Diaspora-NU.jpg

Diaspora NU dan Upaya Mengekspor Model Keberislaman

Diposting pada
NU Diaspora NU Diaspora dan upaya untuk mengekspor model Islam
Ilustrasi, foto: https://www.nu.or.id/

Saat ini jumlah penduduk Indonesia telah mencapai lebih dari 270 juta jiwa. Dari total penduduk Indonesia secara keseluruhan, jumlah pemeluk agama Islam saat ini mencapai lebih dari 229 juta jiwa. Jumlah yang sangat luar biasa. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

Ada pertanyaan menarik yang patut dijadikan bahan refleksi bersama: Jika candi Borobudur dibangun di negara-negara Teluk, apakah candi peninggalan Hindu ini akan lestari seperti yang kita temukan di Indonesia saat ini?

Tidak ada jaminan. Pengamanan Candi Borobudur – meminjam dari Franz Magnis Suseno (2008) – membutuhkan ruang psikologis dan teologis serta toleransi yang tinggi. Memelihara Candi Borobudur tidak hanya membutuhkan toleransi. Yang penting justru sikap menghormati warisan budaya para pendahulu mereka meski diciptakan dan diturunkan oleh orang-orang yang berbeda keyakinan.

Ini adalah bukti dakwah Islam di Indonesia yang mengedepankan kompromi pada budaya dan kearifan lokal. Gaya Islam di Indonesia adalah Islam yang mendorong toleransi dan penghormatan terhadap orang-orang yang berbeda agama. Oleh karena itu sangat disayangkan dan sangat disayangkan bahwa dengan non muslim yang memiliki agama dan keyakinan yang berbeda khususnya di Indonesia kita dapat hidup rukun dan saling membantu, karena dengan sesama muslim yang hanya berbeda aliran maka kita memiliki perbedaan. sudut pandang, apakah kita malah bertengkar?

Jadilah teladan

Saatnya kita mengakhiri era Islam yang penuh dengan gambaran pertempuran, permusuhan seperti yang terjadi hingga saat ini di negara-negara Teluk. Ulama harus bekerja keras untuk menjalankan – meminjam analisis KH Said Aqil Siroj (2016) – fungsinya. Pertama, ulama harus menjadi penyebar ilmu dan pemahaman (yatafaqqahu fi ddin). Fungsi pertama ini harus ditanggapi dengan serius dan lebih jelas. Ulama harus memberikan pencerahan kepada masyarakat. Ulama harus memberi orang pemahaman yang lengkap.

Kedua, ulama harus “memberikan arahan” (yunzira qoumahum) kepada orang-orang. Fungsi kedua ini ternyata kurang mendapat porsi dan perhatian, terutama di negara-negara yang masih berkonflik.

Indonesia kembali bisa menjadi contoh. Ulama Indonesia adalah ulama yang selalu berusaha memainkan dua peran tersebut. Ulama Indonesia tidak hanya memberikan pemahaman kepada masyarakat, tetapi di atas semua itu juga memberikan contoh langsung. Mereka menjadi panutan bagi orang-orang.

Baca Juga :  Kader PD Disebut Diancam Intel, Propam Polri: Belum Ada Laporan

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika berbagai konflik di Indonesia dapat segera diselesaikan dan tidak lagi terbatas pada konflik lokal. Apa alasannya? Karena kiai, ulama, dan pemuka agama telah turun tangan untuk berperan langsung dalam membubarkan dan meredam konflik. Sejauh ini NU telah menunjukkan komitmennya untuk menyebarkan Islam ramah, Islam damai dan Islam di Leran. Laporan dari berbagai lembaga penelitian menyebutkan bahwa peran terpenting Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam kerangka bangsa adalah untuk menciptakan kehidupan yang damai dan toleran di Indonesia.

Sayangnya jika kita memperhatikan kondisi saat ini, nampaknya kita harus jujur ​​dan terbuka dalam mengatakan bahwa rasa aman – terutama dalam konteks global – semakin rentan terhadap erosi. Padahal, jika dilihat lebih dalam, ada lima kebutuhan atau keniscayaan hidup manusia yang harus dijamin: pertama, hidupnya. Kedua, sayang. Ketiga, intelek. Keempat, keturunannya dan, kelima, martabatnya.

Lima hal ini dalam terminologi ushul fiqh disebut kulliyatul khams. Rumusnya tidak berasal dari ruang kosong. Hal ini didasarkan pada filosofi pemikiran dan debat akademis yang sangat matang dan komprehensif, sehingga dibakukan menjadi lima kebutuhan dasar manusia yang harus dipastikan dalam kehidupan ini.

pekerjaan rumah

Berawal dari struktur kulliyatul kham, saya ingin menarik konteks kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara dalam skala nasional dan internasional yang kita alami saat ini. Ini, saya yakin, sangat diperlukan untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya kita butuhkan sekarang untuk memperbaiki situasi, khususnya di bidang keamanan dan stabilitas internasional.

Menurut saya, ada tiga kebutuhan pokok hidup yang harus disediakan negara untuk menjamin rakyatnya. Pertama, kehidupan, kedua, properti dan ketiga, martabat. Menurut saya, ketiga hal tersebut merupakan tanggung jawab dan kewajiban negara yang harus dipenuhi oleh setiap warga negara.

Safety menjadi kata kunci utama yang mau tidak mau harus hadir dan dirasakan oleh setiap orang. Negara harus memberikan rasa aman dalam hidup dari segala ancaman dan teror yang semakin meluas dan mengganggu. Terorisme hari ini dapat terjadi kapan saja, di mana saja, kepada dan dari siapa saja. Teror yang baru-baru ini meletus merupakan tugas besar bagi kita semua – dan khususnya negara – untuk lebih intens dan serius dalam upaya deradikalisasi atau pengurangan terorisme. Tanpa upaya ini, berarti negara “absen” dalam kehidupan rakyatnya.

Baca Juga :  Shalat Dhuha Sebagai Ampunan Dosa, Dan Manfaat Lainnya

Ini bisnis yang serius. Keamanan adalah kuncinya. Mengenai pentingnya keselamatan, saya ingat John Lennon dalam lagunya, Imagine. Ada lirik yang sangat dalam dan bijaksana dalam lagu tersebut, “Bayangkan tidak ada negara / Tidak sulit untuk dilakukan / Tidak ada yang harus dibunuh atau mati untuk”. Lennon secara eksplisit mengatakan tidak akan ada alasan untuk membunuh dan dibunuh.

Dibunuh hari ini adalah peradaban kita. Teror adalah wajah hidup kita. Tidak ada lagi rasa aman dan aman dalam menjalani hidup. Segala macam ancaman, segala macam perasaan terancam.

Kita tahu bahwa dalam memenuhi tugas menciptakan rasa aman bagi masyarakat, negara tidak harus berperang sendirian. Negara bisa bekerjasama dengan pihak manapun. Diantaranya yang paling strategis menurut saya adalah bekerja sama dengan ormas (ormas). Salah satu ormas yang berkomitmen pada pemberantasan radikalisme dan terorisme adalah Nahdlatul Ulama (NU). NU sangat serius dalam beberapa dekade terakhir dalam mempromosikan berbagai jenis program anti radikalisme dan deradikalisasi kepada publik. Ini bisa dimengerti. NU merupakan ormas yang memegang ajaran Islam ahlussunnah waljamaah yang memiliki empat prinsip dasar, yaitu tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), ‘is (adil). Keempat prinsip ini adalah dasar fundamental dari gerakan misionaris Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Oleh karena itu, wajar jika PBB dengan tegas menolak gagasan yang bersifat ekstrim. Entah paling kanan atau paling kiri. Baik tekstualis konservatif maupun liberal. NU dengan tegas mendukung metode pendidikan dakwah, dakwah yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, peradaban dan kebangsawanan. NU selalu menggunakan metode dakwah yang baik. Jangan gunakan kekerasan, apalagi ancaman.

Menurut saya, hal ini didasarkan pada pemahaman sempurna para ulama PBB bahwa sikap yang baik adalah sikap yang terbaik dalam berdakwah. Bunyi kalimat sentral dalam Alquran tidak terdengar walyatalaththaf yang artinya “jadilah baik”. Kebaikan merupakan salah satu prinsip dasar dakwah yang didukung oleh NU, disamping prinsip lain seperti prinsip tadarruj atau bertahap dan bertahap.

Dengan perkembangan terkini, saya sangat bersyukur Perserikatan Bangsa-Bangsa kini telah menyebar ke hampir setiap benua: Asia, Afrika, Amerika bahkan Eropa. Melalui PCINU (NU Special Branch Management) yang berkantor pusat di tidak kurang dari 33 negara di dunia, NU memiliki peluang dan modal yang sangat besar untuk menjaga perdamaian dan keharmonisan dalam hidup.

Baca Juga :  Pelaku Politik Uang Pendukung Benyamin-Pilar Dituntut Hukuman 3 Tahun Penjara dan Denda Rp 200 Juta

Ini bukanlah kesimpulan yang dilebih-lebihkan atau dipanggang jauh dari api. Gerakan dakwah yang ditawarkan NU merupakan gerakan Islam yang bersahabat yang dapat merangkul siapapun tanpa ingin menyakiti atau bahkan memusuhi. NU dapat memanjakan dirinya sendiri tanpa berperilaku yang merugikan atau bahkan bermusuhan.

Mesin penggerak

Di banyak tempat seperti Maroko (Afrika), Amerika, Jerman (Eropa), Jepang (Asia), para pemuda Perserikatan Bangsa-Bangsa yang terlibat aktif dalam PCINU telah menjadi agen dan promotor kembali menjiwai ajaran Islam terpelajar. Pekerjaan mereka tidak sebatas melakukan studi akademis dengan momok dari berbagai disiplin ilmu, tetapi di atas segalanya, tindakan nyata untuk membantu perdamaian dalam kehidupan dunia agar penduduk dunia dapat terhindar dari kecemasan dan prasangka yang mengerikan.

Saya yakin diaspora PBB akan memberikan kontribusi yang lebih baik dan nyata bagi terwujudnya gerakan dakwah, yang tidak menempatkan mereka yang berbeda dengan kita sebagai “orang lain”. Diaspora PBB ini dapat diartikan sebagai soft diplomacy yang tentunya memiliki kelebihan sebagai modal untuk melaksanakan pekerjaan diplomasi. Konsekuensinya, PBB melalui diaspora akan terus berupaya menjaga keamanan dunia dari berbagai bentuk terorisme dan radikalisme. Selain itu, diaspora Perserikatan Bangsa-Bangsa memiliki modal besar untuk diversifikasi ilmu.

Disiplin ilmu yang dipelajari anak-anak Perserikatan Bangsa-Bangsa di berbagai belahan dunia saat ini tidak homogen, mulai dari ilmu sosial, humanistik dan keislaman, tetapi lebih dari itu. Banyak fokus pada sains, robotika, aerodinamika, nanoteknologi, dan sebagainya. Ini sungguh modal sosial yang luar biasa bagi NU, salah satunya dalam konteks dakwah Islam yang bersahabat di pentas dunia. Tuhan tahu yang terbaik, bishshowab.

A. Helmy Faishal Zaini, Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)

Sumber: https://mediaindonesia.com/opini/398620/diaspora-nu-dan- effort-ekspor-Islamic-model

(Warta Batavia)

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *