Rizieq-Shihab-696x392.jpg

Drama Penangkapan Rizieq Shihab 18 Tahun Lalu, Ditahan dan Dibawa Kabur

Diposting pada
Drama Rizieq Shihab Penangkapan Rizieq Shihab 18 tahun lalu, ditahan dan dibawa pergi
ANTARA / Hafidz Mubarak A.

Pada Minggu sore, 20 April 2003, Presiden Front Pembela Islam Rizieq Shihab kembali dari Irak. Kedatangan Rizieq untuk memenuhi panggilan Polda Metro Jaya terkait perusakan sejumlah tempat hiburan di Jakarta.

Dalam kasus ini, Rizieq menjadi tersangka. Ini adalah panggilan ketiga dari Rizieq. Namun, dua panggilan sebelumnya tidak pernah dipenuhi Rizieq.

Kasus ini bermula pada 4 Oktober 2002, ketika Rizieq diduga menghasut penyerangan dan pengrusakan sejumlah klub malam di Jakarta Pusat dan Jakarta Barat oleh anggota FPI.

Keesokan harinya, atau 5 Oktober 2002, dalam siaran di stasiun televisi SCTV dan Trans TV, Rizieq berkomentar bahwa tindakannya dilandasi oleh ketidaktahuan para pemangku kepentingan negara, mulai dari eksekutif dan legislatif.

Gubernur itu tuli, DPRD cuek, polisi mandul, ”kata Rizieq seperti dilansir Liputan6.com saat itu.

Polisi juga memanggil dan memeriksa sejumlah anggota FPI, termasuk Rizieq. Menurut Rizieq, ini sentimen polisi, bukan ucapan mereka.

“Ana telah berbicara tentang penangkapan dan penculikan aktivis selama setahun. Pada tanggal 5 Oktober 2002, Ana berbicara di televisi dengan atasan Polda Metro Jaya. Saat itu beberapa aktivis FPI ditangkap dan saya bilang penculikan. Barangkali tersinggung dengan pantauan itu, Mabes Polri dan Polda Metro Jaya menggugat. Katanya, dia diyakini telah menghina pemerintah (polisi) dan menghasut, ”kata Rizieq.

Pimpinan FPI diinterogasi selama 13 jam. Polisi juga menetapkan status tersangka dan menahannya di Polda Metro Jaya karena Rizieq diduga melanggar Pasal 160 KUHP.

Baca Juga :  Pendukung Trump Serbu Gedung Capitol Amerika

Namun, status penahanan ditangguhkan dari hak asuh seorang warga setelah 21 hari. Dalam catatannya, Rizieq bekerja sama untuk mengajukan dakwaan P21.

Tidak ditahan di hotel Prodeo, dia tidak melepaskan status tersangka Rizieq dan menjadi warga negara tawanan. Namun, pada April 2003, tragedi pelariannya ke Irak datang ketika berkasnya siap dipindahkan ke kantor kejaksaan.

Ini terjadi saat Rizieq dua kali absen saat ditelepon. Pertemuan pertama dilakukan pada 7 Maret 2003, ketika polisi menemukan berkas sudah lengkap. Meski tidak hadir, Rizieq kembali dipanggil pada 9 Maret 2003.

Namun, polisi mendapat kabar mengejutkan bahwa Rizieq telah meninggalkan Indonesia menuju Yordania melalui Malaysia pada 8 Maret 2003.

“Habib masih menjadi tawanan kota. Apapun alasannya, dia tidak bisa pergi ke luar negeri. Kapolda sudah memerintahkan untuk mencari (Rizieq) sampai kita menemukannya, “ujarnya.

Rizieq sendiri mengatakan agenda di Irak tidak boleh lepas dari kasus hukum. Tapi itu adalah rencana yang direncanakan sejak awal. Rizieq juga membantah telah ditangkap oleh Interpol dan ditangkap saat tiba di Irak.

“Ini sudah lama kita rencanakan. Meski panggilan polisi datang belakangan, sebenarnya saya menyerah, saya tidak ditangkap. Jadi bohong kalau sampai ditangkap,” kata Rizieq seperti dilansir Liputan6.com. , Senin 21 April 2003.

Dipersembahkan oleh massa

Yang jelas, sehari setelah bandara ditutup, Polda Metro Jaya menyerahkan BAP (Berkas Prosedur Pemeriksaan) Presiden Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab ke Pengadilan Tinggi DKI Jakarta.

Baca Juga :  Jokowi Sebut Pelayanan Birokrasi Selama Ini Kaku

Sejalan dengan hal tersebut, pada Senin 21 April 2003 sekitar pukul 09.00 WIB, Rizieq dan pengacaranya, Ary Yusuf Amir, tiba di kantor Kejaksaan Agung Jakarta, Jalan Rasuna Said. Rencananya, Rizieq akan menjalani pemeriksaan administrasi. Selain itu, dia akan dibawa ke Rutan Salemba di Jakarta Pusat.

Namun, sekitar pukul 11.30 WIB, massa FPI yang berkumpul di Jalan Rasuna Said berhasil masuk ke ruang kejaksaan Jakarta. Mereka tidak sabar untuk membawa Rizieq pergi. Selanjutnya, mereka menghentikan bus Kopaja nomor P-20 Senen-Lebak Bulus melalui Kejaksaan Agung.

Massa FPI kemudian memerintahkan Rizieq naik bus dan membawanya ke markas FPI di kawasan Petamburan, Jakarta Pusat. Polisi yang melihatnya tidak bisa berbuat banyak.

Liputan6.com memberitakan sejumlah anggota FPI terlihat dipanggil ke markas mereka. Sementara itu, Rizieq sedang beristirahat di sebuah kamar di markas FPI. Polisi juga dikabarkan berkoordinasi setelah pelarian Rizieq.

Sekretaris Jenderal FPI Ahmad Shabri Lubis mengatakan kejadian tersebut murni ulah spontan mahasiswa atau pendukung Habib Rizieq.

“Ini di luar keinginan kami. Itu di luar kemampuan kami untuk menahan mereka. Mereka histeris dan provokatif. Pertama kami akan tenang atau bangun bersama ulama kami, pengacara kami, dan pejabat FPI lainnya,” katanya kepada SCTV.

Ahmad menambahkan, dirinya bersama ulama dan pengurus FPI lainnya akan menenangkan pendukung Rizieq. Setelah massa tenang, menurut Ahmad, Rizieq akan pergi sendiri menjalani proses hukum yang akan dihadapinya.

Baca Juga :  Ini Langkah yang Akan Diambil Polri Usai FPI Dilarang Pemerintah

Ia mengaku Rizieq Shihab langsung pasrah di Rutan Salemba Jakarta Pusat pada Senin malam setelah sebelumnya dibawa pergi oleh anak buahnya dan dibawa ke markas FPI di Jalan Petamburan III nomor 83, Tanahabang, Jakarta Pusat.

Sebelum mengawal dirinya ke Rutan Salemba, Rizieq berbicara di depan wartawan. Menurut Rizieq, dirinya sempat kabur ke Irak. Dia datang ke pedesaan selama seribu satu malam untuk mengirim bantuan.

“Ini sudah lama kita rencanakan. Sedangkan panggilan polisi datang belakangan,” kata Rizieq dengan suara berapi-api.

Rizieq juga membantah ditangkap Interpol. Dia tidak pernah ditangkap polisi saat tiba di Irak.

“Sebenarnya saya menyerah, saya tidak ditangkap. Jadi bohong kalau sampai ditangkap,” kata Rizieq.

Usai berbincang dengan wartawan, Rizieq berangkat ke Rutan Salemba. Ratusan massa FPI seakan harus membebaskan Rizieq.

Dalam persidangan kasusnya, Riziq kemudian divonis oleh juri di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan divonis 7 bulan penjara. Rizieq diyakini telah berdemonstrasi secara sah dan meyakinkan untuk menghasut, melawan aparat keamanan, dan memerintahkan perusakan sejumlah tempat hiburan di ibu kota.

Ia kemudian menjalani hukuman di Lapas Salemba dan mendekam di Blok R nomor 19.

Sumber: liputan6.com

(Warta Batavia)

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *