JI-696x346.jpg

Eks Petinggi JI: Pembenci Pemerintah Mudah Direkrut Jadi Teroris, Ini Alasannya!

Diposting pada
Ilustrasi penangkapan teroris (foto courtesy)

Nasir Abas mengatakan orang-orang yang sudah membenci pemerintah cenderung lebih mudah direkrut menjadi teroris dibandingkan yang masih nol. Karena selama ini sikap dan ideologi jaringan teroris biasanya memusuhi pemerintah atau siapapun yang berkuasa.

“Jika saya akan merekrut orang untuk menjadi teroris, saya akan memilih mereka yang sudah memiliki kebencian terhadap pemerintah daripada mereka yang masih nol. Bagaimana cara menambah pupuknya, ”ujar mantan presiden Mantiqi III Filipina, Kalimantan Timur, dan Jamaah Islamiah Sulawesi Selatan, seperti dikutip detik.com.

Ia mengatakan hal itu terkait temuan sekumpulan atribut dari Front Pembela Islam (FPI) di kediaman sejumlah tersangka anggota JAD (Jamaah Ansharut Daulah) di Condet dan Bekasi dari Densus 88. Merekrut seseorang untuk menjadi anggota Anggota jaringan teroris, Nasir Abas mencontohkan, dirinya tidak terikat golongan, profesi atau status sosial.

Oleh karena itu, menemukan simbol dan atribut FPI tidak serta merta berarti melibatkan organisasi secara formal. Selain itu, selama beberapa bulan FPI melarang keberadaannya dari pemerintah.

Baca Juga :  Mahfud Md: 2 Bomber Makassar Tewas, 20 Warga-Petugas Gereja Luka

Mungkin simpatisan sengaja menyimpan atribut sebagai pengingat karena FPI sudah bubar, kata Nasir Abas.

Di tempat lain, penulis buku “Memberantas Terorisme, Berburu Noordin M Top” dan “Membongkar Jamaah Islamiyah: Pengalaman Mantan Anggota JI” menyebutkan dua surat dalam Alquran dan hadits yang sering disalahtafsirkan oleh penulis. tindakan terorisme. Dua huruf yang dimaksud adalah Al-Baqarah ayat 191 dan Al-Maidah ayat 44.

Ayat 191 secara praktis mengajarkan umat Islam untuk berperang, mengusir, bahkan jika perlu, membunuh orang-orang kafir di mana pun mereka dapat ditemukan. Tetapi konteks ayat tersebut adalah ketika Anda berada dalam keadaan perang yang sebagian besar adalah “Bunuh atau Anda akan dibunuh”.

Ayat dalam surat Allah SWT tersebut mengajarkan umat Islam untuk tidak bingung berperang. Jangan tutup mulut, tetap tidak aktif. Tapi kejar musuh, kata Nasir Abas.

Sayangnya, sambungnya, sebagian kalangan, karena hanya membaca terjemahannya, melihat Indonesia sebagai medan pertempuran. Pemerintah, presiden, tentara, polisi dan non-Muslim dianggap musuh.

Ini adalah tambahan dari hadits Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, yang “dikirim kepadaku, diperintahkan untuk membunuh orang sampai mereka percaya”.

Baca Juga :  Mantan Dirut PT Pelindo II RJ Lino Ditahan KPK

Padahal yang dimaksud dengan ini hanya berlaku untuk kaum musyrik yang berperang melawan umat Islam, tidak semua musyrik. Karena ada banyak hadits lainnya, Nabi melarang memerangi wanita, anak-anak, pendeta dan yang lemah. Ada juga hadits lain yang menyatakan: “Aku dikirim ke bumi ini untuk menyempurnakan akhlakku”

Kesalahpahaman juga terjadi pada tafsir Surat Al-Maidah ayat 44 yang berbunyi: “Barangsiapa tidak memutuskan apa yang diturunkan Allah adalah kafir.”

Alhasil, kata Nasir Abas, semua non muslim dianggap musuh. Presiden juga dianggap kafir karena dianggap tidak menghormati syariat Islam. “Umat Islam yang berbeda dari dirinya dianggap kafir. Ini takfiri, mudah untuk tidak mempercayai orang lain. Tapi ini bukan hal baru, sudah ada sejak Nabi Muhammad wafat, ”terangnya.

(Warta Batavia)

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *