Bom Gereja di Makassar Pesan Teroris untuk Densus

Diposting pada

Pada awal 2021, Detasemen (Densus) Antiteror ke-88 Polri berhasil menangkap sejumlah tersangka teroris di berbagai daerah. Mereka adalah anggota jaringan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) yang berafiliasi dengan ISIS dan varian Jemaah Islamiyah (JI) yang terkait dengan NII terkait dengan al-Qaeda.

Tabel Penangkapan Teroris Janurary – Maret 2021

Tidak. Tempat Bulan Jaringan kuantitas Informasi
1 Kompleks Villa Mutiara Biru 11, Kel. Bulurokeng, Kec. Biringkanayya, Makassar Januari JAD 20 Terlibat dalam pengiriman dana kepada pelaku bunuh diri di Katedral Zolo, Filipina.
2 Aceh Januari JAD 5 Seorang pegawai di pemerintahan kabupaten Aceh Timur
3 Kalimantan Barat (Pontianak, Kubu Raya, Singkawang) Februari JI 3
4 Jawa Timur Februari JI 22
5 Jakarta, Sumatera Utara, Sumatera Barat Februari JI 22 Penggalangan dana melalui dana amal di Tanjung Balai.
6 Tangerang Banten Maret JI 1
kuantitas 73

Sumber: Diolah oleh berbagai media online.

Bom yang meledak di Katedral Makassar, Minggu pagi (28/3/2021), masih dalam pemeriksaan polisi. Belum diketahui siapa pelakunya dan dari jaringan mana, karena bom ini adalah bom bunuh diri yang menewaskan pelakunya.

Dari sasaran penyerangan, kemungkinan besar pelaku berasal dari jaringan JAD. Hal itu diperkuat dengan penangkapan tersangka teroris di Makassar awal tiga bulan lalu. Jaringan teror tampaknya telah melaporkan ke markas polisi anti-terorisme Densus 88 bahwa mereka masih ada. Itu tidak menjual. Mereka masih bisa melakukan serangan teroris.

BACA JUGA Kecerdasan dan modernisasi senjata di zaman nabi David AS

Pemboman gereja tidak bisa dibenarkan, menurut yurisprudensi jihadis. Dalam jurisprudensi Jihad, warga sipil, wanita, anak-anak, orang tua dan pendeta tidak bisa dibunuh dalam keadaan perang. Apalagi dalam kondisi damai.

JAD yang berafiliasi dengan ISIS kehilangan Indonesia dalam konteks “Khilafah”. Mereka memandang Indonesia sebagai musuh bumi, padahal Indonesia bukan bagian dari kekuatan multinasional yang mengebom wilayah ISIS di Suriah dan Irak. Kebijakan luar negeri Indonesia tidak mengakui ISIS sebagai negara berdaulat. Negara Indonesia tidak ada hubungannya dengan ISIS.

BACA JUGA Mengomentari RUU Pemilu, Yusanto Halu

Adapun penangkapan “mujahidin” Isis di Indonesia, bukan karena mereka memusuhi Islam, melainkan karena upaya polisi, karena aktivitas “mujahidin” Isis melanggar hukum, mengganggu keamanan dan ketertiban umum.

Isis “Mujahidin” di Indonesia, meski tidak menganggap Indonesia sebagai daulahnya, tetap dianggap warga negara Indonesia, sehingga harus terikat dengan hukum positif yang berlaku di Indonesia.

Akibatnya, tindakan terorisme yang dilakukan di Indonesia salah menurut hukum positif dan hukum syariah. Termasuk serangan terhadap gereja.

Ayik Heriansyah

Sumber: https://harakatuna.com/bom-g Gereja-di-makassar-teroris-pesan-untuk-densus.html?

(Warta Batavia)

link sumber

Baca Juga :  Mahfud: Tak Setuju Aturan Pemerintah, Tempuhlah Mekanisme Konstitusional

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *