“Doktor Gembel” Dari Pati, Namanya Abadi Selaku RSUD Dr Moewardi

Doktor-Gembel-Dari-Pati-Namanya-Abadi-Sebagai-RSUD-Dr-Moewardi.jpg
Views: 738
Read Time:7 Minute, 35 Second

“Doktor Gembel” Dari Pati, Namanya Abadi Selaku RSUD Dr Moewardi

45 Views


Read Time:7 Minute, 21 Second

RSUD Dr Moewardi Kota Solo makin sering disebut-sebut oleh masarakat di tengah wabah Corona. Dari kota Solo, namanya yang melekat di RSUD Kota Solo itu juga sering muncul di pemberitaan. Tetapi, tidak banyak yang tahu soal siapa sosok Dr Moewardi.

Bahkan, masyarakat Solo pun belum tentu tahu siapa sosok lelaki yang namanya abadi jadi nama RS terbesar di kota Solo itu. Sosok Moewardi, lahir di desa Randukuning, Kota Pati, Jawa Tengah, bersesuaian pada tanggal 30 Januari 1907.

Lahir dari Famili pasangan tuan dan nyonya Sastrowardojo dengan 13 bersaudara. Moewardi sendiri Adalah anak laki-laki nomor 7.

Di antara 13 saudaranya, ada 3 yang meninggal di kala kecil yaitu (Soenardi, Tarnadi, dan Soedewi). Dari ke-2 orang tuanya, Moewardi memperoleh pendidikan dan dibiasakan bekerja keras.

Orang tua menginginkan Moewardi dan segenap saudaranya dapat jadi manusia berguna di masa depan. Pendidikan pembiasaan Moewardi ditunaikan dalam ragam ragam aktifitas rumah tangga seperti menyapu lantai sampai mencari kayu bakar.

Dari sinilah Moewardi punya jiwa disiplin. Keuletan dari Moewardi dan pendidikan disiplin dari ke-2 orang tuanya berbuah manis nggak masuk jenjang bangku sekolah.

Terbukti diawali semenjak sekolah dasar Bumiputera di Desa jakenan sampai geser ke HIS Kudus, lalu ELS (Europesche Large School) Pati.

Sedikit anak seumuran nya jikalau itu, untuk menempuh pendidikan sampai jenjang tinggi, dikarenakan di saban jenjang pendidikan wajib melewati ujian bahasa Belanda, yang mana saban anak belum tentu dapat menempuhnya.

Di ujung pendidikannya, Moewardi sanggup meneruskan belajar sampai STOVIA, sebuah sekolah kedokteran yang sekarang berubah jadi Universitas Indonesia.

Dalam proses masuk stovia, selaku anak pribumi Penting ada surat rekomendasi agar mempermudah Moewardi dalam proses registrasi.

Ayahnya, Sastrowardojo meminta dokter Umar dari Cilacap (bagian paman dari Moewardi) agar memberikan rekomendasi masuk ke stovia.

Tak sama dari kawan sebayanya yang kebanyakan masuk ke stovia, Moewardi sanggup meraih beasiswa sebab prestasinya yang sudah dibangun semenjak sekolah dasar. masa belajar Moerwadi yang beraneka ragam juga Disokong dengan back-ground orang tuanya yang Adalah mantri guru, jabatan bergengsi di kala itu.

Aktivitas Moewardi yang beraneka ragam membuatnya wajib menempuh masa studi kisaran 12 tahun. Dan baru dapat memperoleh ijazah dokternya.

Banteng Witjcaksono, anak Moewardi, menjelaskan bahwa sang ayah telah memulai aktivitas sosialnya semenjak maha siswa. Moewardi telah mulai dikenal oleh bermacam kalangan masarakat walaupun gelar dokter belum sandang olehnya.

READ  Ma'ruf Amin: Khilafah Tidak Boleh Ada di Indonesia

Maka tidak heran Moewardi kecil sering dijuluki dengan anak guru dari jakenan sebab besarnya wibawa dari nama ke-2 orang tuanya. Moewardi kecil dengan segala keberuntungan yang diterima dalam bidang pendidikan, tidak membuatnya sombong dihadapan kawan-kawannya.

Bahkan walaupun ia menyandang status ningrat, hal ini tampak dari aktivitasnya. Moewardi aktif di bidang kepanduan yang sudah dirintis semenjak di jenjang kelas 5 ELS di kota Pati.

Di kelas 5 tersebut, dirinya memulai selaku member kepanduan SPOORZOEKER (pencari jejak).

Diantara cerita kepanduan yang dialami oleh Moewardi Ada hal penting yang wajib dialaminya yaitu waktu waktu akan diangkat selaku Troep Leider, Moewardi memilih untuk Tidak mau dan keluar.

Waktu itu Moewardi masih jadi member aktif Dari Nederlandsch Indische Padvinders Vereeniging (NIPV) dan mencapai jenjang asisten Troep Leider, wakil pimpinan Tentara yang amat jarang dicapai oleh bocah kecil Bumiputera.

Walaupun di organisasi kepanduan Belanda dia gagal, tapi Karen kepanduan nya di nasional atau Pemuda India Belanda terus berlanjut sampai mencapai tingkat ‘Jong Java Padvinderij’ yang lalu berubah jadi pandu kebangsaan (PK) dan berubah kembali jadi kepanduan bangsa Indonesia (KBI).

Tidak cuma sekedar duduk jadi member, pada ketiga organisasi tersebut Moewardi senantiasa dipercaya selaku komisaris besar ataupun pemimpin tertinggi. Menurut wakil ketua Kwartir Nasional Bidang Kehumasan dan Informatika, Berthold D H Sinaulan, apa jabatan yang diemban Moewardi telah setara dengan ketua Kwartir Nasional apabila dibandingkan pada waktu ini.

Maka tidak heran kiprahnya selaku member pandu membuatnya diusulkan untuk jadi Bapak pandu Indonesia. Mendampingi Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang jadi bapak pramuka Indonesia.

Moewardi, si anak mantri guru dari jakenan, sukses menamatkan pendidikan di stovia. Sekolah kedokteran yang sekarang jadi Universitas Indonesia. Walaupun terlahir selaku anak ningrat, disiplin, kedermawanan serta kesederhanaan tetap melekat pada sosoknya.

Hal ini tampak waktu tanggal 2 Desember 1934, setahun pasca lulus dari stovia dirinya menggelar tasyakuran “kenduri modern”.

Tidak cuma sekedar berbagi makanan tapi juga berbagi jasa dengan membuka praktek pengobatan gratis dari pukul 06.00 sampai 24.00.
dir=”ltr”>
dikutip dari website Universitas Indonesia ui.ac.id, pendidikan kedokteran Moewardi tidak cuma berhenti pada stovia saja. Akan tetapi terus berlanjut nggak meneruskan ke sekolah Geneeskuundige Hogeschool (GH) untuk memperoleh gelar dokter atau Indische Arts.

Di GH tersebut, pada tahun 1939, Moewardi mengambil gelar dokter di spesialis THK (Tenggorokan, Hidung, Kerongkongan).

READ  Penyaluran Haewan Kurban LAZISNU Inggris Fokus Perkumpulan Difabel dan Jompo – Warta Batavia

Dijuluki “DOKTER GEMBEL”

Kedermawanannya selaku dokter terbukti dengan julukan yang melekat pada dirinya yaitu “DOKTER GEMBEL”.

Ternyata bukan itu (bak seperti gembel) tapi sebab kedekatannya dengan masarakat akar rumput yang masih minim akses kepada kesehatan.

Kecuali itu dia juga tidak mau menetapkan tarif dan juga tidak memungut sepeserpun. Kiprahnya tidak berhenti di kedokteran dan kepanduan saja, ia juga aktif dalam usaha melawan penjajahan di Indonesia.

Waktu Jepang Hadir menggantikan Belanda untuk menjajah Indonesia, dia jadi syuurengotaico.

Ini ialah jabatan yang bertugas memimpin barisan pelopor kota istimewa Jakarta atau Jakarta Tokubetsu Shi.

Barisan pelopor sejatinya bentukan Jepang, tapi oleh para pemuda dipakai selaku gerakan untuk memerdekakan Indonesia. Selama di barisan pelopor, Moewardi sempat jadi buronan serdadu Jepang sebab perlawanan yang ditunaikan.

Bersama-sama para pemuda lainnya, Moewardipun tidak ingin ketinggalan untuk berjuang dalam meraih kemerdekaan, bahkan dirinya rela melepas profesi dokter untuk fokus ke dalam perjuangan. Bersamanya ada Chudanco Latif Hendraningrat, salah seorang pemimpin PETA, yang ikut mengawal proses proklamasi dari penulisan naskah sampai ke pembacaan.

Dalam 1 Peluang, Moewardi sempat berdebat dengan insinyur Soekarno. dikutip dari majalah veteran, sempat terjadi perdebatan antara Moewardi dengan Soekarno dalam proses pembacaan teks proklamasi.

Moewardi meminta agar Soekarno cepat membacakan teks proklamasi, meski waktu itu H Muhammad Hatta belum Hadir. Dia menjelaskan, tanda tangan Hatta di teks itu sejatinya telah cukup untuk mewakili.

Tetapi Soekarno ngotot menanti Muhammad Hatta. Bahkan dengan nada keras si bung Karno sempat membentak ke Moewardi.

“Jika Mas Moewardi tidak mau menanti silakan baca teks sendiri,” kata Bung Karno.

seusai teks proklamasi dibacakan, Moewardi jadi lelaki terpilih untuk memberi kata sambutan.

Sebab kesibukan di dalam awal mendirikan Republik Indonesia, Moewardi sempat melepas status sementara selaku dokter. Akhirnya, sesudah pemindahan ibukota dari Yogyakarta ke Jakarta, peran Moewardi di pemerintahan berkurang sampai ia pilih menetap di Solo.

Di Solo Moewardi kembali menjalankan profesi kedokteran nya yang sempat ditinggal. praktek dengan segala macam pasien juga dilayani sampai tiba pada tanggal 13 September 1948.

Waktu itu Mayor Hendroprijoko melarang Moewardi untuk bergerak praktek mengingat keadaan negara tengah gawat. Diceritakan dalam buku “PKI BERGERAK” karya Harry A. Poeze, Moewardi yang masih menjabat selaku pimpinan barisan banteng mengabarkan sebuah dokumen untuk Soekarno dan Hatta.

Isinya Soal kemungkinan terjadinya Bughot yang ditunaikan oleh pesindo yang berhaluan komunis. Alih-alih nurut perintah Mayor Hendroprijoko, Moewardi tetap hukum menjalankan operasi sesuai jadwal yang sudah ditetapkan.

READ  Mahfud MD Tantang Pengusung Khilafah untuk Tunjukkan Sistem Negara Khilafah

Ia berkata: “Saya pemimpin dan saya juga dokter yang terikat dengan janji dokter. Percayalah Saya tidak akan dibunuh oleh bangsa sendiri, yang mau menghabisi saya hanyalah Belanda. Pasien Saya wajib cepat dioperasi,” kata Moewardi.

Maka sesudah menyampaikan pesan di depan anak buahnya, Moewardi tetap berangkat dengan mempergunakan andong ke RS. Tidak lama lalu pada pukul 11.00 WIB terdengar keriuhan dan dari ledakan senjata api.

Moewardi diculik dan kantor polisi di dekat RS habis diserbu.

Harry A. Poeze, menggambarkan proses penculikan itu selaku hal yang unik. Penyebabnya para penculik sempat membiarkan Moewardi untuk menuntaskan proses operasi yang ditunaikan kepada pasiennya. Sebelum akhirnya hilang dibawa entah kemana.

seusai itu terdengar berita bahwa semua korban penculikan termasuk di antaranya dokter Moewardi habis dibunuh. Pencarian pun Dilakukan dengan bermacam usaha.

Gubernur angkatan bersenjata Solo-Madiun yang dijabat Kolonel Gatot Subroto juga ikut memberikan perhatian serius. Tetapi sampai sekarang keberadaan Moewardi masih misterius. Moewardi hilang meninggalkan 7 orang anak.

2 anak dari Suprapti, istri ke-1, yaitu Sri sejati dan Adi.

Lantas 5 anak lain dari istri keduanya, Susilowati, yaitu atas Ataswarin Kamarijah, Kusumarita, Cipto Juwono, Banteng Witjcaksono dan Happy Anandarin Wahyuningsih.

Salah seorang anak Moewardi, Banteng Witjcaksono, menceritakan Soal kehilangan ayah yang membikin Ibu mereka jadi orang tua tunggal dan wajib menghidupi semua anak mereka.

Dikisahkan dari cicit Moewardi, Lichte Christian Purbono, pencarian Moewardi terus ditunaikan sampai puluhan tahun lamanya.

Sebab tidak tahu dimana keberadaannya, para keluarganya cuma dapat melaksanakan aktifitas tabur bunga di patung Moewardi yang Ada di RSUD Dr Moewardi, Solo.

Aktifitas ini rutin ditunaikan oleh Famili sampai sekarang, meski tidak ada satupun anak cucu Moewardi yang tinggal di Solo. untuk mengenal sosoknya dan menghargai bahasanya secara legal Moewardi dinobatkan selaku pahlawan kemerdekaan nasional melalui SK Presiden RI No. 190 tahun 1964.

Kecuali diberi gelar pahlawan, nama Moewardi juga disematkan selaku nama RS yang diputuskan melalui surat keputusan Gubernur kepala daerah tingkat 1 Jawa Tengah tanggal 24 Oktober 1988.

Pergantian nama pun ditunaikan bersesuaian pada hari pahlawan 10 November 1988 dari awalnya RSUD kelas B Provinsi Dati I jadi RSUD Dr Moewardi Surakarta. “Doktor Gembel” Dari Pati, Namanya Abadi Sebagai RSUD Dr Moewardi

“Doktor Gembel” Dari Pati, Namanya Abadi Sebagai RSUD Dr Moewardi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *