pwnu-jatim_169.jpeg

Densus 88 Geledah Ponpes, Ini Kata Kiai PWNU Jatim

Diposting pada

Densus 88 membobol Perguruan Tinggi Islam Ibnul Qoyyim di Berbah, Sleman, beberapa waktu lalu. Khatib Syuriah PWNU Jawa Timur KH Safruddin Syarif buka suara soal penelitian.

“Pertama, teroris adalah musuh kita bersama. Jadi Densus 88 mutlak diperlukan dan kita harus mendukung langkahnya. Karena jika kita mengizinkan, Indonesia tidak menutup kemungkinan menjadi sarang teroris,” kata Kiai Safruddin saat dihubungi. dari detik.com di Surabaya, Minggu (4 / 4/2021).

Kiai Safruddin menambahkan, mungkin saja ada perguruan tinggi Islam di Jawa Timur yang memiliki ajaran radikal. “Oleh karena itu, jika Densus 88 melacak salah satu perguruan tinggi Islam, bisa jadi ada hikmah yang membuat terorisme tumbuh subur, jadi inilah yang harus dilakukan Densus 88 untuk menggeledahnya, bahkan di perguruan tinggi Islam sekalipun,” ujarnya.

Tak hanya itu, Kiai Safruddin juga mengklaim Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BPNT) telah menginformasikan bahwa perguruan tinggi Islam milik Nahdlatul Ulama di Indonesia tidak akan melepas mahasiswa teroris.

“Terus terang, tidak semua perguruan tinggi milik PBB di Indonesia, di mana BNPT sudah diinformasikan bahwa UN lodge tidak akan mengeluarkan alumni teroris. Artinya tidak ada teroris yang dihasilkan universitas itu milik Perserikatan Bangsa-Bangsa,” ujarnya. Kiai Safruddin.

Baca Juga :  Presiden Jokowi Luncurkan Bansos 2021, Ini Rinciannya

“Tapi jangan tutup mata. Sekarang di Indonesia juga banyak gubuk salafi. Mereka yang mengembangkan ajaran Wahhabi dan sebagainya, yang kemudian menyebabkan peningkatan ekstremisme di Jerman sendiri. Misalnya, pondok Abu Bakar Ba.” Asyir dibuka… dia menerbitkan buku yang dibuat pemerintah Indonesia thogut, thogut polisi. Tentu ajaran ini menyebabkan siswa menjadi radikal. Tidak ada toleransi, ”terangnya.

Meski demikian, Kiai Safruddin menegaskan bahwa terorisme bukan sekadar kesalahan dalam mempelajari Islam. Namun terorisme muncul dari pemahaman agama yang salah.

“Maksud saya, teroris tidak hanya datang dari ajaran Islam, yang bisa bersumber dari kesalahan dalam mempelajari agama Hindu, misalnya di kalangan suku Hindu di India. Lalu banyak juga yang merusak masjid dan menghancurkan Muslim Rohingya. Dari lingkungan Budha mereka. Lalu ada juga penyimpangan di Eropa dari agama Kristen, ”ujarnya.

Artinya, salah perhitungan agama bisa menyebabkan orang menjadi teroris. Bahkan jika mereka bukan satu-satunya. Itu sebabnya kami meminta para ulama untuk sering mengajarkan agama yang benar. Karena semua agama tidak mengajarkan kekerasan, tambahnya. Kiai Safruddin.

Baca Juga :  Lagu Indonesia Raya Diparodikan, KBRI Lapor Polisi Malaysia

Untuk itu, Kiai Safruddin mengimbau semua pihak untuk bekerja sama dalam penanggulangan terorisme. Artinya kita harus bekerja sama jika ada orang yang mencurigakan segera dilaporkan, karena pengertian ini bisa diakses melalui internet dan kita sama sekali tidak bisa mencegahnya. Jika kita melihat orang itu menuju teroris, kita perlu segera bertindak. Ke depan, jelas Densus 88 bisa bergerak dengan itu. Adil dan bijaksana. Maksud saya, jika ada pensiun yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, jelas perlu segera dilaksanakan. Jadi himbauannya, kita harus mengajarkan agama yang benar, ”kata Kiai Safruddin.

Lebih lanjut ia juga berharap agar masyarakat Indonesia yang ingin belajar ilmu agama bisa belajar dari guru yang tepat. “Jadi akan lebih baik jika kita menemukan guru yang tepat dan membantu pemerintah menghentikan teroris ini menjadi pengantin, yang berarti pengeboman sana sini. Mungkin saja penyembunyian publik bisa menyelamatkan Indonesia dari gerakan teroris. Dan kita harus melakukannya. Jelaskan a. Densus 88 mengatakan dia bergabung dengan pesantren, bahwa pesantren yang dimaksud serupa agar orang tidak salah melabeli pesantren tersebut, ”pungkasnya.[detik.com]

Baca Juga :  Moskow Sebut Jumpa Pers Biden ‘Diskriminatif’ dan ‘Sudah Diatur’

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *