images-34.jpeg

Dilema Ulama 212 | The Truly Islam

Diposting pada

Kadung dianggap ulama, tokoh 212 meninggalkan sejumlah gugatan umat terhadap ulamanya. Pertama, umat mafhum bahwasannya ulama adalah pewaris para Nabi. Para Nabi mewarisi ilmu. Siapa saja boleh mengambilnya. Para Nabi tidak mewarisi harta dan kuasa.

Imam al-Ajurri meriwayatkan dengan sanadnya dari Abud Darda’radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh keutamaan seorang ahli ilmu di atas ahli ibadah adalah laksana keutamaan bulan purnama di atas seluruh bintang-gemintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris nabi-nabi. Sedangkan para nabi tidak mewariskan uang dinar ataupun dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambil ilmu itu niscaya dia memperoleh jatah warisan yang sangat banyak.” ( Akhlaq al-’Ulama, hal. 22).

Dengan ilmu, bukan dengan harta dan kuasa, para Nabi memimpin umatnya. Para Nabi as menjadi pemimpin informal di tengah masyarakat. Dari 25 orang Nabi yang wajib diketahui dan diimani, 4 orang Nabi yang diamanahi kuasa formal; Nabi Yusuf as, Nabi Daud as, Nabi Sulaiman as dan Nabi Muhammad saw. Nabi Yusuf as kendati bukan pemegang pucuk kekuasaan, Beliau as punya kuasa sebagai pembantu raja.

Selebihnya 21 orang Nabi dan Rasul yang wajib diimani berdakwah tanpa memegang kekuasaan formal. Mereka mendakwahkan Islam dengan ilmu (wahyu) yang mereka terima. Mereka mengandalkan kekuatan akan kebenaran ilmu untuk menaklukkan hati masyarakat. Di samping kekuatan kepribadian mereka sebagai pengemban ilmu (wahyu). Mereka tidak punya kekuasaan untuk memaksa ajarannya.

Baca Juga :  Ingin Tahu Lolos atau Tidak Program Kartu Prakerja Gelombang 12? Tunggu 3 Maret 2021

Akan tetapi hampir setiap Nabi berhubungan dengan penguasa dalam dakwahnya karena posisi Nabi as sebagai elit tertinggi di masyarakatnya dan raja sebagai penguasa tertinggi di wilayahnya. Nabi Ibrahim as bertemu dengan raja Namrudz, Nabi Musa as dengan Fir’aun dan Nabi Isa as dengan penguasa Romawi.

Relasi Nabi as dengan penguasa pada dasarnya bersifat keilmuan bukan politik. Maksudnya kepentingan Nabi as kepada penguasa semata-mata agar mereka mau menerima ajaran Allah swt dan menerapkannya dalam kapasitas mereka sebagai pribadi dan penguasa.

Para Nabi mengambil posisi sebagai guru umat dan penasehat raja. Para Nabi as sama sekali tidak mempunyai niat dan tendensi ingin jadi penguasa dengan cara mengkudeta penguasa mereka. Mereka tidak melakukan provokasi untuk mendeligitimasi.

Nabi Ibrahim, Musa dan Isa as, bukan pemimpin kaum oposisi yang ingin menggulingkan raja. Mereka hanya mau raja beriman dan beramal shaleh sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah swt dan raja tetap dengan kekuasaannya.

Realitas dakwah 25 para Nabi menunjukkan bahwa hakikat misi dakwah adalah penyebaran ilmu, bimbingan, arahan dan nasihat kepada umat dan pengusa. Betul, untuk merealisasikan ajarannya, mengamalkan ilmu dan menerapkan wahyu dibutuhkan kekuasaan, hanya saja kekuasaan formal tersebut tidak wajib ada pada diri seorang Nabi as.

Baca Juga :  KH Said Aqil Sebut Jenderal Listyo Sigit Dekat dengan Kiai dan NU

Memegang puncak kekuasaan bukan syarat kenabian. Memegang tampuk kekuasaan hanya keutamaan yang Allah swt berikan kepada beberapa Nabi untuk menyempurnakan misi dakwah mereka.

Keterlibatan aktif, progresif dan provokatif ulama 212 dalam politik praktis mendukung salah satu calon penguasa sambil mendeskriditkan calon yang lain pada pilpres 2019, mendeligitimasi pemerintah dan lembaga negara, serta menyerukan ajakan makar, sudah barang tentu menyalahi hakikat ulama sebagai pewaris para Nabi.

Apa yang dilakukan oleh ulama 212 ini melampaui batas peran dan wewenang mereka. Mereka menantang, menentang dan meremehkan otoritas yang sah dengan angkuh dan keras kepala. Mereka kehilangan adab.

Mereka seperti anak-anak yang ketika ayah mereka yang baik dan bijaksana sedang berbicara serius dengan mereka, mereka menutup telinga tanpa peduli dan mengalihkan perhatiannya. Mereka seperti orang yang melihat noda putih dan ingin membersihkannya namun terlalu banyak menggunakan bahan pencuci dan dari jenis yang salah pula, sehingga bukannya noda saja yang dihapuskan, melainkan mereka menghilangkan bagian putih dinding itu dan juga merusak keseluruhan dinding. (SMNA, 2011: 151)

Baca Juga :  Babeh Haji Muhamad Pimpin Doa Bersama Sebelum Mencoblos ke TPS di Ciputat Tangsel

Disadari atau tidak sikap ulama 212 ini justru memperdalam dilema umat Islam yakni dari mereka munculnya pemimpin-pemimpin yang tidak layak yang tidak memiliki taraf moral, intelektual dan spiritual yang tinggi yang disyaratkan untuk kepemimpinan Islam. Keadaan ini menjadi lingkaran setan: kesalahan ulama — kehilangan adab — munculnya pemimpin yang tidak layak. (SMNA, 2011: 131).

Alih-alih mau menyelamatkan Indonesia dengan syariat, ulama 212 malah memberi contoh teladan yang tidak baik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ayik Heriansyah

Sumber: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=228295388754084&id=100047208737142

(Warta Batavia)

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *