Densus-88-696x436.jpg

Densus 88 Geledah Pesantren di Sleman, Sita Laptop hingga Anak Panah

Diposting pada
Ilustrasi

Densus 88 menggerebek Perguruan Tinggi Islam Ibnu Qoyyil di Dusun Gandu, Desa Sendangtirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, DIY, Jumat (2/4/2021) malam. Komputer, buku, busur, dan anak panah disita.

Pengasuh sekaligus putra pendiri perguruan tinggi Islam Ibnu Qoyyil, M Najib Hisyam, mengaku sudah ada penelitian yang dilakukan oleh Densus 88. Namun, Najib mengaku tidak mengetahui banyak soal kejadian tersebut.

“Saya sempat keluar. Tapi sebelumnya, kantor direktur dan kediaman dinasnya (rumah seberang Ponpes) diobrak-abrik. Kebetulan direkturnya adalah adik saya,” kata Najib.

Najib menjelaskan bahwa adik laki-lakinya ada di lokasi selama pencarian. Sementara itu, suaminya yang berinisial RAS tidak terlihat di mana-mana. Najib mengatakan terakhir kali dia bertemu dengan kakak iparnya adalah saat shalat Ashar.

“Dulu saat saya menunaikan shalat Asar masih ada (RAS). Setelah itu saya yakin shalat Isya sudah selesai,” kata Najib.

Najib menjelaskan, RAS aslinya adalah warga Bantul. Ia mengajar di Pondok Pesantren Ibnu Qoyyil dan aktif sebagai pembicara di forum akting.

Baca Juga :  Khilafah Proyek Gagal Buzzers HTI

“Ini pertama kalinya pesantren ini digeledah polisi. Tidak pernah ada. Pesantren ini didirikan tahun 1983,” kata Najib.

Asrama tidak dijarah

Secara terpisah, Ketua RT 04 Agus Purwanto mengatakan diminta menjadi saksi penelitian oleh Densus 88. Agus mengatakan semua kamar di pesantren diperiksa kecuali di asrama santri.

“Penggeledahan dilakukan setelah Isya. Selesai sekitar pukul 21.30 WIB. Semua kamar dijarah, kantor pengelola, kantor administrasi, dan rumah pengelola. Asrama tidak digeledah,” kata Agus.

Agus menjelaskan, ada sejumlah barang yang dibawa Densus 88, seperti buku dan barang lainnya. “Yang dibawa laptop adalah CPU dan komputernya. Banyak yang membawa buku. Ada buku tabungan. Ada juga dua busur dan dua anak panah, katanya.

Ia juga mengaku pesantren ini pertama kali dijarah oleh Densus 88. Menurutnya, aktivitas pesantren tersebut normal. “Nggak ada yang mencolok. Aktivitasnya biasa saja,” kata Agus.

(Warta Batavia)

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *