Juli 14, 2020

ASPIRATIF

Aspiratif Situs Web Berbagi Aspirasi dan Berita Indonesia Terkini, Update Setiap Hari ….

Bisikan Tafsir Surat Al Fath Mbah Bisri untuk Mbah Moen – Warta Batavia

img
9 Views
Read Time:4 Minute, 40 Second
KH Maimun Zubair (Mbah Moen) dan KH Bisri Musthofa (Mbah Bisri).

Oleh KH Yahya Cholil Staquf

Islam Nusantara – Sudah semenjak lama saya tahu bahwa kiai Maimoen secara istiqomah menunaikan ibadah haji tiap-tiap tahun. Tetapi hari itu ke-1 kali beliau Datang ke Rembang untuk keperluan,

“Pamit untuk Mbahyi”, kata beliau, “Soalnya kali ini saya mau haji pramuka”.

Walaupun saya tidak berkata apa-apa, beliau tahu, saya bertanya-tanya dalam hati soal maksud “haji Pramuka” itu.

“Haji bawa beras, bawa ikan asin, cobek, dan lain-lain, itu kan seperti pramuka”, dan beliau terkekeh sendiri, saya iringkan dengan senyum-senyum geli.

Sungguh, biasanya beliau berangkat haji dengan Fasilitas VIP, tidak ikut iring-iringan “ONH biasa” seperti tahun itu.

“Ini sungguh saya sengaja, soalnya tahun sekarang umurku genap seribu bulan”, beliau menerawang sejurus, “Seribu bulan itu ya delapan puluh 3 tahun lebih 4 bulan. Orang dapat dikatakan sempurna istiqomahnya itu jikalau sudah menjalani sekurang-kurangnya delapan puluh 1 tahun.”

Entah kenapa, ungkapan beliau itu mempublish rasa ngungun di hati saya. Tidak lama sesudah Lawatan itu, Mbahyi, nenek saya, Nyai Ma’fufah Bisri, wafat dalam usia 96 tahun.

kiai Maimoen ialah tempat saya Datang tiap-tiap saya mengalami kegelisahan hidup yang memuncak. Tetapi waktu sowan untuk beliau, tidak pernah saya matur, wadul ataupun menanyakan apa-apa. Saya cuma mendengarkan apa pun yang beliau dhawuhkan sambil sesekali mencuri-curi pandang muka beliau. Dan selalu yang beliau sampaikan pas menotok dan mengurai hal-hal yang jadi bundhelan keruwetan hati dan pikiran saya. Beliau menjawab pertanyaan-pertanyaan saya tanpa saya mesti menanyakannya. Maka selalu sesudah sowan, saya merasakan kelegaan dan kecerahan dan kesegaran jiwa seperti habis mandi.

“Saya ini tidak dapat dipisahkan dari Mbah Bisri”, beliau memaksudkan Mbah Bisri Mustofa, kakek saya, “Saya tresno untuk beliau dan saya rasakan betul beliau sungguh tresno kepadaku. Pada waktu beliau dirawat di RS sebelum wafat, beliau memanggilku dan mengajakku bicara tanpa ada orang lain. Disitu beliau membisikkan kepadaku tafsir beliau atas akhirnya Surah Al Fath”.

kiai Maimoen lalu menguraikan tafsir ayat ke-29, ayat terakhir dari Surah ke-48, Surah Al Fath itu. Bahwa ayat itu menggambarkan sejarah Kemajuan Islam.

“Pada mulanya Kanjeng Nabi sendirian, menanggung segala sesuatunya sendirian. Memikul tanggung jawab sendiri. Muhammadun rasuulullah. Lalu Datang sahabat-sahabat yang beriman yang menemani beliau. Walladziina ma’ahu…”

Seterusnya ialah zaman para khalifah yang melakukan penaklukan-penaklukan dan memperluas wilayah kekuasaan: “Asyiddaa-u ‘alal kuffaar”. Lalu sesudah sistem politik mapan, dibangun peradaban untuk kemakmuran dan kesejahteraan semua orang: “Ruhamaa-u bainahum”.

“Taroohum rukka’an sujjadan yabtaghuuna fadl-lan minallaahi wa ridlwaanaa” ialah isyarat lahirnya generasi shufiyyiin mulai Imam Hasan Al Bashri dan seterusnya. Akhirnya ialah generasi “Siimaahum fii wujuuhihim min atsaris sujuud”. Yaitu generasi kita ini.

“Zaman yang asalkan orang sudah mau shalat, itu sudah sebaik-baiknya orang”, kiai Maimoen menuntaskan uraiannya.

Saya rasakan tiap-tiap kali saya sowan bahwa bukan cuma saya yang menikmati perjumpaan, tapi beliau juga senantiasa kelihatan girang, hangat dan bahagia. Saya tidak punya nyali berlama-lama karena takut membikin beliau capek atau keterlaluan banyak merampok waktu beliau. Tetapi selalu beliau yang mencegah saya buru-buru pamit, sampai percakapan berlangsung berjam-jam. Minimal 2 jam. Bahkan sampai 4 jam tanpa jeda!

Itu ialah Kesempatan luar biasa untuk “nadhongi” ilmu dalam takaran raksasa. Selalu saya jadi terengah-engah secara mental karenanya.

Dari wejangan-wejangan kiai Maimoen itulah saya lalu mengolah bermacam wacana untuk diperkenalkan untuk publik, baik domestik maupun internasional. Wacana soal Islam Nusantara, Deklarasi Nahdlatul Ulama pada International Summit Of Moderate Islamic Leaders (ISOMIL) dan Deklarasi Global Unity Forum, tahun 2016. Deklarasi “Humanitarian Islam” (Al Islam lil Insaaniyyah) tahun 2017. Dan “Manifesto Nusantara” tahun 2018. Semua diilhami dan Ialah hasil olahan dari wejangan-wejangan kiai Maimoen. Termasuk juga pernyataan-pernyataan dan pidato-pidato saya di Yerussalem tempo hari.

Terbukti inspirasi-inspirasi dari kiai Maimoen itu disambut oleh penduduk internasional dengan antusiasme luar biasa. Membikin saya diundang ke bermacam negara untuk memaparkannya. Membikin Michael Pence, Calon Wakil Presiden Amerika, merasa Penting mengundang saya ke Gedung Putih. Dunia menyaksikan inspirasi-inspirasi kiai Maimoen sebagai harapan jalan keluar dari kebuntuan kemelut global!

3 hari sesudah ayah saya wafat, kiai Sholeh Qosim Allah Yarham, Sidoarjo, menakziyahi saya.

“Kesedihan sampeyan hari ini ialah kesedihannya orang kehilangan”, beliau mewejang, “Itu belum kesedihan yang sesungguhnya. Sampeyan siap-siap ya, Gus. Kesedihan yang sesungguhnya itu akan Datang paling tidak sesudah 4 puluh hari. Yaitu sesudah sampeyan menyadari mesti menanggungkan segala sesuatunya sendiri. Tanpa penjagaan dan bimbingan orang tua”.

Segala capaian dalam aktivisme saya ialah karir “membahasakan inspirasi-inspirasi kiai Maimoen untuk publik dunia”. Sekarang, tanpa beliau, disapih dari wejangan-wejangan beliau, disapih dari barokah futuh yang beliau pancarkan, disapih dari suara halus beliau, kehangatan beliau, muka teduh beliau, dari harum tangan beliau… Saya merasa kembali seperti kanak-kanak ringkih terlempar sendirian ketengah hiruk-pikuk kekacauan dunia. Apakah yang masih dapat saya lakukan tanpa bimbingan beliau?

Saya tahu, ada ribuan, bahkan jutaan, orang yang merasakan kegalauan semacam saya. Kuatir akan ancaman kebuntuan hidup tanpa pengasuh jiwa yang selama ini jadi andalan wasilah permintaan futuh Allah.

Ke jutaan orang pencinta yang kehilangan itu, terlebih Famili dan dzurriyyah, saya tidak punya kata-kata takziyah. Saya bahkan tidak sanggup menakziyahi diri sendiri. Saya cuma sanggup berbagi desahan jiwa: “Allaah Wakiil…” [Islam Nusantara/gg]

Source: FB Yahya Cholil Staquf, dengan judul “ALLAAHU WAKIIL”.



Bisikan Tafsir Surat Al Fath Mbah Bisri untuk Mbah Moen – Warta Batavia

0 0
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %