Dilema Pendidikan Jarak Jauh di Pedesaan – Aspiratif News

Dilema Pendidikan Jarak Jauh di Pedesaan
Views: 1794
Read Time:2 Minute, 5 Second

Dilema Pendidikan Jarak Jauh di Pedesaan – Aspiratif News

Rembang, Aspiratif News

Virus Corona yang mewabah akhir-akhir ini mengharuskan turunnya keputusan strategi baru dari pemangku pendidikan. Selaku langkah antisipasi dan pencegahan penyebaran virus Corona, pihaknya menerapkan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Hal itu dilaksanakan melalui media daring (online).

 

“PJJ ini sejatinya telah dapat berjalan, tapi juga masih banyak rintangan, baik oleh guru maupun siswa,” kata Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Rembang Muhtar Nur Halim ke Aspiratif News, Jumat (24/7).

 

Ia menjelaskan, kebutuhan kuota internet bagi user HP Android untuk akses pendidikan jadi bagian problem dalam menjalankan pembelajaran jarak jauh melalui daring ini.

 

“Guru setidaknya memerlukan 10GB perbulan untuk buat konten pembelajaran, siswa juga setidaknya memerlukan 4GB perbulan untuk akses pembelajaran,” gamblang Muhtar yang juga Kepala MA YSPIS Gandrirojo Kecamatan Sedan, Rembang ini.

 

NU lanjut Muhtar, juga telah mengelola dengan semaksimal mungkin, bagaimana PJJ ini dapat berjalan dengan baik. Baik itu melalui Kubu Kerja Madrasah (KKM), maupun Lembaga Pendidikan Ma’arif.

READ  Permainan Catur Kehidupan, Islam itu Cara Hidup atau Cara Jadi Manusia - Warta Batavia

 

“NU telah bekerja semaksimal mungkin, lewat KKM maupun LP Ma’arif. Namun ya guru dan siswa mesti bekerja ekstra juga, apalagi yang hidup di pedesaan,” katanya.

 

Aan AN pendidik di bagian sekolah swasta di Rembang menjelaskan, banyak hal yang mesti dilaksanakan selaku langkah adaptasi sistem ini. “Ke-1, kesiapan guru menguasai aplikasi pembelajaran secara daring. Ini Adalah langkah ke-1 yang mesti dilaksanakan sebelum mentransfer ilmu ke peserta didik lewat daring,” jelasnya.

 

Yang ke-2 lanjutnya, penyediaan fasilitas pembelajaran. Yaitu berupa hardware atau software. Ketiga, jaringan internet dan kuota, baik dari guru maupun siswa.

 

“Ketiga syarat ini apabila dikuasai maka pembelajaran daring akan jadi efektif. Akan ada interaksi timbal balik antara guru dan siswa,” tambah Aan yang juga eks Wakil Ketua PC IPNU Rembang tersebut.

 

Namun menurut dia, kesiapan guru dan siswa untuk menerima hal yang sedemikian ini secara spontan dirasa cukup mengejutkan. Sebab dalam waktu yang relatif singkat mereka dituntut untuk secara cepat menguasai teknologi baru.

READ  Petisi Cabut Status WNI Habib Rizieq Tembus 115 Ribu, Merangkak ke 150 Ribu Penyokong

 

“Guru mesti berpikir keras menguasai aplikasi baru dalam pembelajaran, belum lagi siswa butuh waktu untuk menguasainya juga,” ungkapnya.

 

Disampaikan, masih ada rintangan lain, yaitu jaringan internet yang ada di desa. Kebutuhan finansial bagi orang tua siswa membelikan kuota, handphone untuk belajar dan lain sebagainya. Dengan adanya pandemi ini juga perekonomian mereka (orang tua siswa) tidak stabil,” katanya.

 

Ia menambahkan, butuh penanganan ekstra bagi pemangku keputusan strategi. Bagaimana tetap dapat melakukan pendidikan secara keberlanjutan, efektif, dan juga tetap menjaga diri sesuai protokol kesehatan.

 

Kontributor: Najib

Editor: Abdul Muiz

Dilema Pendidikan Jarak Jauh di Pedesaan – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *