dari Gereja, Masjid, Museum, dan Kembali Masjid – Aspiratif News

Hagia Sophia dalam Sejarah: dari Gereja, Masjid, Museum, dan Kembali Masjid
Views: 1695
Read Time:5 Minute, 27 Second

dari Gereja, Masjid, Museum, dan Kembali Masjid – Aspiratif News

Istanbul, Aspiratif News

Hagia Sophia mempunyai sejarah yang panjang. Ia pernah jadi gereja, masjid, museum, dan sekarang jadi masjid kembali—sesudah Pengadilan Tinggi Turki, Dewan Negara, menganulis dekrit Ataturk pada Jumat, 11 lalu. Pergantian status fungsi Hagia Sophia dapat dibilang ‘tergantung’ siapa yang berkuasa atas wilayah Istanbul atau Konstantinopel. 


Hagia Sophia jadi saksi sejarah bagaimana kekuasaan itu secara bergantian. Ia pernah hancur dibakar, lalu dibangun lagi. Dia pernah hancur terkena gempa, lalu diperbaiki lagi. Sampai sampai waktu ini, Hagia Sophia masih berdiri kokoh. 


Keindahannya sanggup menarik jutaan orang untuk Datang mengunjunginya. menurut laporan BBC, Sabtu (11/7), waktu ini Hagia Sophia Ialah tempat wisata paling populer di Turki. Diadukan, lebih dari 3,7 juta wisatawan berkunjung ke Hagia Sophia dalam 1 tahun. 


Berikut sejarah singkat Hagia Sophia dan statusnya yang berubah-ubah, sesuai rezim yang berkuasa:

Era Kekaisaran Bizantium

Hagia Sophia atau Ayasofya—dalam bahasa Turki- atau Sancta Sophia—dalam bahasa Latin berdiri megah di tepi Selat Bosphorus, Istanbul, Turki. menurut Penjelasan Britannica, Hagia Sophia untuk ke-1 kalinya dibangun pada 325 M di atas fondasi kuil pagan, atas perintah Kaisar Konstantin I. Anaknya, Konstantius II, lalu mendeklarasikan Hagia Sophia jadi tempat suci pada 360 M.  


Hagia Sophia yang juga dikenal sebagai Gereja Kebijaksanaan Suci (Church of the Holy Wisdom) atau Gereja Kebijaksanaan Ilahi (Church of the Divine Wisdom) Ialah saksi dan juga korban atas bermacam konflik yang terjadi pada kekaisaran Bizantium atau Romawi Timur. Pada era ini, ia pernah mengalami beberapa renovasi secara besar-besaran. 


Awalnya, Hagia Sophia cuma bangunan yang beratap kayu. Pada 404 M, Hagia Sophia rusak sesudah terbakar oleh api yang meletus akibat konflik politik di Famili Kaisar Arkadios. Penerus Arkadios, Kaisar Theodosis II lalu membangun struktur ke-2 Hagia Sophia. Pada 415 M, Kaisar Theodosis II menguduskan kembali bangunan yang dipugar itu.

READ  Pemuda Ini Ceritakan Gejolak Batin Kenapa Masuk Islam dan Lewat NU


Pada Januari 532, Hagia Sophia kembali terbakar waktu terjadi Bughot Nika. Kaisar yang berkuasa pada waktu itu, Justinian I, lalu memerintahkan 2 arsitek terkenal pada masa itu, Isidoros dari Milet dan Anthemios dari Tralles, untuk merancang kembali bangunan Hagia Sophia. 


Hagia Sophia dibangun selama enam tahun dan selesai pada 537 M. 2 arsitek tersebut mempergunakan batu ashlar dan batu bata sebagai bahan bangunan. Waktu itu, bangunan baru Hagia Sophia setinggi 2 lantai dengan kubah besar yang dikelilingi dengan 4 kubah kecil dan 4 menara.


Rancangan bangunan pada masa Kaisar Justinian I inilah yang diakui sebagai fondasi awal dari Hagia Sophia yang terkenal sampai hari ini. sesudah itu, pada 558 M dan 986 M Hagia Sophia terkena gempa. Pada tahun ke-1—558- kubahnya rusak akibat bencana alam tersebut dan lalu diperbaiki. Karenanya, kubah yang ada waktu ini Ialah kubah hasil restorasi ke-2.

Era Dinasti Usmani

Hagia Sophia jadi pusat Kekristenan Ortodoks dan jadi gereja terbesar di dunia selama berabad-abad. Sampai lalu pada 1453 M, Sultan Mehmed II dari Dinasti Usmani berhasil menaklukkan Konstantinopel (nama Istanbul waktu itu) dan merubah status fungsi Hagia Sophia dari gereja jadi masjid. 


Sultan Mehmed II tetap mempertahankan nama Hagia Sophia, meski fungsinya berubah. Sejauh era Kesultanan Usmani, Hagia Sophia memperoleh sentuhan arsitek Islam. Interior dalam Hagia Sophia dipercantik dengan ornamen-ornamen khas Kesultanan Usmani dan kaligrafi bertuliskan Allah, Nabi Muhammad, 4 khulafaur rasyidin, dan 2 cucu Nabi. Beberapa elemen bangunan lainnya seperti mihrab, mimbar, tempat ceramah, dan 4 menara juga ditambahkan. 

READ  Presiden Erdogan Mengakui Terinspirasi Keberhasilan Bu Risma di Surabaya - Warta Batavia


Tidak cuma itu, madrasah, dapur umum, dan perpustakaan juga dibangun di kompleks Hagia Sophia selama masa Dinasti Usmani. Adapun lukisan dan mosaik yang bercorak Kristen—yang selama ini menghiasi Hagia Sophia- ditutup dan diplester. Tidak dihapus atau dihilangkan.   

Era Kemal Ataturk

sesudah Kesultanan Usmani runtuh pada 1924, Turki jadi negara republik. Pendiri dan Presiden Ke-1 Turki, Mustafa Kemal Ataturk, merubah Turki jadi negara sekuler—Melepaskan agama dan negara. Sampai lalu pada 1937, Ataturk merubah status fungsi Hagia Sophia dari masjid jadi museum. 


sesudah jadi museum, Hagia Sophia dibongkar dan direstorasi. Ornamen-ornamen asli Kristen—seperti lukisan Bunda Maria dan bayi Yesus- yang ditutup dan diplaster pada era Dinasti Usmani kembali kelihatan. Mereka berjejeran dengan kaligrafi Allah dan Nabi Muhammad. Mosaik bunga dan geometri juga masih bertahan. Pada 1985, UNESCO mengakui Hagia Sophia sebagai bagian dari Situs Warisan Dunia. 

Era Erdogan

Pada Jumat, 10 Juli 2020 lalu Pengadilan Tinggi Turki, Dewan Negara, pada era pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdogan, memutuskan untuk mencabut dekrit Presiden ke-1 Turki, Mustafa Kemal Ataturk, pada 1935 terkait dengan bangunan Hagia Sophia. Putusan ini merubah status Hagia Sophia dari yang sebelumnya berfungsi sebagai museum jadi tempat ibadah ummat Islam, masjid. 


Perkara itu diputuskan Dewan Negara menyusul petisi dari sebuah LSM, Asosiasi untuk Penjagaan Monumen dan Lingkungan Bersejarah. Dalam petisi itu disebutkan bahwa bangunan Hagia Sophia ialah milik pribadi Sultan Mehmet. Sang Sultan lalu merubah merubah Hagia Sophia jadi masjid. 


Hal itu menimbulkan pro-kontra bukan cuma di dalam negeri Turki, tetapi juga juga dunia internasional. Masarakat Turki sendiri merespons hal itu dengan bermacam. Banyak warga Turki yang—yang notabennya beragama Islam- menyambut status baru Hagia Sophia tersebut dengan suka cita. Hal itu, misalnya, kelihatan waktu adzan berkumandang di Hagia Sophia untuk ke-1 kalinya, banyak warga Turki yang bersorak-sorai gembira sambil mengabadikan momen tersebut di luar bangunan. 

READ  Peran Perempuan dalam Islam - Warta Batavia


Tetapi, ada juga yang tidak setuju dengan keputusan tersebut. Misalnya, seorang novelis terkemuka Turki, Orhan Pamuk. Pamuk berpendapat bahwa pengalihfungsian Hagia Sophia jadi rumah ibadah suatu agama tertentu telah menghilangkan kebanggaannya atas negara Turki yang selama ini dikenal sekuler—Melepaskan agama dan negara. Dia bahkan menyebut jikalau ada jutaan warga Turki—yang sekuler sepertinya- yang menentang hal itu, tapi suara mereka tidak terdengar.


Hal yang sama juga terjadi di tataran perkumpulan internasional. Sejumlah negara dan pihak yang penduduknya kebanyakan Muslim memuji dan menyokong Pergantian status Hagia Sophia tersebut. Di antaranya Pakistan, Afrika Selatan, Uni Maghrib Arab, Ikhwanul Muslimin, Mufti Besar Oman Ahmed bin Hamad al-Khalili, dan lainnya. Adapun negara-negara atau pihak yang mengritik dan mengkritik keras keputusan tersebut di antaranya Uni Eropa, Vatikan, Yunani, Amerika Serikat, Rusia, dan lainnya. Bahkan, Paus Fransiskus mengakui sedih atas Pergantian status Hagia Sophia tersebut.


Kendati memperoleh intimidasi dari dunia internasional, Presiden Erdogan menerangkan akan tetap kukuh dengan keputusannya. Dia menyebut, Turki telah mempergunakan hak kedaulatannya dalam merubah Hagia Shopia jadi masjid (kembali). 


“Sama seperti masjid-masjid kita lainnya, pintu Hagia Sophia akan terbuka lebar untuk warga lokal Turki dan warga asing, Muslim dan non-Muslim,” katanya, seperti dikabarkan BBC, Sabtu (11/7).


Pewarta: Muchlishon

Editor: Alhafiz Kurniawan

dari Gereja, Masjid, Museum, dan Kembali Masjid – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *