perempuan.jpg

Cara Membaca Hadis yang Dianggap Misoginis

Diposting pada

Tentu kita sering mendengar istilah-istilah kasar yang menyudutkan wanita, seperti fitnah, rusuk bengkok, dan penghuni neraka yang terbesar. Stereotipe semacam itu berkembang dalam masyarakat religius, diterima begitu saja karena “ada argumen”. Ya, istilah yang terdengar misoginis berasal dari teks hadits. Ini tentu saja membingungkan kita, mungkinkah Nabi Muhammad yang pengasih menjadi seorang misoginis? jelas itu tidak mungkin.

Kesenjangan antara martabat pribadi Nabi dan pemahaman misoginis yang berkembang dalam masyarakat Muslim, seperti masalah lainnya, berasal dari salah tafsir. Sayangnya, pandangan misoginis akibat minimnya pemahaman terhadap makna teks tersebut telah banyak disosialisasikan, bahkan berbudaya. Istilah “Misogynistic Hadith” dipopulerkan oleh Fatima Mernissi, seorang aktivis Maroko, melalui karyanya Women and Islam: An Historical and Theological Inquiry. Berawal dari keraguannya setiap mendengar hadits yang seolah melemahkan perempuan di pesantrennya, hal itu tidak masuk akal baginya. Akhirnya, dia banyak mempelajari dan mengkritik hadits. Hadis yang dikatakan misoginis adalah hadis Nabi yang nampaknya secara verbal melecehkan, membenci atau menyudutkan wanita.

Misalnya hadits Nabi yang berbunyi: “Aku diperlihatkan neraka dan aku melihat bahwa sebagian besar penghuninya adalah wanita” (HR. Bukhari, 3241), “Yang menanggung bencana adalah wanita, rumah dan kuda” (HR. : 2858), setelah kematianku, fitnah lebih berbahaya bagi laki-laki dari pada perempuan “(HR. Al-Bukhari no. 5.096), atau” Tidak beruntung suatu bangsa menyerahkan usahanya kepada perempuan “(HR. Bukhari No 4425) Semua hadits ini otentik dan berulang kali ditulis dalam literatur Islam.

Hadis yang tampak misoginis beredar di kalangan umat Islam, dipahami maknanya secara literal, atau ditolak begitu saja tanpa daya kritis. Plot ini, menurut Fatima Mernessi, melahirkan paradigma misoginis. Nabi Muhammmad SAW bukanlah misoginis, kegagalan memahami haditslah yang menyebabkan kesimpulan misoginis. Hadis adalah teks otoritatif, yang memiliki konsekuensi normatif yang mendalam bagi moralitas dan masyarakat Muslim. Oleh karena itu, hadits yang secara harafiah terkesan menyudutkan dan membenci perempuan seharusnya tidak dipahami berdasarkan bunyi teks saja.

Baca Juga :  Jerussalem Post Laporkan Kapan Saudi akan Umumkan Normalisasi Hubungan dengan Israel

Dalam pengantar kitab Kaifa Nata’amal Ma’a al-Sunnah, Guru Besar Ilmu Agama Islam, Thaha Jabir Ulwani menyatakan bahwa pemahaman tekstual sunnah berpotensi merusak citra sunnah, seperti model pemahaman. berdampak negatif pada penurunan otoritas Sunnah itu sendiri. Hal ini tidak boleh terjadi, karena sunnah adalah sumber peradaban dan ilmu pengetahuan dalam Islam, asalkan dipahami dengan metodologi yang benar. Oleh karena itu, dibutuhkan kekhususan dan profesionalisme untuk meneliti dan menemukan makna universal dari teks sunnah tersebut.

Tidak dapat dipungkiri bahwa adanya sebuah hadits yang terkesan misoginis, membacanya secara literal tentu tidak dianjurkan sama sekali. Oleh karena itu, akademisi dan ilmuwan Muslim yang menangani masalah gender mengembangkan bacaan yang lebih kontekstual untuk mendapatkan wawasan tentang keberadaan hadits tersebut.

Setidaknya, ada 3 (tiga) asumsi kritis feminis tentang hadits yang dianggap misoginis. Pertama, adanya politisasi hadis untuk mendukung pembelaan tradisi patriarki. Kedua, metodologi kritik hadits lebih diorientasikan untuk mengungkap otentisitas sanad, berpihak pada penegasan kebenaran. Jadi kalaupun ada kejanggalan dan kekurangan di mata, beberapa hadits misoginis diterima dengan pertimbangan sanad murni. Ketiga, pemahaman pengamatan hadits dilakukan secara doktrinal-normatif tanpa melihat proses hermeneutis yang terjadi di sekitar pembentukan teks. dengan demikian, misogini dipahami sebagian dan dengan cara patriarkal, sementara substansi pesan teks tidak ditangkap.

Seorang ulama besar abad ini, Abou el Fadl, yang dikenal dengan teori negosiasi hermeneutisnya, pernah mengkritik sebuah lembaga fatwa Arab Saudi (CRLO) yang kerap menggunakan hadits misoginis. Salah satunya mengenai kewajiban seorang istri untuk patuh dan patuh kepada suaminya, yang menurut CRLO selalu dikaitkan dengan hadits tentang penggambaran istri yang sedang bersujud kepada suaminya.

Baca Juga :  Al-Shaabi: ‘Negara Bagian Dajlah’ yang Diklaim ISIS Sudah Musnah

Di antara mereka kita membaca: “Dari Qais, kata Ibn Sa’id, ketika saya berhenti di Hirah saya melihat orang-orang membungkuk kepada komandan mereka. Maka saya berkata, “Rasulullah adalah yang paling berwenang menerima sujud. “Maka Qais bertemu Nabi. Dan berkata,” Aku berhenti di Hirah dan melihat penduduk sujud kepada panglima mereka. Ya Rasulullah, kamu sebenarnya paling berwenang untuk menerima sujud, “jawab Nabi,” Apa yang akan kamu pikirkan jika kau berjalan melewati kuburanku, maukah kau sujud di depan kuburan? “Aku berkata tidak.” Nabi berkata lagi, “Jadi jangan lakukan itu. Jika aku telah memerintahkan orang lain untuk sujud, aku jelas akan memerintahkan seorang wanita untuk sujud dihadapan suaminya karena hak-hak suami yang telah Allah tetapkan kepada mereka. ”(HR. Abu Dawud)

Lebih lanjut, mereka juga merujuk pada hadits Musnad Ibn Hanbal yang berbunyi, Da Anas Ibn Malik, Nabi bersabda, “Tidak ada manusia yang dapat bersujud kepada orang lain, dan jika seorang manusia diberi wewenang untuk bersujud kepada orang lain, saya akan. memerintahkan isterinya untuk sujud kepada suaminya karena begitu banyak hak seorang suami atas isterinya. Tuhan, jika seorang isteri menjilati gelembung-gelembung yang tumbuh di sekujur tubuh suaminya, dari kaki sampai kepala, ini bukan cukup. untuk memenuhi kewajibannya terhadap suaminya. ”

Abou Fadl kemudian memeriksa pengamatan hadits dan menemukan bahwa strukturnya aneh. Pertanyaan yang diajukan Nabi adalah dalam konteks menghormatinya, tetapi jawabannya adalah dalam menghormati suaminya. Adanya asosiasi simbolik yang tercipta antara status Nabi dan status seorang suami dianggap aneh. Oleh karena itu, dari konteks dan strukturnya, hadits ini patut dicurigai, karena tidak mungkin Nabi membahas teologi Islam secara non-sistematis.

Berdasarkan penelitian Abou Fadl, hadits ini tidak dapat dipercaya karena tidak dapat mengkonfirmasi peran Nabi dalam proses lahirnya hadits. Hadits diceritakan dalam berbagai versi dan melalui berbagai rantai naratif dan dengan tingkat keaslian yang berbeda-beda. Dari dhai’f ke hasan gharib. Mereka semua ahad hadits dan belum mencapai peringkat Mut Khawatir. Lebih jauh, hadits tersebut bertentangan dengan ayat-ayat Alquran yang berbicara tentang kehidupan pernikahan dan bertentangan dengan seluruh narasi yang menggambarkan perilaku Nabi terhadap istri-istrinya.

Baca Juga :  Tegas! PBNU Minta Pemerintah Tutup Seluruh Akun dan Media Online Wahabi

Ini adalah beberapa contoh studi literal misoginis kritis dari hadits. Selain memiliki pengaruh yang besar terhadap model relasi gender dalam keluarga, hadits ini juga memiliki implikasi teologis, moral dan sosial yang sangat besar. Nyatanya, seringkali teks-teks misoginis ini, dari sudut pandang otoritasnya, tidak dapat dikatakan berasal dari Nabi dan oleh karena itu tidaklah cukup. Dengan demikian, jika tidak dibaca secara kritis, hadits dapat digunakan secara sewenang-wenang untuk menggerogoti status moral perempuan. Inilah yang akhirnya membuat sebuah hadits dicap misoginis.

Oleh karena itu, teks hadits yang terkesan misoginis harus dibaca dalam kaitannya dengan kajian kritisnya dan tafsir mutakhir para ulama yang memperhatikan persoalan keadilan gender. Hadis yang terkesan menghina atau mendiskreditkan perempuan, tidak mungkin dibaca terjemahan atau makna eksternal teksnya saja, karena akan menimbulkan salah tafsir. “Ada bukti” saja tidak cukup, harus ada penjelasan bacaan yang benar. Oleh karena itu, cara membaca hadits yang dianggap misoginis adalah dengan menelusurinya lebih jauh melalui kajian para ilmuwan muslim terkini. Itu saja.

Selvia Adista

Sumber: https://www.islamramah.co/2020/10/4368/cara-membaca-hadis-yang-dianggap-misoginis.html

(Warta Batavia)

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *