Dokter NU: Positif Covid-19 Bukanlah Aib – Aspiratif News

Dokter NU: Positif Covid-19 Bukanlah Aib
Views: 737
Read Time:5 Minute, 22 Second

Dokter NU: Positif Covid-19 Bukanlah Aib – Aspiratif News

Jakarta, Aspiratif News

Dokter Heri Munajib dari Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama (PDNU) Menegaskan bahwa seseorang yang positif Covid-19 bukanlah sebuah aib. Persepsi sebagai aib ini mengakibatkan terjadinya pengucilan dari orang lain atau menutup-nutupi waktu seseorang meninggal karena Covid-19.


“Masih banyak masarakat dari bermacam kalangan yang menganggap pasien dan orang yang positif Covid-19 ialah aib. Lalu itu ditutup-tutupi. Akhirnya banyak yang berstatus orang tanpa gejala (OTG),” kata dokter Heri dihubungi Aspiratif News dari Jakarta, Senin (13/7) malam. 


Sekadar informasi, dokter Heri beberapa Minggu lalu dikabarkan terjangkit Covid-19. Warganet di media sosial pun sontak membicarakan dirinya. Dalam seminggu sampai hari ini, doa untuk kesembuhannya pun mengalir deras.


setelah agak sehat, dokter bertubuh tambun ini bercerita panjang lebar melalui akun Facebook-nya. Ia menerangkan, jadi penderita Covid-19 bukanlah suatu aib. Malah penderita yang masuk kategori Orang Tanpa Gejala (OTG) seperti dirinya dan yang lain mesti diberikan biar cepat sembuh.


“Bukan malah dikucilkan. Itu salah. Ya, waktu ini saya ialah dokter sekaligus penderita Covid-19,” ungkap dokter kelahiran Gresik ini.


Heri bercerita, pada Rabu, 1 Juli 2020, ia seperti biasa menjalani rapid test yang ke-3. Ternyata, sore di hari yang sama dirinya memperoleh berita bahwa hasil rapid test-nya reaktif.


“Karena reaktif, dari Satgas Covid-19 Kelurahan Neurologi diminta untuk melapor ke Bagian. Karena pada Kamis, 2 Juli 2020, mesti dilanjutkan proses Swab,” kata Residen Ilmu Penyakit Syaraf Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini.


Keesokan harinya, Kamis (2/7) ia berangkat dari kediamannya di Gresik ke RS seperti biasa. “Banyak Sahabat juga di sana ada yang sudah swab ke-3. Tapi ini ialah Swab pertamaku. Deg-degan pastilah. Apalagi seharian menunggu hasilnya seperti apa,” kisahnya.

READ  BNI Lanjutkan Program 30.000 Swab Test Gratis ke Sumatera Selatan - Aspiratif News


Menurut informasi yang ia terima, pihak RS akan memberi berita jikalau Swab-nya positif. Sebaliknya, jikalau Swab negatif, biasanya tidak ditelepon. Ia pun seharian berjaga-jaga di samping ponselnya. laki-laki yang hobi berkelakar ini pun harap-harap cemas menanti hasil Swab yang baru saja ia jalani.


“Istriku seharian full berusaha menenangkan hatiku. Bagaimana pun juga, ia paham suaminya biasanya lebih tegar untuk urusan apa saja. Akan tetapi, berhadapan dengan penyakit yang lagi hits ini Jelas tidak dapat menyembunyikan kegalauanku,” tulisnya.

Divonis positif


Sampai pukul 9 malam, lanjut dia, belum ada tanda-tanda ponselnya berbunyi tanda menerima panggilan dari laboratorium Patologi Klinik RS Dr Soetomo (RSDS). “Ndilalah jam 00.03 dini hari, Jumat, 3 Juli 2020, ada telp masuk dari laboratorium PK yang mengabarkan Swab-ku positif,” ujarnya.


Mak gedebug rasane ati koyok ditolak cewek atau nek luwih loro maneh koyo jatuh tekan tower Sutet. Rasane ambyar. (Rasanya hati bak ditolak perempuan, atau jikalau  lebih sakit seperti jatuh dari menara Sutet. Rasanya ambyar). Ya, meski saya dokter dan tahu resiko penyakit ini, tapi saya juga manusia. Rasa takut dan kecewa itu ada,” katanya.


walau sedemikian, istri dr Heri tetap berusaha menenangkannya. Waktu dini hari itu juga, ia tidur terpisah dari 3 anak dan istrinya. “Saya langsung tidur misah dari Trio N dan istriku. Saya pilih kamar pojok lantai 2 yang banyak ventilasi dan berhubungan dengan udara luar,” ungkapnya sedih.


Keesokan harinya, dr Heri bersiap ke ke RS untuk mengambil hasil Swab dibantu rekan PPDS dilanjut kontrol ke poli Covid-19. “Dicek lab dan thorax, Alhamdulillah hasil normal. Lalu memperoleh obat, langsung pulang ke Gresik,” ujar laki-laki yang meneruskan Pendidikan Spesialis Neurologi di Unair ini.

READ  Penjelasan Soal hal Tasyabbuh di Nusantara


Sejauh perjalanan pulang, dr Heri sambil mendengarkan lantunan sholawatan via earphone di ponselnya, tidak terasa air matanya mengalir deras sembari mulutnya komat-kamit membaca shalawat ke Nabi Saw. “Isine nangis thok (cuma sanggup nangis), sambil moco sholawat marang Kanjeng Nabi (sambil baca shalawat ke Kanjeng Nabi),” ujarnya terbata-bata.

Masih stabil


Sampai berita ini diturunkan, kondisi dr Heri tidak ada gejala yang artinya, suhu tubuh stabil dan saturasi oksigen cek perjam 98-99 sesuai anjuran Spv Saraf, dari guru besar wali, KPS, Ketua Perdossi Surabaya mengharapkan dirinya diisolasi di RS.


“Istriku paling paham kondisi psikologis yang hancur bin ambyar gak karuan. Makanya, saya memutuskan untuk isolasi mandiri di rumah. Paling tidak, dapat dengar suara Trio N (Nanda, Nafi, Najah). Sebentar guyonan, sebentar kemudian tengkar. walau tidak dapat melihat langsung, akan tetapi sudah membikin hatiku marem (suka),” ujarnya.

 

dr Heri Munajib waktu menunggu proses swab test. (Foto: dok. pribadi)

 

Hati suka, menurut dia, itu juga dapat jadi obat karena akan berimbas ke sistem imun tubuh. Di mana waktu ini dalam tubuhnya juga tengah berperang dengan virus Covid-19. Maka dibutuhkan rasa nyaman dan pikiran yang positif serta psikologis yang matoh (mantap).


“Seharian isinya nangis. Apalagi ibuku bilang dari balik pintu, cepet sembuh ya cung, anakmu jek cilik-cilik. Ditelpon Mbah Yai via video call malah nangis sesenggukan. Duh, kenapa jadi secengeng ini,” curhatnya.


“Padahal ya gak biasane koyo ngene (biasanya nggak seperti ini). Jadi dokter setidaknya mengerti perjalanan penyakit ini. Apalagi dengan comorbid kegemukan bin obesitas resiko memberat penyakit dalam diriku Jelas ada,” tulis alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang ini.

READ  PT Diimbau Gelar Pelatihan untuk Menambah Wawasan Maha siswa


Ia menambahkan, beberapa kyai, bu nyai, para ning dan gus pun menyapa dirinya via WhatsApp sekadar tanya berita. Sebagian mereka juga meminta izin untuk mendoakan dan mungkin dijadikan status di medsos meski risikonya tambah heboh.


“Para Jiran mulai yang dekat sampai yang nun jauh di dunia maya menawarkan sokongan, ‘yang saya dapat bantu apa dokter?’ Saya bingung mau minta tolong apa. Karena masih fase menenangkan hati. Setidaknya, bantu saya doa agar diberikan sehat wal afiat sehingga dapat menjalani fase isolasi mandiri. Terpenting, tidak jatuh dalam fase yang lebih berat seperti happy hipoxia,” harapnya.


Di akhir cerita, dr Heri mengakui tidak mengira banyak sekali kolega dan Sahabat virtual yang banyak memberi atensi dan sokongan ke dirinya. “Ternyata saya lebih nangis lagi karena yang ndungakno (mendoakan) ternyata banyak sekali. Saya ini siapa, wong ga pernah nolong mereka secara langsung. Isin (malu) malah merepotkan banyak orang.”


“Syukur alhamdulillah sampai hari ini tetap tidak ada gejala. Suhu tubuh dipantau juga bagus. Saturasi oksigen perifer juga bagus. Kami sekeluarga menghaturkan banyak terima kasih ke Sahabat semua. Saya tidak dapat membalas semua jasa njenengan,” pungkasnya.


Sampai berita ini diturunkan, status curhat yang ditulis dr Heri di kediamannya di Gresik, Selasa (7/7) Minggu lalu itu telah dilike oleh 2000 lebih warganet, 815 komentar, dan dishare 225 kali. 


Pewarta: Musthofa Asrori

Editor: Fathoni Ahmad

Dokter NU: Positif Covid-19 Bukanlah Aib – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *