Cerita Perjanjian Pemberian Yerusalem ke Umar bin Khattab – Aspiratif News

Kisah Perjanjian Penyerahan Yerusalem kepada Umar bin Khattab
Views: 2787
Read Time:3 Minute, 28 Second

Cerita Perjanjian Pemberian Yerusalem ke Umar bin Khattab – Aspiratif News

Pada era kepemimpinan atau kekhalifahan Umar bin Khattab, usaha memperluas dakwah Islam terus dikerjakan ke bermacam negeri, termasuk di Palestina dan Suriah (Syam) yang kala itu masih dikuasai oleh Raja Romawi, Heraklitus. Nyaris seluruh wilayah satrategis jalur perdagangan antar-negeri diduduki Romawi, termasuk Konstantinopel.


Walaupun musim dingin tengah melanda, hal itu tidak menyurutkan Panglima Abu Ubaidillah bin Jarrah untuk bergerak ke seluruh tanah Suriah dan Palestina. Sebalumnya, Umar bin Khattab yang berhasil menaklukkan imperium besar Persia di bawah komando Khalid bin Walid memerintahkan ke Panglimanya itu untuk membantu Abu Ubaidillah bin Jarrah yang waktu itu tengah mengurung wilayah Yerusalem.


Menurut catatan KH Saifuddin Zuhri dalam memoarnya Berangkat dari Pesantren (2013), Yerusalem yang kala itu di bawah kekuasaan Heraklitus menyerah ke Panglima Abu Ubaidillah bin Jarrah pada tahun 636 masehi. Problem belum selesai begitu saja. Ke-2 pihak menyepakati adanya surat perjanjian pemberian Yerusalem.


Waktu itu, Panglima Romawi dan Patriarch (Uskup Agung) Sophronius meminta agar perjanjian pemberian Kota Yerusalem itu diteken langsung oleh Khalifah Umar bin Khattab. Awalnya, permintaan tersebut ditolak oleh Abu Ubaidillah dan Khalid bin Walid beserta Serdadu Muslim. Tetapi, dengan kebijaksanaannya, Khalifah Umar bin Khattab Setuju pemrintaan tersebut.

READ  Penasihat Abbas: Keputusan Teranyar Netanyahu akan Ubah Tiap Orang Palestina Jadi Bom - Aspiratif News


Baik pembesar-pembesar Muslim maupun Romawi dan pemimpin Kristen siap menyambut kehadiran Khalifah Umar dari Madinah. sesudah melihat kehadiran Khalifah Umar, pembesar Romawi dan pemimpin-pemimpin Kristen terkejut karena sang khalifah menaiki unta tanpa pengawalan besar-besaran. Bahkan Khalifah Umar cuma ditemani oleh seorang ajudannya.


Mereka tidak menyangka, seorang khalifah yang namanya menggetarkan saban lawan, yang perintahnya ditaati dengan kepatuhan full oleh panglima-panglimanya, ternyata cuma seorang laki-laki dengan penampilan yang amat sederhana.


Cerita kekaguman bangsa-bangsa besar di dunia ke Khalifah Umar juga diceritakan oleh Maulana Jalaluddin Rumi dalam karyanya al-Matsnawi. Rumi mengisahkan bahwa pada suatu waktu seorang penasihat kekaisaran Byzantium dari Konstantinopel Datang untuk menghadap Khalifah Umar bin Khattab di Madinah.


Penasihat itu ialah seorang filsuf, cendikiawan, dan negarawan terkemuka. sesudah masuk Madinah, utusan dari Byzantium itu merasa heran karena tidak melihat adanya istana kekhalifahan. Ia lalu menanyakan ke salah seorang masyarakat Madinah. “Dimanakah istana raja Anda seluruh?” tanya sang utusan.

READ  Selama Ramadhan, LAZISNU Pragaan Sumenep Bagikan Sokongan Ratusan Juta Rupiah - Aspiratif News


Orang yang ditanya oleh ksatria Byzantium itu cuma tersenyum, dan dijawabnya: “Raja kami tidak mempunyai istana megah, karena istana termegahnya ialah hati dan ruhnya sendiri yang senantiasa diterangi oleh cahaya takwa.”


Utusan kekaisaran Byzantium itu merasa heran. Ia lalu kembali menanyakan. “Lalu dimanakah raja Anda seluruh yang namanya sekarang tersohor itu, penakluk 2 benua, penakluk 2 imperium, Persia dan Byzantium itu?” tanya sang utusan.


“Tidakkah tadi engkau sadar, di bawah pohon kurma yang baru saja engkau lewati itu, seorang lelaki tengah memandikan dan memberikan makan ke seekor unta?” kata seorang masyarakat Madinah.


“Kenapa sungguh?” tanya sang utusan makin penasaran. “Itulah sang khalifah dambaan kami, Umar ibn Khattab. Ia tengah memberi makan dan memandikan unta milik baitul mal, milik bocah kecil yatim, dan para janda.”


Utusan itu kemudian tergetar. Ia sungguh-sungguh telah melihat sesosok raja besar yang amat bersahaja. “Beritahu saya lebih jauh lagi perihal orang mulia itu,” kata sang utusan Romawi.


“Bersihkanlah dahulu hatimu dari kotoran-kotoran duniawi, terangi ia dengan cahaya lentera ketaatan, barulah engkau dapat mengenalnya dengan baik, dan akan melihat kemegahan istana sang khalifah kami yang berupa ketakwaan, dan engkau pun dapat masuk istana itu bersamanya.”

READ  Pemerintah Dituntut Cepat Atasi Dampak Covid-19 - Aspiratif News


Utusan itu kemudian mendekati Khalifah Umar, dan menanyakan mengapa ia melakukan pekerjaan kotor ini, memandikan unta dan memberinya makan. Tidakkah hal tersebut dapat dikerjakan oleh bawahannya?


Lalu Khalifah Umar berkata, “Ini ialah tanggung jawabku, tuan. Unta ini ialah milik bocah kecil yatim dan para janda, milik rakyatku yang sepenuhnya jadi tanggungan dan tanggung jawabku. Saya takut jikalau kelak Allah akan menanyakan kepadaku sejauh mana saya memimpin rakyat-rakyatku, apakah mereka menderita dan merasa diterlantarkan dan tidak diurus olehku.”


Sang utusan pun kian terguncang. Ia melihat sosok negarawan ideal yang selama ini digambarkan dalam kitab Republik Plato itu sungguh-sungguh ada di hadapannya. Tidak lama kemudian, sang utusan Byzantium itu pun bersyahadat dan mengikrarkan keislamannya di depan Khalifah Umar.


Penulis: Fathoni Ahmad

Editor: Muchlishon

Cerita Perjanjian Pemberian Yerusalem ke Umar bin Khattab – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *