images-9.jpeg

Dua Wajah Islam : Sebuah Kontestasi Wacana

Diposting pada

Sejak era reformasi, secara global kita melihat tampilnya dua wajah Islam ke ruang publik masyarakat Indonesia. Pertama, katakanlah Islam yang berwajah islamis-radikal-konservatif. Islam tipe ini, mempunyai beberapa varian. Varian pertama, berwajah Islamisme yakni diskursus Islam yang tampil ke ruang publik lebih banyak bernuansa politik-kekuasaan: kekuasaan-oriented. Islamisme atau Islam politik disuarakan secara terang-terangan oleh gerakan tarbiyah cabang Ikhwanul Muslimin (IM) di Indonesia dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Mereka, terutama HTI, secara terbuka, masif, terstruktur dan sistemik meneriakkan khilafah Islamiyah atau khilafah ala minhaj nubuwwah.

Padahal yang mereka suarakan sebenarnya khilafah tahririyah, khilafah versi Hizbut Tahrir. Lucunya, semua persoalan, dari yang paling sederhana, remeh temeh sampai yang kompleks, solusinya tidak lain adalah khilafah tahririyah. Namun yang menarik, karena mereka membungkus semua tawarannnya dengan menggunakan bahasa ‘agama’, dengan menggunakan bahasa ‘Islam’, sehingga banyak orang yang terpesona.

Selain itu, karena sangat massif dan militannya mereka menyebarkan khilafah tahririyah ke dalam seluruh lini kehidupan masyarakat, maka tidak heran jika banyak sekali masyarakat awam yang terpengaruh propaganda mereka. Bukan hanya kalangan awam, bahkan tidak sedikit juga kalangan intelektual yang terpengaruh propaganda HTI. Walaupun sebagian besar masyarakat awam dan kalangan intelektual yang terpengaruh HTI ini tidak menjadi anggota resmi, tapi mereka sangat bersimpati dan membela ide-ide yang diusung oleh HTI.

Mengenai Islamisme ini, dengan tegas Bassam Tibi mengatakan bahwa Islamisme sebenarnya tidak lebih dari politik yang di-islamisasi. Mereka menggunakan bahasa ‘agama’, bahasa ‘Islam’ demi kepentingan kekuasaan yang hendak mereka raih. Sebagaimana kita ketahui, bahasa agama ini cukup ampuh dalam menghipnotis masyarakat luas. Apalagi ketika kepentingan kelompok Islamisme tersebut dijadikan tunggangan politis oleh segelintir politikus busuk yang rakus jabatan dan kekuasaan. Berjalin kelindannya kepentingan mereka ini, menyebabkan atmosfer ruang publk bangsa kita menjadi pengap.

Varian kedua, Islam ortodoks yang berwajah sangat fikih-oriented. Setelah reformasi, cukup banyak muncul dai-dai pop culture yang ceramahnya sangat menekankan aspek fikih. Hampir sebagian besar isi ceramahnya membahas hal-hal yang berkaitan dengan hukum fikih dalam ibadah-ibadah ritualistik: shalat wajib, sholat sunnah, shalat sunnah dhuha dan tahajjud, zakat, haji, umroh, shodaqoh, dan lain-lain. Dai-dai ini cukup populer di kalangan emak-emak dan bapak-bapak.

Selanjutnya varian ketiga, tampil juga wajah Islam yang lebih berorientasi akidah-oriented. Diskursus yang mereka tampilkan selalu berputar dalam poros tauhid. Tapi sayangnya, tauhid yang bercorak rigid. Wacana Islam yang berorientasi akidah ini disuarakan dengan lantang oleh kelompok salafi-wahabi. Maka tidak mengherankan kalau sebagian tradisi Islam Nusantara menjadi sasaran gugatan mereka. Mereka menolak bahkan membid’ahkan, menyesatkan, mengkafirkan, dan memusyrikan ritual-ritual yang sudah menjadi kebiasaan masyarakat kita, seperti tahlilan, tawasul, berdoa di makam wali, selamatan 7 hari, 40, 100 atau 1000 hari. Bahkan beberapa peninggalan budaya Nusantara hendak mereka musnahkan. Siapapun yang berbeda pemahaman tauhidnya dengan mereka, maka dianggap sesat, melakukan bid’ah bahkan bisa dianggap musyrik.

Secara general, tiga varian wajah Islam seperti itulah yang muncul secara masif ke ruang-ruang publik bangsa kita. Tiga wajah Islam demikianlah yang mendominasi jagad media sosial kita. Ketiga potret Islam ini memiliki aktor, dai, juru bicara dan publik figurnya masing-masing yang menjadi idola bagi masyarakat luas. Para dai dan aktor ini melakukan propaganda secara massif melalui berbagai media sehingga mampu mewarnai masyarakat secara besar dan membentuk kelompok-kelompok setia pengikut mereka dengan karakter uniknya masing-masing.

Baca Juga :  Innalillah! Pria Ini Sebut Indonesia Rezim Syaitan dan Harus Dilawan

Namun ada benang merah yang mengikat mereka semua yakni semangat keberagamaan yang menggebu-gebu tapi dangkal; keberagamaan yang cenderung emosional tapi mengabaikan penalaran akal; fanatisme beragama yang sempit dan membenci penganut agama yang pemahamannya berwajah liyan; serta potret keberagamaan closed-minded yang cenderung menutup diri terhadap wacana keagamaan yang berada di luar kelompoknya.

Hampir selama dua dasawarsa, potret keberagamaan yang bercorak rigid, politis, dangkal, emosional, sempit, dan closed-minded inilah yang telah mendominasi ruang-ruang publik kita. Mereka telah memasuki nyaris semua lini kehidupan kita, baik formal maupun non-formal. Dalam tataran tertentu, potret keberagamaan seperti ini sudah mulai menjadi paradigma sebagian masyarakat kita yang tidak bisa dianggap kecil.

Lalu bagaimana menghadapi wajah keberagamaan yang surplus emosi namun defisit intelegensi tersebut? Pada titik inilah, tampilnya wajah Islam yang kedua yaitu Islam yang berwajah moderat-progresif-inklusif. Islam yang berwajah moderat-progresif-inklusif ini harus melakukan counter wacana secara masif pula. Secara umum, Islam ini diwakili oleh kaum intelektual dan cendekiawan, para dosen dan guru, para kyai dan santri, para dai dan mubaligh yang open-minded dari ormas NU dan Muhammadiyah serta ormas-ormas moderat lainnya.

Mereka sudah mulai proaktif menyuarakan Islam wasathiyah yang bersahabat dengan kultur bangsa di ruang publik. Mereka harus aktif menyuarakan Islam moderat, yang ramah dan sejuk, inklusif dan humanis kepada masyarakat secara luas. Mereka juga harus proaktif menggunakan beragam platform media sosial dalam berbagai bentuknya seperti twitter, instagram, facebook, WhatsApp, youtube dan lainnya. Kita bersyukur sudah ada sejumlah kaum cendekiawan, kyai, santri atau kaum intelektual moderat-progresif yang sangat aktif mengcounter wacana Islam yang rigid dan menyuarakan Islam yang wasathiyah, moderat, inklusif, dan humanis.

Di sini kita bisa menyebut segelintir nama sebagai contoh faktual. Nadirsyah Hosen dengan artikel-artikel ringan tapi berbobot yang mencerahkan, yang mengcounter wacana-wacana HTI dengan rujukan-rujukan yang sangat otoritatif. Tulisan-tulisan bernas, brilian, dan otoritatif Gus Nadir mulai menenggelamkan tulisan-tulisan dangkal provokatif kalangan pengusung khilafah tahririyah.

Sumanto Al Qurtuby dengan artikel-artikel kuliah virtualnya yang membuka perspektif kita tentang fenomena geo-politik Islam di kawasan dunia Arab, sehingga banyak orang yang terbebaskan dari perspektif Arab-sentris. Kyai Husein Muhammad dengan tulisan-tulisannya mengenai wacana gender dengan beragam tema. Kyai Ahmad Ishomuddin yang aktif menulis dengan tegas untuk mengcounter wacana-wacana kelompok radikal. Ada pula Ayik Heriansyah dengan tulisan-tulisan cerdas yang menohok dan menguliti agenda-agenda licik HTI.

Begitu pula, cukup banyak sekali Kyai-kyai dan Gus-Gus yang mengkaji beragam kitab secara live streaming melalui media sosial facebook, dan disebarkan juga melalui youtube dengan channel-nya masing-masing. Ada Quraish Shihab dengan channel Shihab & Shihab-nya yang dipandu oleh Najwa Shihab dengan mengangkat berbagai tema-tema keislaman yang disoroti dengan perspektif tafsir. Ada channel Gus Mus yang menayangkan ‘ngaji’-nya Gus Mus beberapa kitab di hadapan para santri yang ditayangkan secara live streaming.

Ada juga Gus Ulil Abshar Abdalla yang mengkaji kitab Ihya’ Ulumuddin dengan uraian yang sangat kaya perspektif lewat akun facebooknya. Ada kyai Mukti Ali Qusyairi yang mengkaji kitab Adabud Dunya Wad Din yang memperkaya wawasan kita tentang adab dalam Islam secara komprehensif. Ada Kyai Abdul Moqsith Ghazali yang mem-balagh kitab fikih fenomenal Fathul Mu’in dan kajian ushul fikih kitab syarah Waroqot yang membuka wawasan kita tentang fikih yang luwes. Ada pula kyai Zen Maarif yang mengkaji kitab-kitab bernuansa filsafat, seperti Fashlul Maqol karya Ibnu Rusyd dan Ihshaul Ulum karya Al-Farabi dengan penjelasan filosofis yang amat mencerahkan nalar.

Baca Juga :  Iran Sebut Sikap Baru AS Soal Yaman Bisa Jadi Baik tapi Belum Cukup untuk Selesaikan Krisis

Itulah segelintir nama cendekiawan, Kyai, dan Gus yang aktif menyuarakan wajah Islam yang moderat dan inklusif, toleran dan humanis. Dan masih banyak lagi para cendekiawan dan intelektual, kyai dan santri yang menyuarakan Islam yang ramah dan santun, inklusif dan humanis, toleran dan bersahabat dengan kultur bangsa melalui media sosial. Inilah wajah Islam yang kedua yang bisa kita sebut juga sebagai Islam berwajah kultural yang moderat-progresif-inklusif. Dalam beberapa tahun belakangan ini, kita menyaksikan wajah Islam kultural yang moderat-progresif-inklusif ini sudah mulai mengimbangi wajah Islam politis yang konservatif.

Ceramah-ceramah Gus Muwafiq yang mengadopsi adat budaya bangsa dan menanamkan hubbul wathon minal iman, mulai proaktif mengcounter ceramah-ceramah provokatif Felix Siauw seputar khilafah. Cuplikan-cuplikan pengajian Gus Baha yang mengkaji tentang tafsir dan hukum fikih dengan analisis perspekfif komparatif yang sangat kaya, luwes dan diselingi dengan jok-jok segar khas dunia pesantren salaf, mulai lebih populer daripada ceramah-ceramahnya UAH yang terkesan agak rigid dan monoton.

Ceramah-ceramah Gus Miftah yang menyuarakan Islam moderat dan kultural dengan menggunakan bahasa gaul, sangat enerjik dan penuh canda yang relevan, mulai memudarkan ceramah-ceramah pada dai-dai salafi wahabi yang penuh dengan keseriusan dan ketegangan. Kajian kitab Ihya ‘Ulumuddin yang diampu Gus Ulil Abshar Abdalla dengan penjelasan yang canggih, kontekstual dan melakukan relevansi dengan konteks masyarakat Indonesia, mulai menjadi idola kaum menengah kota dan mulai menggeser kajian-kajian Khalid Basalamah.

Saya berharap lebih banyak lagi kaum cendekiawan dan intelektual, dosen, kyai dan santri yang aktif menyuarakan Islam kultural yang berwajah moderat-progresif-inklusif lewat platform media sosial seperti twitter, facebook, whatsApp, instagram, youtube, dan lainnya. Mereka tidak boleh diam dan pasif. Mereka harus aktif bersuara. Sebab kalau mereka pasif dan tidak peduli dengan persoalan-persoalan yang ada di tengah-tengah masyarakat, maka kehidupan keberagamaan ruang publik kita akan dikuasai oleh kelompok-kelompok Islamisme dan konservatif.

Sayangnya banyak sekali kaum moderat yang bersikap pasif dengan merajalelanya kaum radikal yang menyerbu ruang publik. Inilah yang jauh-jauh hari, di awal abad 21, sudah disinyalir oleh Khaled Abou El-Fadl, bahwa kaum moderat Islam itu mayoritas, tapi ironinya menjadi silent majority, mayoritas yang pasif dengan berkembangnya fenomena radikalisme. Padahal kemenangan kontestasi wajah Islam moderat-progresif-inklusif terhadap wajah Islam radikal-konservatif di ruang-ruang publik sangat bergantung pada peran aktif kaum moderat muslim, terutama para kaum cendekiawan dan intelektualnya, para dosen, kyai dan santri.

Hari ini, para dosen, cendekiawan dan kaum intelektual tidak bisa lagi hanya sibuk dengan urusan internal kampus dengan mengabaikan urusan eksternal kampus. Sebab, kaum cendekiawan bukan hanya mempunyai tanggung jawab akademik, tapi juga tanggung jawab publik, bukan cuma tanggung jawab intelektual, tapi juga tanggung jawab sosial, bukan cuma tanggung jawab keilmuan, tapi juga tanggung jawab kebangsaan. Hari ini, kaum cendekiawan yang hanya aktif dengan persoalan-persoalan internal kampus dan tidak peduli pada persoalan-persoalan eksternal di ruang publik, otoritas keilmuannya perlu dipertanyakan.

Baca Juga :  Palestina kuatir aneksasi Israel akan makin membatasi akses Laut Mati

Artinya kaum cendekiawan muslim moderat yang tidak peduli dengan pelbagai fenomena radikalisme dan ekstremisme di ruang publik, maka belum legitimate sebagai cendekiwan; belum absah otoritas keilmuannya sebagai seorang cendekiawan. Karena lagi-lagi, tanggungjawab pencerahan terhadap masyarakat luas tentang ajaran moderasi Islam ada di pundak-pundak mereka. Begitu pula, hanya mereka-lah yang mampu mengcounter dan mematahkan argumentasi-argumentasi rigid kaum radikal, puritan, dan ekstrem.

Sedangkan para kyai, di samping ada kyai-kyai yang harus fokus mendidik santri-santri di pesantren mereka secara total, harus ada juga sebagian kyai yang turun gunung, aktif di media sosial dan ruang-ruang publik. Kita bersyukur kini sudah banyak kyai yang aktif menyiarkan pengajian-pengajian kitabnya secara virtual. Mengapa wacana Islam yang berwajah moderat-progresif-inklusif harus tampil secara masif dan maksimal dalam ruang publik kita?

Secara sosiologis, suatu masyarakat akan cenderung mengikuti suatu wacana yang paling dominan, paling menyebar, dan paling populer, walaupun wacana tersebut belum tentu benar, tepat dan relevan untuk diterapkan. Tapi karena wacana tersebut sudah begitu populer dan dominan menguasai dunia nyata maupun dunia maya media sosial, maka masyarakat akan cenderung menelan mentah-mentah dan mengikuti wacana tersebut tanpa syarat. Wacana yang paling populer tersebut akan mulai mempengaruhi sebagian besar sikap dan perilaku masyarakat kita secara luas. Lama kelamaan pengaruh tersebut menjadi semacam paradigma: seperangkat konsep atau aturan baku yang menjadi penggerak sikap dan perilaku masyarakat.

Implikasinya begini: paradigma yang rigid akan membentuk sikap dan perilaku masyarakat yang rigid. Paradigma yang konservatif akan membentuk sikap dan perilaku masyarakat yang konservatif. Paradigma radikal dan takfir akan menyebabkan sikap dan perilaku masayarakat yang senang menyesatkan orang-orang yang berbeda dengan mereka.

Bayangkan betapa besarnya pengaruh suatu paradigma dalam membentuk sikap dan perilaku sebuah masyarakat. Dan dalam dua dasawarsa ini, kita sudah menyaksikan bagaimana wacana Islamisme dan Islam konservatif yang rigid ini sudah mulai mendominasi ruang-ruang publik. Sehingga dimana-mana kita melihat perilaku masyarakat yang hendak menerapkan khilafah tahririyah dan perilaku rigid yang merasa paling benar sendiri dengan menyalahkan pihak lain.

Pada titik inilah, saya sangat mengharapkan wacana Islam kultural yang moderat-progresif-inklusif dapat mendominasi ruang-ruang publik, baik dalam dunia nyata maupun dunia maya dalam ranah media sosial. Saya berharap wacana Islam moderat-progresif-inklusif dapat menjadi paradigma dominan sehingga dapat mewarnai masyarakat kita secara luas dalam beberapa tahun kedepan.

Saya berharap beberapa tahun kedepan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang dewasa dalam beragama, toleran dan lapang dada dengan berbagai perbedaan yang ada. Saya berharap beberapa tahun ke depan ruang-ruang publik dan dunia media sosial kita, didominasi oleh orang-orang yang keberagamaannya santun dan ramah, inklusif dan humanis. Beberapa tahun ke depan, saya berharap sikap keberagamaan masyarakat kita menjadi lebih cerdas dan bijak, tetap bersikap akomodatif terhadap adat budaya bangsa dan memiliki perasaan cinta yang utuh kepada tanah air dengan segala pernak-perniknya. Semoga.

Zaprulkan

Sumber: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1877748832375118&id=100004200575464

(Warta Batavia)

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *