Dongeng Enteng dari Pesantren (22): Cita-cita – Aspiratif News

Dongeng Enteng dari Pesantren (22): Cita-cita
Views: 1495
Read Time:4 Minute, 34 Second

Dongeng Enteng dari Pesantren (22): Cita-cita – Aspiratif News

Oleh Rahmatullah Ading Afandie (RAF)

 

Ada sebagian ajengan yang menghukumi makruh waktu menceritakan cita. alasannya menceritakan cita-cita akan mendekatkan diri pada ujub (sombong) dengan umur. Sombong karena kita seakan akan berumur panjang. Padahal umur bukan perkara yang mesti disombongkan. Umur tiada yang pernah tahu, dapat nanti sore atau besok pagi batasnya. Begitu menurut ajengan yang menghukumi makruh.


Sementara ajengan di pesantrenku, membolehkan untuk menceritakan cita-cita. menurutnya, cita-cita ialah 1 tekad. Terus bagaimana kalau umur kita tidak sampai pada cita-cita, menurut ajenganku, itu bukan urusan kita. Cita-cita ialah niat untuk sesuatu. 


Suatu waktu, ajenganku mengomeli Si Salim, santri yang terbilang pintar. alasannya cita-cita. Ajengan pernah menanyakan soal itu. Si Salim menjawab, “Saya mah bagaimana Allah yang mengatur saja.”


“Pasrah pada takdir Allah itu benar. Tetapi ikhtiar Ialah kewajiban. Berharap takdir Allah tanpa ikhtiar tiada bedanya dengan seorang sehat jasmani rohani, tapi kerjaannya mengemis. Innallaha la jughayyiru ma biqaumin, hatta jughayyiru ma bi anfusihim, bagitu kata Al-Qur’an. Allah ta’ala tidak akan merubah nasib suatu kaum, jikalau kaum itu tidak melakukan usaha untuk mengubahnya. Wa’arifta ya bunayya (ketahuilah, anak-anakku) apa yang disebut dengan kaum? Kaum ialah kumpulan nas (manusia). Jadi, sama saja Innallaha la yughayyiru ma biinsani, hatta yughayyiru ma bi anfusihi.” 


Begitulah, Ajengan pesantrenku memberi intimidasi penting untuk cita-cita.

READ  Heboh! Pasca Kritik Pompeo, Dubes China untuk Israel Ditemukan Meninggal - Aspiratif News


“Yang disebut dengan takdir dalam rukun iman itu ialah kondisi yang dibarengi dengan ikhtiar manusia. Jadi soal ikhtiar itu penting. Kalau 1 kondisi jelek sesudah melakukan ikhtiar untuk memperbaikinya, itulah yang disebut dengan takdir jelek. Belum disebut takdir jikalau belum ada usaha untuk mengubahnya. Nah, ikhtiar inilah yang terkait dengan cita-cita,” jelas Ajengan.


Semenjak memperoleh penjelasan ajengan seperti itu, santri-santri di pesantrenku sering tafakur memikirkan cita-cita.


Pada Kesempatan lain, ajengan kadang menanyakan soal cita-cita pada santri. Mang Udin mempunyai cita-cita ingin meninggal ikut ajengan di pesantren. 


Menguping cita-cita seperti itu, Si Atok Memberi komentar:


“Cita-cita Mang Uding 1 di antara 2 kemungkinan. Ke-1, ingin dipuji. Ke-2, ingin selalu berdekatan dengan Nyi Halimah, putri ajengan.”

 

Kang Haer bercita-cita ingin punya madrasah. Kang Usman ingin punya pondok pesantren dengan usaha sampingan beternak ikan. Si Umar punya cita-cita rada aneh, ingin jadi ajengan! 


Ajengan menanyakan untuk Si Umar. 


“Apa sebabnya engkau bercita-cita ingin jadi ajengan?” 


“Agar punya tanah wakaf!” jawabnya. 


Ajengan memalingkan mukanya. Sungguh, ia mendirikan pesantren di tanah wakaf. Juga sawah beberapa petak yang berstatus sama.


Cita-cita tergantung pada cara berpikir lingkungan tempat seseorang tinggal. Karenanya tidak heran jikalau saya mempunyai cita-cita paling tinggi dibandingkan dengan santri-santri lain. Sebab, ke-1, saya pernah sekolah di kota, ke-2, lingkungan Famili di kampungku. Disebut sebagai paling tinggi di antara santri lain, karena cita-citaku waktu ialah jadi penghulu! Silakan ditertawakan juga, tapi saya punya nyali bersumpah itulah cita-citaku. Kalau ada yang tidak percaya, saya dapat menyebut beberapa saksi. Ustadz Hudori, direktur sekolah panghulu di Ciamis waktu itu tentu masih ingat bahwa saya pernah diantarkan kakek agar saya diterima jadi murid di sekolahannya. Tetapi ditolak karena saya masih keterlaluan muda.

READ  Normal Baru, NU Lumajang Gagas Ketahanan Pangan - Aspiratif News


Kemudian dia menganjurkan agar saya sekolah dulu di madrasah Miftahul Huda (miftah = kunci, huda = petunjuk). Problem saya pernah sekolah di Miftahul Huda, banyak saksinya.


Saya menerangkan sedemikian karena dapat jadi ada yang menyangka bahwa cita-citaku ingin jadi panghulu cuma rekaan belaka.


“Apa sebabnya ingin jadi penghulu?” tanya seseorang. Ini yang menanyakan buka ajengan sebab dia tidak mengomentari dan menanyakan waktu menguping cita-citaku. Ia malah menadahkan 2 telapak tangannya, berdoa agar tercapai. Di lalu hari, jangankan jadi penghulu, sebagai modin pun saya tidak pernah. Ini bukan doa ajengan tidak bertuah, lebih karena saya tidak berikhtiar.


Mang Udin yang menanyakan kenapa saya ingin jadi penghulu. Ia menanyakan seperti itu karena saya pernah menguping bahwa Nyi Halimah bercita-cita ingin jadi istri seorang penghulu. Keinginan Nyi Halimah tidak ada hubungannya dengan cita-citaku. Saya punya nyali bersumpah cita-citaku bukan karena menguping cita-cita Nyi Halimah. Wallahi, bukan lantaran itu! Saya juga tidak percaya omongan Si Atok yang bercerita bahwa Nyi Halimah punya cita-cita jadi istri penghulu karena menguping cita-citaku. Tidak, saya tidak percaya. Saya percaya itu akal-akalan Si Atok. Saya percaya karena ulah Si Atok sehingga Mang Udin begitu penasaran apa alasanku ingin jadi panghulu.

READ  MbS Gaet Perusahaan Teknologi Israel untuk Proyek Neom - Aspiratif News

(Pembaca mesti melihat bagian-bagian sebelumnya, bahwa Mang Udin sebetulnya menyukai Nyi Halimah)


Saya menjawab pendek saja atas pertanyaan Mang Udin waktu itu. Tetapi, ah, buat apa saya menceritakan jawabanku waktu itu, lebih baik saya menerangkan secara sebab saya ingin jadi panghulu. alasannya kalau menceritakan jawabanku waktu itu, saya terjatuh pada gibah. Saya masih ingat, menguping jawabanku waktu itu, Mang Udin seperti tambah membenciku.

 

 

Cerpen ini diterjemahkan dari bahasa Sunda ke bahasa Indonesia oleh Abdullah Alawi dari kumpulan cerpen otobiografi Dongeng Enteng ti Pesantren. Kumpulan cerpen tersebut diterbitkan tahun 1961 dan memperoleh hadiah dari LBBS di tahun yang sama. Menurut Adun Subarsa, kumpulan cerpen tersebut digolongkan ke dalam kesusastraan Sunda modern sesudah perang.    

 

Nama pengarangnya Rahmatullah Ading Afandie sering disingkat RAF. Ia lahir di Ciamis 1929 M. Pada zaman Jepang pernah nyantri di pesantren Miftahul Huda Ciamis. Tahun 1976, ia muncul dengan sinetron Si Kabayan di TVRI, tapi dihentikan karena dianggap keterlaluan tajam mengkritik. Waktu TVRI cabang Bandung dibuka, RAF muncul lagi dengan sinetron Inohong di Bojongrangkong.

 

Dongeng Enteng dari Pesantren (22): Cita-cita – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *