600ab7af4838d.jpg

Didakwa Terima Suap Rp 25,7 Miliar, Edhy Prabowo: Saya Tak Bersalah

Diposting pada
600ab7af4838d Dituduh Terima Suap Rp 25,7 Miliar, Edhy Prabowo: Saya Tidak Bersalah

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo tetap tidak bersalah setelah dituduh menerima $ 77.000 dan Rp 24,625 miliar atau sekitar Rp 25,7 miliar dari eksportir benih lobster. (BBL).

“Saya datang ke sini dari awal, saya tidak bersalah. Saya hanya bertanggung jawab atas apa yang terjadi dalam pelayanan saya, saya tidak akan lari dari tanggung jawab saya,” kata Edhy usai mengikuti sidang online KPK. Gedung Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta., Dikutip Antara, Kamis (15/4/2021).

Namun, dia mengatakan siap untuk persidangan selanjutnya. Ia pun berharap juri bisa mengambil keputusan terbaik.

“Dia sudah dibacakan, sudah dituduh, saya sudah dengar, minta saja didoakan. Saya tinggal menghadapinya di pengadilan nanti. Saya berharap ada keputusan terbaik,” kata Edhy.

Sebelumnya, Edhy dituding menerima suap Rp. 25,7 miliar untuk izin ekspor benih. Korupsi terkait izin ekspor BBL di Kementerian Kelautan dan Perikanan pada 2020.

“Dengan melakukan atau ikut serta dalam berbagai perbuatan yang harus dilihat sebagai perbuatan independen untuk menjadi tindak pidana, dia akan mendapat hadiah atau janji,” kata jaksa saat membacakan dakwaan di Pengadilan Suap Jakarta, Kamis (15/2). / 4). / 2021) seperti dikutip Tribunnews.

Baca Juga :  Netanyahu Batal Berkunjung ke UEA Lantaran Rudal Yaman di Langit Saudi

Dalam dakwaan disebutkan, Edhy Prabwowo menerima suap dari para eksportir benih di seluruh jajarannya, Amiril Mukminin, Safri, Ainul Faqih, Andreu Misanta Pribadi, dan Siswadhi Pranoto Loe.

Melalui anak buahnya, Edhy menerima suap sebesar US $ 77.000 atau sekitar Rp 1.126 miliar dari pemilik PT Dua Putera Perkasa Pratama (PT DPPP) Suharjito. Selain itu, Edhy juga menerima 24,6 miliar rupee dari Suharjito dan eksportir lainnya.

“Masuk akal untuk mencurigai bahwa hadiah atau janji itu dibuat untuk memotivasi dia melakukan atau tidak melakukan sesuatu pada posisinya,” kata jaksa penuntut.

Diketahui suap ini diberikan kepada Edhy setelah ia mengeluarkan kebijakan untuk mencabut larangan penangkapan atau pelepasan lobster, kepiting, dan kepiting di Indonesia.

Pemberian suap melalui Andreau Misanta Pribadi dan Safri juga dilakukan agar Edhy bisa memperlancar proses izin budidaya lobster dan izin ekspor benih lobster di perusahaan Suharjito dan eksportir lainnya.

Edhy, menurut jaksa, telah memberikan izin untuk mengelola dan membudidayakan lobster serta mengekspor BBL.

Baca Juga :  Think Tank Australia Menyebut China Hancurkan Ribuan Masjid di Xinjiang

“Telah dikeluarkan kebijakan untuk mencabut Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia nomor 56 / PERMEN-KP / 2O16 tanggal 23 Desember 2016 tentang larangan penangkapan dan / atau ekspor lobster (Panulirus spp. ), rajungan (Scylla spp) dan Ranjungan (Portunus spp) dari daerah. Republik Indonesia, “kata jaksa. [kompas.com]

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *