Cerita Imam Abu Hanifah yang Disesatkan dan Didemo

Kisah Imam Abu Hanifah yang Disesatkan dan Didemo
Imam Abu Hanifah (sumber: istimewa)

Oleh: KH. Husein Muhammad

Aspiratif News – Imam Abu Hanifah, ialah ahli fikih paling terkemuka di masanya. Imam Syafi’i menjelaskan : “Seluruh orang dalam fikih ialah Famili Abu Hanifah”.

Pandangan-pandangannya dikenal rasional. Ia dikenal selaku “Imam Ahl Ra’yi“, pemimpin mazhab fikih rasional. Ada banyak pendapatnya yang tak sama dari mazhab lainnya. Misalnya wanita dewasa dapat menikahkan dirinya sendiri, tanpa wali.

Sekarang saya ingin menyebut contoh lain yang mungkin lucu tapi masuk akal. Ia berpendapat bahwa makmum shalat tidak Penting membaca surah al-Fatihah. Cukup Imamnya saja. Menurut dia Imam ialah pemimpin. Suara Imam/pemimpin ialah telah mewakili suara pengikutnya. “Qiroah al-Imam Qiroah al-Ma’mum“. Bacaan Imam ialah bacaan makmum.

Apakah Imam Abu Hanifah cuma mengandalkan argumen akal?. Ternyata tidak. Abu Hanifah juga menyampaikan dasar hukumnya dari hadits Nabi yang dipercayainya. “Innama Ju’ila al-Imam Li Yu’tamma bihi”, Seseorang dijadikan Imam, agar diikuti makmumya. Ini hadits Sahih Bukhari. Lagi pula al-Qur’an mengumumkan : “Kalau al-Qur’an dibacakan untuk Anda semua, maka dengarkan dan diam”.

Pandangan ini menimbulkan problem dan kontroversial di tengah-tengah masarakat yang umumnya penganut sebagaimana mazhab al-Syafi’i yang mewajibkan saban orang yang shalat membaca surah al-Fatihah. Mereka marah, dan menuding yang tidak-tidak, lalu berkumpul untuk melaksanakan unjuk rasa seraya berteriak-teriak emosional. Mereka menuding Imam Abu Hanifah sudah sesat dan menyesatkan. Mereka lalu berdemo dengan mendatangi rumah Abu Hanifah menuntutnya mencabut pendapatnya itu.

Abu Hanifah keluar menjumpai mereka seraya meminta bersikap tenang dan tidak membikin gaduh. Abu Hanifah lalu meminta mereka tidak saling berebut bicara. seusai mereka tenang ia mengusulkan agar ada seorang di antara mereka yang terpandai, untuk jadi wakil mereka untuk mendiskusikan tuntutan mereka.

Sesudah mereka menuding seseorang yang dinilai paling mengerti agama, Abu Hanifah menanyakan untuk mereka: “apakah Anda semua setuju dengan orang ini?. Mereka menjawab serentak: “Setujuu!”. Abu Hanifah menanyakan lagi : “Apakah Anda semua akan ikut pendapatnya?. Mereka menjawab lagi dengan suara yang sama : “Ya, kami akan ikut apapun yang akan disampaikan dan dilakukannya. Kami “Sam’an wa Tho’atan“.

Abu Hanifah menjelaskan: “Nah, jikalau sedemikian, masalahnya sudah selesai. Sekarang Anda semua silakan kembali ke rumah masing-masing”. Menguping itu, mereka, termasuk sang Jubir, seperti orang bingung. “Kok selesai?. Apanya yang selesai?”.

Kejadian itu mempertunjukkan bahwa pandangan Abu Hanifah dibenarkan mereka. Bukankah pemimpin mereka ialah suara mereka juga?. Jadi bukankah telah cukup, bila dia saja yang bicara dan tidak Penting para pengikutnya ikut bicara?.

Cerita singkat di atas tidak dimaksudkan selaku persetujuan saya kepada pandangan Imam Abu Hanifah untuk Perkara ini. Melainkan cuma ingin memperlihatkan bahwa hukum agama (fiqh) tidaklah tunggal, dan bukan tanpa argument dari teks agama. Imam Abu Hanifah cuma berargumen dengan akal sederhana, sebab ia mengerti siapa yang dihadapinya.

Ia sejatinya juga punya argument naql (hadits), tetapi itu wajib dijelaskan, mungkin akan panjang dan belum tentu dapat dimengerti. Jadi walaupun di tempat kita ada pandangan bagi Kewajiban saban orang yang salat membaca al-Fatihah yang diikuti secara mainstream, tetapi pandangan yang minoritas pun Penting dihargai, sebab iapun mempunyai dasar, meski kadang tidak diketahui publik. Oleh sebab itu tidak sepatutnya ia disesatkan. [Aspiratif News/in]

Source: FB KH. Husein Muhammad



Kisah Imam Abu Hanifah yang Disesatkan dan Didemo

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *