Diagnosa Kyai Marsudi Syuhud Kepada Penyakit Radikal dan pertentangan pendapat Pelarangan Cadar

Diagnosa Kiai Marsudi Syuhud Terhadap Penyakit Radikal dan Polemik Pelarangan Cadar
Ketua PBNU Kyai Marsudi Syuhud. Foto: Istimewa.

Aspiratif News – Ketua PBNU Kyai Marsudi Syuhud datang jadi bagian pemateri dalam dialog “Siapa yang Radikal?” di program ILC TVOne, Selasa (05/10/2019) malam. Kyai Marsudi mengkritik pelarangan cadar yang diwanakan oleh Menah Facrul Razi dan mencoba mendiagnosa radikalisme di Indonesia.

“Mentri Agama mendiagnosa penyakitanya agama radikal. Tetapi obatnya mencegah cadar. Apa dan siapa yang radikal? belum kejawab ini sebab apa? penyakit radikal didiagnosa ketemu obatnya ialah mencegah cadar. Itu seperti panas, Pak Karni, dikasih obatnya es. Biar cepet turun. Padahal panas itu mungkin akibat dari sakit tenggorokan atau yang lainnya. Ya ada sih sebab amat panas maka dikompres pakai es, ada sih bahwa yang radikal itu pakai cadar. Tetapi itu bukan obatnya pak,” ucap Kyai Marsudi.

Kyai Marsudi juga menyindir Menag yang sudah membikin heboh. Menurut Kyai Marsudi, yang heboh di awal biasanya tidak hasilnya. Akan tetapi beliau mengumpamakannya dengan gledek.

“Walaupun suarnya sampai kayak gledek suaranya di negeri ini, tapi biasanya kala gledeknya kenceng, biasanya ini, itu nggak turun hujan.
Contohnya ini, dulu jaman mentrinya Pak Lukman, anginnya kenceng tuh, tapi nggak turun hujan juga,” katanya.

Menurut Kyai Marsudi, radikalisme muncul sebab usaha mempertahankan khilafiyah dengan aksi anarkis.

“Coba kita lihat, Indoensia kebanyakan telah setuju, negara ini berdasar Pancasila, misalnya. Ada orang yang lalu berpendapat tidak setuju dan ingin merubahnya, secara radikal, terus ngomong, dan semua dalilnya, dan dipertahankan dengan cara radikal “Orang yang termasuk kerja di negara pancasila boleh dinubuh”, terjadilah. Ini artinya sesungguhnya dia lagi memeprtahankan pandangan yang khilafiah dengan cara aksi anarkis,” papar Kyai Marsudi.

“Ada lagi orang yang mempertahankan bahwa orang Indonesia cara beragamanya belum benar. Masih dinilai kafir. “Pertahankan itu”, maka menghabisi orang oleh orang yang punya paham ini ditunaikan, terjadilah. Ini ialah mempertahankan khilafiah,” sambungnya.

Kecuali itu, lanjut Kyai Marsudi, ada yang mempertahankan khilafiah secara pemikiran. Hal itu menurut Kyai Marsudi sungguh khilafiah tapi penyakitnya ialah pemahaman dan pemikiran.

“Penyakit pemahaman dan pemikiran ya obatnya wajib mencari vaksin-vaksin untuk melumpuhkan atau meminimalisasi mengenai hal penyakit ini. Apa itu? ya mengenai hal pemahaman itu. Ya pemahaman obatnya, bukan mencegah niqob atau cadar. Bukan cuma itu, bukan!” ucap Kyai Marsudi.

Kyai Marsudi meneruskan, waktu pemahaman khilafiah dipertahankan sampai menggunakan aksi anarkis maka para pemimpin Indonesia wajib membumikan perbedaan selaku rahmat. Menurut Kyai Marsudi inilah intinya sebab tiap-tiap pikiran orang sungguh berbeda-beda.

“Pemimpin-pemimpin Indonesia itu wajib membumikan Al-Ikhtilafu Min Ummati Rohmatun, perbedaan di atara umatku, di antara bangsaku jadi perbedaan itu yang jadi blesing, rahmat. Ini intinya, jangan sampai menjadikan untuk mengancam bagi yang tidak sama pendapat, untuk menghabisi bagi yang tidak sama pendapat. Ini telah disampaikan oleh para sahabat, sebab pada prinsipnya, manusia punya pikirian dan pikiran berbeda-beda,” gamblang Kyai Marsudi.

Lebih lanjt Kyai Marsudi menerangkan, pikiran yang tak sama kalau dikendalikan dengan pemahaman bahwa perbedaan ialah rahmat maka hal ini dapat jadi jalan keluar.

“Dalam problem niqob, misalnya. Kan ini banyak khilaf, ada banyak pandangan, ada yang telah, ada yang wajib pake, ada makruh, ya kita tinggal ambil aja mau pake yang mana. Nah ini cara menyikapi khilaf sehingga dalam perbedaan pandangan memunculkan mashalahah. Itulah yang dikatakan al-ikhtilaf min baini ulama fiihi masholih. Pandangan-pandangan ulama yang tak sama, baik yang mengambil hukum dengan memboleh niqob atau tidak, cara menandang negara ini telah darus salam atau darul harbi, cara melihat negara Pancasila sesuai dengan Islam apa belum, ini kan khilfah. Jikalau ini dijadikan rohmah, maka intinya apa, memulainya dari mana? Memulainya dari pikiran kita sendiri, kajian kita sendiri, ilmu info itu, coba dipahami. Ini sesungguhnya memberantas radikalisme. Intinya Utama dilihat dari pemahaman,” papar Kyai Marsudi.

Kyai Marsudi menguatkan pendapatnya dengan terus adanya orang-orang yang berpaham radikal meski telah banyak yang ditangkap, bahkan ada yang diganjar mati. Kyai Marsudi mengajak agar perbedaan sungguh-sungguh dijadikan rahmat sehingga tidak mempertahakan pandangan dengan cara aksi anarkis, khususnya aksi anarkis fisik.

“Ini tidak dapat kalau lalu, nyatanya telah 10 20 30 telah dimasukkan di sel bahwa ada yang diganjar mati, masih ada lagi, sebab masuk di ranah pemahaman. Sebab itu mari kita bareng, kalaua ada problem khilafiah mari kita jadi rahmah blessing, walapun pandangan anda rasanya yang paling benar, janganlah mempertahankannya dengan cara aksi anarkis, apalagi sampai pada aksi anarkis fisik,” katanya. [Aspiratif News/pin]



Diagnosa Kiai Marsudi Syuhud Terhadap Penyakit Radikal dan Polemik Pelarangan Cadar

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *