Berawal dari MKNU, Kaum Milenial Nahdliyin Siap ‘Hijaukan’ Negeri Sakura – Aspiratif News

Views: 19
Read Time:2 Minute, 39 Second

Berawal dari MKNU, Kaum Milenial Nahdliyin Siap ‘Hijaukan’ Negeri Sakura – Aspiratif News

Jakarta, Aspiratif News

Cerita suka-duka menghidupkan Nahdlatul Ulama begitu terasa bagi kaum milenial Nahdliyin di Jepang. Cerita tersebut mengemuka dalam acara sharing dan shalawat bersama-sama pemuda-pemudi NU Jepang, Jumat (3/7) malam.


Ketua Gerakan Muda Nahdlatul Ulama (GMNU) Jepang Dimas Wahyu Sulistiyono mengisahkan awal mula GMNU didirikan enam bulan silam, tepatnya pada Minggu ke-1 Januari 2020.


“Awalnya, pada 3-5 Januari diadakan Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU) di Jepang. Dari situ, kami membahas soal gerakan milenial Nahdliyin, dan kami setuju mendirikan GMNU. Waktu itu, saya terpilih jadi ketua,” jelasnya waktu jadi narasumber.


Dalam acara yang disiarkan langsung melalui aplikasi Zoom dan akun Facebook GMNU Jepang ini, Dimas juga bercerita Soal hal pengalaman pertamanya di Negeri Sakura, yaitu sulitnya mencari majelis ta’lim untuk belajar agama secara bersama-sama.


“Dulu, ke-1 saya di Jepang bingung mencari majelis. Kemudian saya diajak Sahabat untuk ke Tokyo karena di sana ada majelis milik NU. Ternyata, saya merasa nyaman. Akhirnya saya berpikir ingin mendirikan MWCINU di Shizuoka, tempat saya tinggal,” ungkapnya. 

READ  Amalan Agar Terhindar dari Siksaan Kubur


menurut dia, sesudah terkumpul kisaran 10 orang, disepakati untuk mendirikan MWCINU Shizuoka Jepang. Bareng ke-2 Sahabat lainnya, Dimas kemudian memelopori berdirinya MWCINU Shizuoka.


Wakil Ketua MWCINU Shizuoka itu juga menceritakan, niatnya mendatangi kota dengan minoritas muslim tersebut tidak cuma sekedar ingin bekerja. Ia juga ingin banyak beribadah di sana.

Membagi waktu

Sebagai bagian orang berpengaruh di NU Jepang, ia menerangkan cerita suka dukanya selama jadi pengurus. Hal terberat sungguh wajib dapat membagi waktu antara organisasi dan pekerjaan lain.


“Dulu sebelum mengenal NU, tiap-tiap hari Ahad saya sering olahraga. Akan tetapi sesudah ikut mengurusi NU, sekarang khidmat di NU jadi prioritas,” ungkapnya.


Ia menambahkan, koordinasi untuk sesama pengurus NU di Jepang wajib selalu dijalin dengan baik. Karena akan makin meringankan tugas jika ditunaikan secara bersama-sama, terlebih di negeri orang. “walaupun jarak tiap-tiap kota cukup jauh, untuk khidmat NU tidaklah jadi problem.”


“Seperti kemarin saya ke kantor PCINU di Tokyo. Saya Datang ke sana walaupun jaraknya jauh, mempergunakan transportasi yang jika dirupiahkan dapat habis 1 juta. Tidak problem bagi saya, karena semua kembali pada niat untuk khidmat. Pasti akan ada rejekinya sendiri,” tandasnya.

READ  Waktu Gus Mus Diminta Ceramah di Depan Kiai-kiai Sepuh - Aspiratif News


Dimas berharap, misi ‘menghijaukan’’ Negeri Sakura yang telah jadi cita-cita bersama-sama dapat terlaksana, sesudah beberapa daerah telah mendirikan MWCINU.


“Sedih sesungguhnya, NU di Jepang mulai berkembang seperti di Ibaraki, Shizuoka, Aichi, Gifu, Kanazawa, dan akan dibentuk juga MWCINU di Osaka dan Hiroshima. Akan tetapi, itu semua terlaksana waktu saya akan kembali ke Indonesia. Saya ingin berjumpa dengan sesama penduduk NU di Jepang,” jelasnya.


Ia percaya, dengan menebar benih kebaikan maka akan tumbuh keberkahan yang terus mengalir. “Semoga akan terus ada regenerasi,” pungkasnya.


Dalam acara yang dimoderatori Ketua MWCINU Ibaraki Aditya Bastyas Mulya ini, juga Hadir narasumber lain yaitu Ziyah El-Adawiyah, seorang influencer dan selebram. Penyanyi NU Channel PBNU ini berbicara Soal hal hijab bukan sebagai halangan kaum milenial untuk sukses di usia muda. 


Kontributor: Afina Izzati

Editor: Musthofa Asrori

Berawal dari MKNU, Kaum Milenial Nahdliyin Siap ‘Hijaukan’ Negeri Sakura – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *