pelaku-bom-696x394.jpeg

Bom Makassar, Family-Terrorism dan Keterlibatan Perempuan

Diposting pada
Foto: dua terduga pelaku bom Makassar (Istimewa)

Ledakan bom Makassar di depan Gereja Katedral pada Minggu 28 Maret 2021 ternyata mirip dengan bom Surabaya tahun 2018. Tidak hanya jenis bom yang digunakan TATP / Triacetobe Triperoxida dan sasarannya adalah gereja. , tetapi penulisnya juga keluarga. Bedanya, jika pelaku bom Surabaya Dita Upriyanto mengundang istri dan 4 anaknya untuk mengebom Makassar Lukman (25) karena tidak punya anak, ia hanya bertanya kepada Yogi Safitri Fortuna, istrinya yang baru dinikahinya. 6 bulan sebelumnya. Fenomena penyerangan Makassat semakin memperkuat munculnya apa yang disebut sebagai “terorisme keluarga”.

Terorisme keluarga di Indonesia efektif menjadi modus operandi baru. Modalitas ini ditandai dengan keterlibatan ibu dan anak sebagai teroris. Pasca Bom Surabaya, Kasus Sibolga dan Kasus Menes. Jelas inspirasinya dari ISIS karena modus operandi ini sudah dipraktikkan ISIS sejak lama. Di Indonesia, JAD / Jamaah Anshorut Daulah mencoba mengadopsi modus operandi ini. Kebetulan setelah bom Surabaya saya melakukan sedikit penelitian dan menulis artikel dan presentasi tentang topik ini.

Meski tergolong baru di Indonesia, pada kenyataannya terorisme keluarga tidak bisa dikatakan sama sekali baru, melainkan merupakan perkembangan yang wajar dari modus operandi sebelumnya.

PERTAMA, persaudaraan teroris. Biasanya teroris akan mengundang orang terdekatnya terlebih dahulu, terutama keluarganya; istri, orang tua, saudara laki-laki, saudara perempuan, anak-anak dll. Sebelumnya kita mengenal teroris bersaudara Ali Ghufron, Amrozi, Ali Imron Lamongan dan pelaku bom Bali 1 dll.

KEDUA: perluasan partisipasi perempuan: dari muhajiroh ke mujahidah. Sebelumnya, banyak perempuan yang tergabung dalam kelompok teroris. Namun, mereka tidak menjadi martir / pelaku bom bunuh diri, melainkan menjadi peran sekunder seperti kurir, mata-mata, dan peran sekunder lainnya.

Ada banyak alasan mengapa wanita sekarang menjadi martir / pelaku bom bunuh diri. Di ISIS, karena tekanan yang meningkat di mana banyak jihadis laki-laki tewas, perempuan ikut campur. Ada juga alasan mengapa istri seorang wanita teroris membenci kematian suaminya. Ada juga alasan untuk diajak oleh suami dan menuruti suaminya. Ada yang karena keinginannya sendiri: artis / syuhada akan mendapat pahala yang lebih besar dari supporter / supporter sederhana, dsb.

Baca Juga :  Jarang Ngaji Diri, Kaum Radikal Jadi Sok Suci

Keterlibatan perempuan sebagai pelaku terorisme di Indonesia diawali dengan penangkapan tersangka teror Dita Millenia (18) dan Siska Nur Azizah (21) karena berusaha menikam polisi di pusat komando Brimob. Hubungan mereka dengan ISIS semakin menggarisbawahi keterlibatan perempuan dalam terorisme di Indonesia. Meski begitu, Dita dan Siska belum menikah, sehingga kasus tersebut tidak dianggap sebagai terorisme keluarga.

Sebelum Dita dan Siska, kita juga ingat kasus Noviyana di Cirebon / Indramayu yang menolong teroris laki-laki agar tidak dikejar polisi untuk menyimpan bahan pembuatan bom. Ia pun membeberkan rencana menjadikan Novi sebagai pelaku bom di kemudian hari. Novi sendiri mengalami radikalisasi selama menjadi TKW di luar negeri. Penelitian IPAC menunjukkan bahwa banyak perempuan pekerja migran di luar negeri (terutama di Hong Kong) terpapar ideologi ekstremisme kekerasan.

Keterlibatan (baca: pemanfaatan) perempuan dalam kelompok teroris di Indonesia patut mendapat perhatian. Wanita memainkan peran penting dalam rantai teroris. Mereka membantu aliansi teroris, misalnya dengan mencari jodoh bagi teroris laki-laki yang masih lajang atau sudah menikah tetapi ingin poligami. Wanita juga dapat membantu teroris secara finansial karena mereka lebih bebas berbisnis ketika banyak teroris pria dikejar oleh polisi. Para wanita tersebut terbukti menjadi kurir yang efektif, terutama dalam membantu teroris yang berada di penjara. Kini, pendalaman partisipasi perempuan sebagai pelaku penyerangan pun dinilai efektif karena mereka menyayangkan selain terselubung, terkadang mereka tidak memiliki kecurigaan terhadap aparat keamanan seperti teroris laki-laki lainnya.

KETIGA, ciri terorisme keluarga adalah keterlibatan anak. Mereka masih belum punya alasan yang bagus, jadi mereka tidak bisa memikirkannya. Anak masih bergantung pada orang tua baik secara psikologis maupun dengan kebutuhan lainnya. Oleh karena itu mereka cenderung mudah dipengaruhi oleh orang tua mereka yang teroris. Sebagian besar waktu itu karena orang tua mereka memberi mereka makan sehingga mereka tidak bisa menolak. Lebih jauh, penuturan yang digunakan oleh orang tua mereka seperti “pergi ke surga bersama ibu-ayah”. Bagi remaja, penuturannya biasanya lebih heroik dan spiritual, seperti jihad lewat agama, perang melawan kafir, perebutan keadilan, semuanya dengan dalih fi sabilillah (di jalan Allah).

Baca Juga :  Menhan Iran: Ada “Bukti Tak Terbantahkan” Keterlibatan Israel dalam Pembunuhan Fakhrizadeh

Dengan maraknya terorisme keluarga seperti tersebut di atas, maka pencegahan dan pemberantasan ekstremisme kekerasan kini harus didasarkan pada keluarga yang salah satunya berorientasi pada ketahanan keluarga.

Pertimbangan keterlibatan perempuan dan / atau ibu dalam program penanggulangan terorisme sangat penting dan tidak diragukan lagi. Sungguh meresahkan melihat keterlibatan perempuan yang tidak hanya berperan sebagai pendukung, tapi pernah terlibat sebagai syuhada atau pelaku bom bunuh diri. Maka tidak mengherankan, selain remaja, perempuan juga menjadi sasaran / sasaran dakwah ideologis dan perekrutan kelompok ekstremis brutal.

Berdasarkan karakteristiknya, wanita dipercaya memiliki loyalitas yang tinggi. Karena sangat berbahaya, sekali mereka terkena ekstrimisme maka akan lebih sulit untuk bertaubat / pindah agama. Beberapa peristiwa mendemonstrasikan hal ini. Jadi jika kita berbicara tentang keterlibatan perempuan dan ekstremisme, itu berarti satu paket dengan kerentanan remaja dan anak-anak karena mereka umumnya dekat dengan perempuan / ibunya. Oleh karena itu, strategi kontra terorisme bagi perempuan juga sedikit berbeda dengan strategi bagi laki-laki seperti yang selama ini dilakukan.

Secara umum, jika merujuk pada pendukung perempuan ekstremisme yang dihimpun oleh WGWC, prinsip dasar penanggulangan terorisme perempuan adalah sebagai berikut (tetapi tidak terbatas pada):

Pertama, perempuan harus memiliki kekuasaan, kemandirian, dan kemakmuran. Sekarang wanita karir tidak harus bekerja hanya di sektor publik. Wanita bisa bekerja dari rumah dan tidak kalah produktifnya. Setidaknya online2 dan industri domestik dll. Tidak ada satu pun rute ke Roma. Ada banyak cara dan cara bagi perempuan untuk memperoleh kekuasaan, kemandirian, dan kemakmuran.

Kedua, perempuan harus memiliki literasi media. Para ibu di Indonesia saat ini juga sepertinya sedang terserang demam media sosial. Ini seperti dua koin: bisa baik untuk wanita tapi bisa juga buruk. Oleh karena itu, literasi media menjadi kebutuhan yang penting dan mendesak di tengah derasnya arus informasi yang dipenuhi dengan hoax, propaganda, dll.

Baca Juga :  Bahlil Cerita Awal Mula Warga ‘Desa Miliarder’ Borong Mobil

Ketiga, wanita perlu berpikir kritis. Secara umum, ketika kita berbicara tentang filosofi yang terutama kritis dalam pemikiran, sains agak seksis dan filsuf kuno masih didominasi oleh laki-laki. Wanita perlu mengetahui filosofi dan alat lain yang dapat mempertajam kritik mereka.

Keempat, perempuan harus mempelajari agama yang moderat dan toleran. Saat ini banyak terdapat komunitas hijabers, komunitas hijrah, majlis taklim, sosialita syar’i dll. Oke, tapi kamu harus hati-hati. Jika memungkinkan akan diupayakan moderasi dan toleransi terhadap murabbi dan ustadz / ustadzah agar semangat perempuan dalam beragama lebih positif.

Kelima, perempuan perlu meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Mereka juga harus aktif. Aktif disini bisa apa saja. Pada dasarnya ada sarana / saluran / tempat untuk realisasi diri. Rasa kepemimpinan perempuan perlu diasah. Tujuan utamanya adalah agar wanita memberikan kontribusi positif kepada keluarga dan komunitas mereka.

Keenam, pemberantasan terorisme perempuan juga berarti memperjuangkan kesetaraan gender, baik di dalam keluarga maupun di masyarakat. Oleh karena itu, posisi bawahan dan inferior perempuan telah dan sekarang sudah usang. Hubungan suami istri kini semakin setara dan saling berbagi peran. Kesadaran ini diperlukan tidak hanya untuk wanita tetapi juga untuk pria (baik ayah maupun anak). Intinya adalah bagaimana kita menghormati dan menghormati satu sama lain tanpa memandang batasan gender, dll.

Betapa hangat dan diberkatinya itu. Danke

Suratno Muchoeri

Sumber: https://www.facebook.com/suratno.paramadina/posts/10159143700089725

(Warta Batavia)

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *