Connect with us

Opini

Berebut ‘Turbo Impact’ Desa

Published

on

Desa kini menjadi kekuatan baru. Dalam perspektif politik, desa tak lagi hanya menjadi destinasi tradisional tentang etalase pangan dan lingkungan lestari namun sudah menjadi entitas baru dalam penguatan bidang ekonomi dan gerakan sosial yang diperhitungkan negara. Itulah hasil capaian setelah Presiden RI ke 7 Joko Widodo mentasbihkan Desa sebagai bagian dari strategi nasional melalui Nawacitanya yakni “membangun Indonesia melalui pinggiran, perbatasan dan desa”.

Melansir laporan dari Direktorat Jenderal Pembendaraan Kementerian Keuangan RI tahun 2022 terbukukan sejak tahun 2015, Dana Desa –instrumen kebijakan politik anggaran untuk mengakselerasi kemajuan desa– sudah tersalurkan Rp 400,1 triliun yang digunakan untuk membangun infrastruktur dari mulai jalan desa, embung, irigasi, jembatan, pasar, fasilitas air bersih, drainase, sumur dan penguatan ekonomi lainnya.

Pagu Dana Desa tahun ini ditetapkan sebesar Rp 68 triliun yang dialokasikan kepada 74.961 desa di 434 kabupaten/kota se-Indonesia. Berarti ada penurunan Rp 4 triliun dibandingkan tahun lalu yang teranggarkan sebesar Rp 72 triliun.

Kebijakan distribusi anggaran ini yang menarik untuk dibahas. Dan political will Presiden Jokowi bukan sebatas odong-odong alias penggembiraAlhasil, dampak masuknya Dana Desa yang diperuntukkan untuk keperluan esensial pembangunan desa ternyata mampu menjadikan desa menjadi kekuatan ekonomi baru. Bahkan enjin ekonomi yang berkategori turbo di masa depan. Ibarat mobil, desa itu meski memiliki kapasitas enjin / cc yang kecil namun dibenamkan turbo yang mampu melaju cepat dalam waktu singkat.

Advertisement

APA YANG TERJADI SAAT PANDEMI 2020?

Saat pandemi selama dua tahun, desa dan hasil bumi yang dihasilkan nyaris tak terdampak. Warga desa tetap saja melakukan aktivitas sebagaimana biasa. Sejak subuh, musala tetap saja penuh dengan jamaah, pagi ke ladang atau berkebun dan hasilnya dinikmati sendiri oleh keluarga, barter hasil bumi dan sebagian dijual ke pasar terdekat dan sore hari masih saja kedapatan kenduren atau kongkow sambil ngopi dan ngudut/ merokok antarwarga di wilayahnya.

See also  Meminimalkan Risiko di Negeri Rawan Tsunami

Itu bukan berarti desa tak perduli bahaya infeksi Covid-19 yang konon mengincar para komorbit yang berusia lanjut untuk cepat menjadi pesakitan dan berakhir kematian. Warga desa lebih meyakini tentang kematian itu sebagai takdir, sementara bertahan hidup dengan tetap bersosialisasi dan berkebun merupakan keterpanggilan alam untuk memaknai apa arti kebersamaan dalam hidup.

Masuknya Anggaran Dana Desa/ ADD ke ribuan desa sejak tahun 2015 oleh pemerintah pusat menjadikan performa desa menjadi lebih kokoh, solid dan memahami arti kebijakan anggaran yang benar-benar dibutuhkan oleh desa.

Lepas 2,5 tahun pascapandemi kini desa-desa di Indonesia laksana jamur di musim penghujan prestasinya. Ada yang menjadi desa wisata, desa pangan, desa mandiri energi, desa entrepreneur dan lain-lain.

Advertisement
Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *