Dinilai Ancaman, Pengikut Fethullah Gulen Terus Diburu Rezim Erdogan

Mengapa-Rezim-Erdogan-Terus-Buru-Pengikut-Fethullah-Gulen.png
Views: 628
Read Time:5 Minute, 48 Second

Dinilai Ancaman, Pengikut Fethullah Gulen Terus Diburu Rezim Erdogan

49 Views


Read Time:5 Minute, 34 Second

ANKARA – Keputusan strategi ekstrim Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan kepada para pengkritiknya makin meningkat. Selasa Minggu lalu, media pemerintah mengumumkan surat perintah penangkapan untuk lebih dari 400 orang terdiri dari pasukan, dokter, dan guru.

Kejahatan apa yang dituduhkan untuk mereka? Ternyata sederhana saja, yaitu mereka Disangka berafiliasi dengan gerakan keagamaan yang dipimpin oleh ulama Fethullah Gulen. Dia ialah seorang figur publik agama Islam Turki berpaham Aswaja yang Saat ini tinggal di Amerika Serikat selaku pengasingan.

Baca juga : Selama Lockdown, Perkara Perceraian di Arab Saudi Capai 7000 Lebih

Penahanan kepada mereka Adalah usaha teranyar rezim Erdogan selaku intimidasi gerakan Gulen. Penangkapan oleh rezim Erdogan secara besar-besaran sudah jadi subjek penumpasan berkelanjutan di Turki semenjak 2016.

“Pemerintah Erdogan sudah menjadikan Gulenist (penyokong Gulen) selaku musuh yang dinilai paling negatif di Turki,” kata Henri Barkey, seorang peneliti untuk studi Timur Tengah di Council on Foreign Relations, seperti dilansir dari Al Arabiya English.

tanda-tanda “perlawanan” atas keadaan politik baru-baru ini terjadi sesudah eks Perdana Menteri Turki Ahmet Davutoglu pada Senin Minggu lalu menjelaskan kesiapannya bekerjasama dengan partai-partai oposisi untuk menentang Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), partai berkuasa yang dipimpin Erdogan.

“Erdogan pun merasa terancam oleh meningkatnya oposisi terhadapnya,” kata Barkey.

“Dan tiap-tiap kali Erdogan terpojok maka isu perkumpulan Gulen dijadikan selaku senjata,” imbuh Imam Abdullah Antepli, seorang profesor hubungan antaragama di Universitas Duke dan eks pemimpin dalam perkumpulan Gulen.

Baca juga : Rusia Kirim Senjata Berat ke Suriah, SAA Siapkan Operasi Besar di Idlib

Sekelumit Mengenai hal Gerakan Gulen

Gerakan Gulen Adalah gerakan keagamaan internasional yang mereferensi pada sosok Fethullah Gulen, 81, seorang ulama Aswaja Turki yang memulai dakwahnya di kota Izmir, Turki barat pada pertengahan 1960-an. Gulen lantas memegang posisi di Kementerian Agama Turki selaku seorang imam.

READ  Protap Kesehatan Diperketat, Pesantren Assalafie Cirebon Mulai Mengaji - Aspiratif News

“Gulen ialah seorang pendakwah yang amat berpengaruh dan menggunakan popularitas untuk menciptakan jaringan pendidikan dan mempromosikan keterlibatan antaragama,” kata Antepli.

Dia menambahkan bahwa interpretasi Gulen mengenai hal Islam selaku ajaran yang moderat, terbuka dengan pendidikan gaya Barat, nilai-nilai demokrasi, dan hubungan antaragama.

Gerakan Gulen terkenal di Turki selaku Hizmet, yang artinya “servis”. Pengikut Gulen mengoperasikan sekolah di Turki dan di semua dunia, di mana lebih dari 100 lembaga untuk di AS saja.

“Sekolah-sekolah ini terbuka untuk siswa dari seluruh back-ground dan bermaksud untuk memberdayakan siswa melalui sains, seni, dan pendidikan bahasa dengan memperhatikan lingkungan yang saling menghormati untuk bermacam agama, etnik dan budaya,” kata Alp Aslandogan, member dewan Institut Gulen dan pimpinan Aliansi Nirlaba untuk Nilai Berbarengan yang berbasis di New York.

Menurut Antepli, Gerakan Gulen dapat dipersamakan dengan ordo religius Yesuit dalam agama Katolik, sebuah sekte yang juga dikenal sebab fokus pada pendidikan.

Baca juga : Ada 8 Partai Komunis Bahkan Berdiri di Negara Islam, Aneh Bukan?

Gulen sudah berjumpa dengan pemimpin Katolik Paus Yohanes Paulus II, juga Kepala Rabi Israel Eliyahu Bakshi-Doron. Perjumpaan itu untuk membicarakan dialog antaragama pada tahun 1998.

Tahun seterusnya Gulen menyelamatkan diri ke AS sesudah dianiaya oleh pejabat angkatan bersenjata di Turki. Sampai Saat ini dia masih tinggal di Pennsylvania, Amerika.

Ironisme Erdogan yang Anggap Gerakan Gulen selaku Ancaman

Erdogan dan Gulen ialah 2 sosok pejuang di Turki dalam melawan sekularisme. Gulen dan Erdogan pernah bersekutu melawan sekularisme absolut, yang diberlakukan oleh Mustafa Kemal Ataturk.

Keduanya sukses mendesain ulang sistem pemerintahan Turki untuk memungkinkan agama berperan lebih aktif.

Tetapi menurut Atepli, Gulen yang berharap Turki selaku negara yang menerapkan nilai-nilai demokrasi, berseberangan waktu Erdogan ingin negara itu tetap Ada di bawah pemerintahan Islam.

READ  Penggasong Khilafah Kufur Atas Nikmat Negara NKRI

Aliansi Gulen dan Erdogan tamat pada 2011 waktu Gulen Tidak mau untuk memberikan sokongan untuk Erdogan dalam usaha menghapuskan check and balance pada kekuatannya.

“Erdogan ingin Gulen menyokong seluruh tindakannya. Gulen Tidak mau ini dan Gerakan Gulen Saat ini membayar mahal harga kebebasannya,” kata Aslandogan.

Erdogan menuding penyokong Gulen membangun “negara paralel” melalui jaringan bermacam bagian termasuk bidang pendidikan, media, dan angkatan bersenjata.

Baca juga : Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dan Cerita Kematian yang Indah

Aslandogan menjelaskan, sesungguhnya gerakan itu tidak pernah menghadirkan ancaman bagi Erdogan. Yang terjadi bahkan sebaliknya, yaitu menggunakannya selaku kambing hitam untuk membenarkan perebutan kekuasaan.

Beginilah Erdogan Memperlakukan Penyokong Gulen

Erdogan menganggap Gerakan Gulen ialah organisasi teroris pada Mei 2016. Erdogan juga pernah menuding Gulen dan para pengikutnya memimpin usaha kudeta yang gagal pada 15 Juli tahun 2016.

Waktu itu Erdogan juga bersumpah untuk “memenggal kepala para pengkhianat” yang jadi dalang kudeta.

“Tetapi kepemimpinan Gulen meyakini bahwa sesungguhnya Erdogan sendiri yang merencanakan kudeta yang ‘didramakan’ selaku argumentasi untuk memperluas penganiayaan,” ucap Aslandogan.

Semenjak itu Ankara sudah menangkap puluhan ribu orang atas tudingan mempunyai keterkaitan dengan Gulen. Juga lebih dari 100.000 orang sudah dicopot atau ditangguhkan dari pekerjaan di bagian publik.

Aslandogan memaparkan para penyokong Gulen di Turki dikenai hukuman bui, tidak diberikan Peluang kerja, pemotongan tunjangan perawatan kesehatan, pembekuan aset, dan penyitaan paspor.

Hal ini juga menimpa atlet Turki terkemuka, seperti pemain sepak bola Hakan Sukur dan pemain NBA Enes Kanter, sudah dijadikan targetkan oleh negara sebab menyokong Gulen dan dituduh menentang Erdogan.

Baca : Palestina kuatir aneksasi Israel akan makin membatasi akses Laut Mati

Pada tahun 2016 pemerintah Turki mengeluarkan surat perintah untuk menangkap Sukur dan Kanter, menuding keduanya menghina Erdogan di Twitter.

“Perkumpulan Gulen Tidak mau untuk tetap diam selama masa pemerintahan Erdogan dan akibatnya ditargetkan selaku orang yang tidak tunduk pada keinginan presiden yang makin otoriter,” kata Kanter, yang Saat ini tinggal di AS.

READ  Ini Susunan Acara ujung tertinggi Haul dan Khotmil Quran Ke-30 PP. KHAS Kempek - Warta Batavia

“Harga yang wajib dibayar berlebihan negatif. Waktu Hadir untuk menekan perkumpulan Gulen, tidak ada hukum domestik atau internasional yang dipatuhi pemerintah,” kata Kanter dalam sebuah Tanya Jawab dengan Al Arabiya English.

“Saya tidak menyebutnya selaku sistem hukum Turki, sebab ia tidak melayani rakyat Turki dengan keadilan, tetapi hukum ini cuma untuk Erdogan dan kepentingannya saja,” kata Kanter.

Siapa Lagi yang Ditindak Erdogan?

Menurut Amnesty International, undang-undang anti-terorisme di Turki tidak terang. Peraturan undang-undang banyak disalahgunakan dalam kasus-kasus palsu kepada jurnalis.

Turkey Purge menyebut lebih dari 319 awak media sudah ditangkap di Turki semenjak 2016, dan 189 outlet media ditutup. Data yang diungkap Turkey Purge, sebuah situs web yang dijalankan oleh awak media Turki sudah mendokumentasikan bermacam penangkapan di negara itu.

Bagian korban penangkapan ialah jurnalis Turki; Abdülhamit Bilici. Dia ialah pemimpin redaksi surat berita Zaman.

Pemerintah Erdogan banyak membungkam outlet berita, memenjarakan banyak awak media organisasi, dan menuding kepemimpinan baru.

“sesudah serbuan polisi ke markas kami di Istanbul, hal ke-1 yang ditunaikan pengawas yang ditunjuk Erdogan ialah memberhentikan saya,” kata Bilici dalam sebuah Tanya Jawab dengan Al Arabiya English.

Baca : Peter F Gontha 2018: Indonesia akan Jadi Negara Kuat dan Makmur

sesudah menerima ancaman dari Erdogan dan pendukungnya, Bilici meninggalkan negaranya ke AS.

“Saya memperoleh pesan warning seperti ‘siapkan tas Anda untuk dipenjara’. Saya merasa bahwa percakapan telepon saya disadap. Kemana pun saya berangkat, orang-orang mengejar saya—selaku akibat dari seluruh ini, saya tidak merasa aman untuk terus tinggal di Turki,” lanjut dia.
(qa)

Dianggap Ancaman, Pengikut Fethullah Gulen Terus Diburu Rezim Erdogan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *