Cerita Santri Soal hal Sahabat, Perjuangan dan Cinta – Aspiratif News

Views: 7
Read Time:4 Minute, 1 Second

Cerita Santri Soal hal Sahabat, Perjuangan dan Cinta – Aspiratif News

Di bulan April tahun sekarang dalam suasana Pandemi, santri Pondok Pesantren Miftahul Huda Pesawahan, Rawalo, Banyumas, Jawa Tengah meluncurkan sebuah buku antologi cerpen yang berjudul “Goresan Tinta Biru”. Diterbitkan oleh Sip Publishing, cetakan ke-1 buku setebal 254 (2 ratus 5 puluh 4) halaman ini memuat 17 cerita pendek yang ditulis oleh santri-santri dengan back-ground pendidikan di antaranya MTs, Madrasah Aliyah dan SMK Miftahul Huda.


Berawal dari kegemaran mereka membikin cerita di majalah dinding santri, kemudian pesantren memfasilitasi mereka ikut pelatihan dasar mecatat fiksi. Sampai akhirnya terbitlah buku yang mengulik bermacam cerita mereka di dalam pesantren, baik Soal hal persahabatan, Soal hal cita-cita, Soal hal kerasnya perjuangan juga Soal hal cinta anak remaja.


Dibuka dengan judul cerpen “perindu Sahabat sejati” karya Dewi Latifah yang bercerita Soal hal perjuangan santri baru menyesuaikan bermacam aktifitas di pesantren yang di dalamnya juga full dengan persaingan. Keadaan itu menumbulkan kerinduannya pada sahabat sesungguhnya sewaktu kecil. Ada pula cerita Soal hal “Mihrab Cinta Sang Penghapal al-Qur’an” karya Haura Batsnah as-Syahida, yang mengisahkan Soal hal perjalanan nadia santri yang tengah meretas mimpi jadi penghapal Al-Qur’an.


Dalam perjalanan nyantrinya, ia menyukai temen kakaknya yang juga menyukai nadia, tetapi kiainya malah bermaksud menjodohkan Nadia dengan seorang santri lainnya. Ada pula “Goresan Tinta Biru” yang ditulis oleh Sari Nur Sariroh, menceritakan perjalanan seorang santri di pesantren yang ikut perlombaan mecatat. Karya lainnya berjudul “Untuk Apa Hati Diciptakan” yang berupa karya Syemila menceritakan Soal hal perdebatan batin Elsa yang hatinya Tidak mau waktu ayahnya memasukkannya ke pesantren.

READ  kiai Bisri Syansuri Soal hal Demokrasi, Pancasila, dan Arus Utama Aswaja - Aspiratif News


Dalam cerita “karena Engkau” karya Dwi Melis, pembaca akan disuguhi cerita Syaqila Syifa Annisa, gadis desa yang memimpikan sekolah di kota, tetapi malah orang tuanya memasukan ke pesantren. Di Pesantren Syaqila berjumpa temen lelaki yang bernama Farih, apa yang terjadi seterusnya?

 

Cerita ini menggambarkan Soal hal persahabatan dan cinta dengan nuansanya yang renyah. Ada pula cerita berjudul “Di balik Rasa” yang dituangkan oleh Nur Khoirun Nisa, menceritakan perjalanan cinta Via, yang mencintai temen sekolahnya yang ternyata dilike pula oleh sahabatnya Nadia. Sebuah pilihan berat antara sahabat dan cinta, cerita ini berhasil mengoyak perasaan pembacanya.


Sekian cerita lainya semua kental dengan nuansa cerita remaja tetapi dengan balutan pesantren. walaupun bukan seusatu yang baru, karya adik-adik santri ini rasanya patut diapresiasi sebagai lompatan maju santri untuk punya nyali tampil ke muka dengan bermacam karyanya. Bermacam kesalah penulisan, dan gaya bahasa yang masih amat natural (jikalau boleh dibilang amat apa adanya), mewarnai antologi ini seakan terkesan terburu-buru. walaupun seperti ini tetap saja membaca karya adik-adik santri jadi sesuatu yang menggembirakan.

READ  Cerita Berani tentara, Kopassus Menyusup Ke Camp Musuh


Dalam kata pengantar, Nyai Hj Umni Labibah, pengasuh dan pendamping penulisan antologi cerpen ini, menerangkan bahwa santri-santri terinspirasi dari muasis pesantren, yaitu KH Zaini Ilyas, yang juga produktif mecatat. Santri-sanri yang berlatarbelakang heterogen ini menuliskan cerita mesantrennya sebagai refleksi dari kehidupan meraka di pesantren dan berharap jadi inspirasi bagi yang lainnya. Seterusnya, Ibu Umni juga menyampaikan bahwa apa yang dikerjakan dengan memotivasi santri mecatat ialah bagian dari ikhtiar pesantren dalam menumbuhkan literasi di kalangan santri selain sebagai usaha mewadahi bakat minat santri.


Antologi cerpen di tangan pembaca ini juga dapat jadi stimulus santri memahami dan merasakan indahnya mecatat. Sebuah kunci peradaban yang selama ini jadi tonggak khazanah pesantren. Pesantren mempunyai ke-khas-an dalam pendidikan melalui literasi kitab kuning, yang jadi kunci dari golden chane (rantai emas) periwayatan ilmu dari masa nabi, khulafaurrasyidin, tabi’in, ulama salaf, ulama kholaf sampai masa modernitas hari ini. Para ulama-ulama telah meletakan dasar peradaban melalui karya-karya yang terwariskan sampai Waktu ini melalui kitab kuningnya yang genuine dan kredible.

READ  Ini Pidato Komprehensif Joko Widodo Bakda Dilantik Jadi Presiden Periode 2019-2024


Ada harapan besar akan tumbuh bibit-bibit sastrawan santri yang akan menginspirasi negeri ini. Saya melihat ada sisi yang amat lain di sini, ada bobot nilai moralitas khas santri tertuang dari beberpa karya adik-adik. Ini tentu akan memperkaya khasanah sastra nusantara. Tidak cuma memotivasi bocah kecil seusianya, tetapi juga orang tua. Juga bagaimana memberikan gambaran dunia santri itu tidak ketinggalan zaman tetapi juga mempunyai akar tradisi dan pondasi agama yang kuat.


Sebagai pembaca yang berlatar belakang pesantren, berharap karya ini jadi titik mula untuk karya-karya besar seterusnya dari kalangan santri. Terlepas dari kekurangan yang ada sebagai penulis sastra pemula, seperti “kecerewetan” cerita yang tidak Penting, sistematika alur cerita dan daya kejut pembaca yang masih lemah, sebagai media eksplorasi gagasan dan alat ujar pesan-pesan moral dunia santri dapat jadi modal untuk penulisan seterusnya. Selamat untuk penulisnya dan Selamat membaca untuk semua.


Peresensi ialah Umnia Labeba, Pegiat Literasi santri dan Pengasuh Ponpes Miftahul Huda Pesawahan, Rawalo, Banyumas, Jawa Tengah

Identitas Buku

Judul: Goresan Tinta Biru

Penulis: Dewi Latifah, dkk

Penerbit: Sip Publishing

Cetakan: Ke-1, April 2020

Tebal: 254 halaman

Cerita Santri Mengenai hal Sahabat, Perjuangan dan Cinta – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *