaya, siapa yang saya percayai?”

Buwas mencontohkan, rencana impor beras 1 juta ton tidak sesuai dengan kondisi negara yang hendak masuk panen utama.

Baca Juga :  Jejak Digital Cuitan ‘Maaher Soni Ernata’: Hina Ulama NU Hingga Berujung Penangkapan

“Impor masih harus kita deklarasikan, terutama beras. Ini juga waktu panen. Saya tidak membicarakan impor karena saya bukan politisi, bukan pengambil keputusan, ”jelasnya.

Nasi mengendap

Impor beras yang sama dilakukan pada 2018 sebanyak 1,8 juta ton. Namun, hingga saat ini stok beras impor belum habis dan kualitasnya menurun. Memang, 200.000 ton beras yang diimpor pada 2018 masih tersisa hingga saat ini dan 106.000 ton terancam rusak atau busuk.

“Sisa beras impor sekitar 200.000 ton. Ada risiko beras impor rusak 106.000 ton. Dari dalam negeri sudah aman,” kata Buwas.

Ia pun menceritakan bagaimana pengalaman mengimpor 1,8 juta ton beras pada akhirnya sulit didistribusikan sehingga terancam busuk.

Buwas mengatakan, impor beras saat itu karena cadangan beras pemerintah (CBP) di Perum Bulog hanya 600.000 ton, sedangkan Bulog diberi tugas menyalurkan kesejahteraan masyarakat (Bansos) untuk beras sejahtera (Rastra) hingga 2,6 juta ton per tahun. .

Sayangnya, program Bansos Rastra yang sempat dicekal pemerintah menjadi Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) pada 2019. Dalam program BPNT, Bulog bukan lagi penyedia utama. Akibatnya, beras impor di gudang Bulog sulit didistribusikan dan ditumpuk.

Baca Juga :  Perang Yaman Sudah Berlangsung 2100 Hari, Ini Rincian Jumlah Korban dan Kerusakan

Meski kualitas beras impor masih bagus, menurut Buwas, distribusinya sulit. Pasalnya, jenis beras yang diimpor tidak sesuai dengan jenis beras yang biasa dikonsumsi sebagian besar masyarakat Indonesia.

“Sisa 1,8 juta ton beras Bulog bermasalah impor. Kenapa masalah ini? Nasinya oke, enak. Masalahnya kebanyakan jenis beras impor adalah buah pir. Pir no. Utamanya dikonsumsi masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Oleh karena itu, beras impor juga harus didistribusikan dengan cara mencampurkannya dengan beras produksi dalam negeri.

“Bulog, kalau mendistribusikan, dalam usaha apapun pasti bercampur dengan beras dalam negeri. Rasio minimalnya 1: 1 agar bisa diterima perusahaan kami,” ujarnya.[detik.com]

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *