Definisi Wali Allah dalam Kajian Tasawuf – Aspiratif News

Views: 15
Read Time:2 Minute, 55 Second

Definisi Wali Allah dalam Kajian Tasawuf – Aspiratif News

Kita sering menguping kata “wali” atau “waliyullah” dalam khazanah keislaman, khususnya pada kajian tasawuf. Kata ditafsirkan apa saja oleh orang banyak yang umumnya dimaknai sebagai orang yang melekat dengan karamah atau keramat.


Abul Qasim Al-Qusyairi dalam karyanya Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah mengangkat pengertian wali. Ia menyebut 2 kemungkinan kandungan makna kata tersebut. Kata “wali” dapat ditarik ke dalam wazan mubalaghah atau wazan fa’īl dengan makna maf’ūl.

فإن قيل  فما معنى الولي قيل يحتمل أمرين: أحدهما أن يكون فعيلاً مبالغة من الفاعل؛ كالعليم، والقدير وغيره، فيكون معناه: من توالت طاعاته من غير تخلل معصية


Artinya, “Jikalau ditanya, ‘Apa makna wali?’ maka jawabnya, ia mempunyai 2 kemungkinan. Ke-1, kata ‘wali’ ikut wazan ‘fa‘īl’ sebagai mubalaghah dari fā’il, sejenis makna superlatif (amat), seperti ‘alīm,’ ‘qadīr,’ dan semisalnya sehingga makna wali ialah orang yang ketaatannya terus menerus tanpa tercederai maksiat,” (Abul Qasim Al-Qusyairi, Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah, [Kairo, Darus Salam: 2010 M/1431 H], halaman 191).

READ  DKMG sudah Salurkan Donasi untuk Covid-19 Sebesar Rp12 Miliar - Aspiratif News


Ke-2, kata “wali” dapat juga ikut wazan “fa‘īl” dengan makna maf‘ūl seperti kata “qatīl” dengan makna “maqtūl” (yang dibunuh) dan kata “jarīh” dengan makna “majrūh” (yang dilukai) sehingga makna wali ialah orang yang dilindungi oleh Allah dengan penjagaan dan pemeliharaan-Nya secara langgeng dan terus menerus. Allah tidak menciptakan bagi dia kehinaan yang tidak lain kesanggupan maksiat. Allah senantiasa memberinya taufiq yang tidak lain kesanggupan berbuat ketaatan. Allah berfirman dalam Surat Al-A’raf ayat 196, “Dia menjaga orang-orang yang saleh.” (Al-Qusyairi, 2010 M/1431 H: 191).

 

Dari pengertian ini, muncul istilah mahfūzh atau orang yang dilindungi oleh Allah bagi para wali, 1 tingkat di bawah ma’shum, sejenis penjagaan bagi para nabi dan rasul.


Secara umum para wali Allah dapat dikenali meski tidak mudah dipastikannya. Syekh Zarruq menyebutkan 3 sifat Utama para wali Allah. menurutnya, orang yang mempunyai 3 sifat ini mungkin wali Allah:

READ  Aktivitas Mencurigakan, Panglima TNI Diminta Kirim Pesawat Pengintai ke Laut Natuna - Aspiratif News

ثم الولي يعرف بثلاث: إيثار الحق، والإعراض عن الخلق، والتزام السنة بالصدق 


Artinya, “Tetapi waliyullah itu dapat dikenali dengan 3 tanda: mengutamakan Allah, (hatinya) berpaling dari makhluk-Nya, dan berpegang pada syariat Nabi Muhammad SAW dengan benar,” (Lihat Syekh Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman 133).


Adapun Ibnu Athaillah dalam kitab Al-Hikam-nya merilis bahwa wali Allah lebih sulit dikenali daripada Allah itu sendiri. Wali Allah selalu mengantarkan kita ke Allah. Adapun kewaliannya sendiri sulit ditandai.

قال رضي الله عنه سبحان من لم يجعل الدليل على أوليائه إلا من حيث الدليل عليه ولم يوصل إليهم إلا من أراد أن يوصله إليه


Artinya, “Mahasuci Allah yang tidak menjadikan tanda bagi para wali-Nya selain tanda yang mempertunjukkan ada-Nya. Mahasuci Allah yang tidak ‘mempertemukan’ ke para wali selain orang yang dikehendaki sampai kepada-Nya.”


Adapun tugas kita di dunia ini sungguh bukan untuk melakukan sensus mana orang yang dapat disebut sebagai wali atau bukan. Tugas Utama kita ialah beribadah ke Allah dengan tetap menjaga hak-hak muslim lainnya sebagai hamba Allah, termasuk salah satunya husnuzzhan.


Banyak dari kita ikut atau bahkan menyebarkan rumor terkait penentuan kewalian seseorang. Sebagian dari kita bersikap “lancang” mengukur kesalehan orang lain dengan menjatuhkan vonis kewalian dan ketidakwalian orang lain. Ini Jelas bukan tugas Utama kita.

READ  Cerita KH. Adnani Iskandar Didatangi KH Hasyim Asy’ari Waktu Mengolok-olok Gus Dur di Muktamar Cipasung - Warta Batavia


Tugas Utama kita ialah ibadah ke Allah (hablun minallāh) dan menjaga hak-hak muslim lainnya dan hak-hak dzimmi (hablun minan nās). Siapapun dia, kita mempunyai kewajiban untuk menghormatinya. Wallahu a’lam. (Alhafiz Kurniawan)

Definisi Wali Allah dalam Kajian Tasawuf – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *