Ekstremitas Sains dan Agama | The Truly Islam – Aspiratif News

Ekstremitas Sains dan Agama | The Truly Islam - Warta Batavia
Views: 913
Read Time:9 Minute, 14 Second

Ekstremitas Sains dan Agama | The Truly Islam – Aspiratif News

Ilustrasi, https://sbyireview.files.wordpress.com/

Belakangan ini marak dialog yang mengupas relasi sains – agama dan berusaha menjawab sebuah pertanyaan besar: bisakah agama (teks-teks suci) dan sains diharmoniskan?

Bila sains dinilai selaku tolok ukur kebenaran, maka sebagian teks mungkin terbaca dan terpahami selaku tidak sesuai dengan sains ditafsirkan dengan penafsiran yang dapat diterima sains. Bila ditafsirkan secara paksa dengan penafsiran yang sesuai dengan sains, maka kedudukan teks suci yang ditetapkan selaku wahyu suci yang mutlak benar gugur.

Bila teks suci dinilai selaku tolok ukur kebenaran, maka banyak teori dan fakta sains yang dinilai tidak sesuai dengan teks wajib direvisi supaya tidak bertentangan dengan teks suci.Bila direvisi agar sesuai dengan teks suci, maka kedudukan sains selaku ilmu empiris gugur.

Pertanyaan yang lebih penting dari itu ialah “perlukah agama dan sains diharmoniskan?”

Bila realitas ditetapkan selaku fakta empirik, maka agama Penting diharmoniskan dengan sains agar agama diterima oleh kaum saintis. Bila agama dinilai selaku kebenaran mutlak, sains Penting diharmoniskan dengan agama agar dapat diterima oleh kaum beragama.

Namun bila menganggap realitas selaku fakta gradual dan masing-masing dari agama dan sains mempunyai persepsi yang berlainan sebab fasilitas yang digunakannya berlainan, maka keduanya tidak Penting diharmoniskan sebab keduanya benar secara gradual. Sebab mempunyai basis epistemologi yang berlainan, sains dan agama bukan cuma tidak Penting diharmoniskan tapi tidak dapat diharmoniskan.

Agama dan sains, sebab mempersepsi realitas dengan dasar epistemologi berlainan, wajib diterima tanpa Penting dipertentangkan. Keduanya dapat diterima secara bersamaan sambil membedakan karakteristik objeknya masing-masing.

Persoalannya, para saintis keburu pongah menjadikan teori-teorinya selaku postulat aksiomatik secara general sehingga mengukur dan menilai isu-isu agama (teks-teks suci) dengan metode dan pendekatan empiris. Pada waktu yang sama para agamawan ceroboh menjadikan persepsi dogmatisnya selaku dasar untuk Tidak mau fakta natural yang dipersepsi secara empiris oleh kaum saintis. Akibat dari 2 paradigma yang saling menafikan ini, terjadilah polemik dan sengketa yang seakan tidak tertuntaskan.

Yang mungkin Penting ditunaikan ialah memperjelas esensi agama agar dapat mengambil definisi yang utuh dan dapat dibedah dasar epistemologinya sebelum disikapi dengan afirmasi dan negasi. Sains pun pun sedemikian.

Arus Inti masarakat agama dan sebagian besar saintis punya pandangan yang sama mengenai hal agama bahwa agama tidak dapat dijamah dengan logika. Kaum dogmatis menegaskannya dengan maksud membanggakannya dengan justifikasi “iman”. Kaum saintis juga mengatakan dengan tegas itu dengan tendensi mencibirnya selaku delusi untuk mengeluarkannya dari peradaban. Dengan kata lain, para penguasa dogma pengendali masarakat religius yang mayoritasnya hidup di pelbagai wilayah jajahan sudah memperoleh benefit dan keuntungan pemisahan agama dari sains dan waktu agama ditetapkan selaku zona bebas knowledge dengan sebutan mempesona “iman” yang jadi perisainya.

Renaissance yang diawali dengan rasionalisme dan empirisme dan berpuncak pada positivisme dan pragmatisme yang menciptakan peradaban moden sains mengilhami para agamawan untuk bekerja leluasa menanamkan dogma yang kerap dinilai wahyu dan petunjuk dari langit yang tidak tunduk pada parameter validitas.

READ  Sidang Sengketa Pemilihan presiden Dilanjut 2 Pemaparan Ahli

Saintisme (ateisme, agnostisisme, deisme) dan dogmatisme sukses menciptakan sintesa unik: saintis sekaligus dogmatis. Perselingkuhan sains ekstrem- agama ekstrem melahirkan sekelompok manusia berkepribadian ganda, logis dalam sains dan dogmatis dalam religiusitas. Lulusan-lulusan mereka menyebar ke sentra-sentra vital, instansi sipil dan keamanan, perguruan tinggi, kementerian, BUMN, perusahaan swasta asing dan lokal, termasuk industri media.

Ternyata kaum saintis tidak sepenuhnya berpikir selaku saintis. Sebagian dari mereka bertindak selaku kapitalis dan politisi. Saintisme menciptakan teori-teori. Kapitalisme mengolah teori jadi fasilitas dan alat produksi (teknologi). Imperialisme menggunakannya selaku fasilitas dominasi. Teknologi dan industri membelah dunia ke dalam 2 bagian, dunia maju dan dunia terbelakang. Nuklir lalu internet lalu bioinformatika menghadirkan kehidupan baru dengan perilaku baru dalam “one culture” selaku puncak supremasi sains.

Ada 2 fakta; material atau fisikal dan fakta immaterial atau metafisikal. Fakta material ialah realitas komplek yang Adalah komponen kemungkinan dan aktus berupa raga yang disebut materi (jism).

“Saya kemarin meyakini benda yang saya pegang ini ialah gelas. Hari ini saya meyakininya selaku serpihan kaca (beling) ialah premis yang tidak salah bila a) sesuatu yang disebut gelas itu ialah sebuah entitas fisikal (mempunyai ukuran, kedalaman dan sifat-sifat atomik lainnya) pada fakta objektifnya; b) gelas itu semenjak awalnya berbahan kaca pada fakta objektifnya; c) esensi kegelasannya sirna sebab mengalami transformasi atau Pergantian bentuk akibat pecah pada fakta objektifnya.

Dengan kata lain; pernyataan kemarin berupa predikasi “ialah gelas” atas benda itu tidak bertentangan dengan pernyataan hari ini berupa predikasi “bukanlah gelas” atau “ialah serpihan kaca” atas benda itu tidaklah salah. Artinya, Pergantian predikasi dalam contoh “gelas” secara saintifik bahkan valid.

Sains selaku konsep yang disusun dari fakta material yang dinamis tidak akan menghadirkan fakta yang statis dan permanen kecuali bila diabstraksi ke bilangan tidak berhingga (matematika) yang Adalah fakta-fakta abstrak. Tetapi bila matematika diperlakukan selaku ilmu rasional murni dan dipisahkan dari sains, maka sains tidak punya dasar validitas sendiri.

Sains ialah premis-premis tidak permanen sebab objeknya ialah fakta sensual dan terikat oleh “waktu” empiris nya. Usaha memberikan nilai valid dengan probabilitas kalkulus atas pengetahuan saintifik cuma menghasilkan validitas general, bukan kebenaran universal yang permanen. Dengan kata lain, nilai-nilai general yang diperoleh sains, tidak berpijak pada sains itu sendiri (sebab itu paradoks siklus), tapi berpijak pada probabilitas kalkulus, yang tidak lain ialah matematika selaku aksioma non empiris.

Penting diketahui, sains memerlukan 2 postulat non saintifik yang abstrak, yaitu: a) matematika ialah pijakan sains; b) kebenaran saintifik ialah produk kebenaran matematik.

Sains tidak dapat menghasilkan premis-premis permanen (dulu disebut eksakta) sebab objeknya cuma fakta-fakta dinamis kecuali bila diabstraksi dengan angka yang Adalah fakta abstrak yang tidak berhingga.

READ  Daftar Aksi anarkis FPI dari Tahun ke Tahun di Bermacam Provinsi

Eksistensi, Tuhan, agama dan mazhab juga nilai-nilai kualitatif bukanlah realitas material yang dinamis akan tetapi statis. Sebab statis, fakta objektifnya tidak berubah. Sebab tidak berubah, citranya dalam benak pun tidak berubah.

Sebab dasar epistemologi sains dan agama tak sama, maka fakta yang dipersepsinya pun berlainan. Sebab keduanya mempunyai 2 fakta objektif tak sama, tidak Penting menilai agama dengan sains, dan sebaliknya, juga tidak Penting melaksanakan pengagamaan sains dan tidak Penting melaksanakan saintifikasi agama. Dengan kata lain yang lebih eksplisit, penyokong saintisme tidak Penting nyinyir soal Tuhan, agama dan tema-tema non saintifik. Kaum dogmatis juga tidak Penting menjustifikasi teks-teks agama dengan sains sebab itu bahkan mengisyaratkan kegamangan di balik pengakuan kebenaran mutlak mereka.

Kaum saintis yang pongah dan kaum dogmatis yang jumud mewakili 2 polar ekstrem sebab berebut pengakuan kebenaran mutlak. Padahal sains sendiri menafikan kemutlakan serta berdiri di atas relativitas, dan agama yang dinilai selaku wahyu Tuhan buah pemahaman subjektif dan relatif kepada teks

Kaum saintis ekstrem mungkin berhak mengklaim berjaya membangun peradaban modern dengan teknologi dan menyadarkan manusia mengenai hal delusi Tuhan dan agama.Namun kaum saintis lupa bahwa sains yang dibanggakanya dan agama yang dicibirnya sama-sama tidak berbasis pada dasar epistemologi yang ajek.

Sebab mengira filsafat metafisika Yunani sudah berakhir waktu dioplos dengan dogma gereja jadi teologi skolastik, kaum saintis atheis meremehkan seluruh konsep ketuhanan dan merasa sudah berhasil menguburkannya.

pertentangan pendapat paling purba dalam sejarah manusia ialah eksistensi dan realitas. Para metafisikawan memastikan eksistensi selaku pengalaman supra-rasional sebelum diketahui selaku pengetahuan rasional. Inilah yang membedakan tsubut dan itsbat atau antara ada dan diketahui. Dengan kata lain, sebelum memperebutkan bisakah mengenali realitas dan sebelum memperdebatkan bagaimana atau dengan fasilitas apakah realitas dikenali, secara inheren saban subjek individu memastikan adanya subjek diri tanpa konsep rujukan. Filsafat memastikan eksistensi selaku eksistensi, sedangkan sains memastikan eksistensi selaku ruang.

Berikutnya para metafisikawan berselisih seputar ketunggalan dan keragaman eksistensi. Ibnu ‘Arabi menyaksikan wujud selaku manifestasi (tajalliyat) dari Nama-nama dan Sifat-sifat Tuhan pada cermin ketiadaan yang lalu Disokong oleh para mistikus dan diresmikan selaku narasi ketunggalan eksistensi yang mengumumkan bahwa eksistensi cuma Tuhan sedangkan lainnya hanyalah bayang-bayang atau ilusi. Adapun para filsuf peripatetik konsisten mengatakan dengan tegas pluralitas eksistensi yang Adalah akibat dari emanasi dari 1 realitas sublim. Suhrawardi berusaha mengambil jalan tengah yang memadukan ketunggalan dan keragaman dengan mengetengahkan teori cahaya yang memancarkan cahaya-cahaya gradual yang dikenal dengan iluminasi.

Ternyata teori cahaya itu, meski sukses mengharmoniskan pengakuan ketunggalan dan pengakuan keragaman, meninggalkan paradoks eksistensi yang bermuara ke kudeta esensi atas eksistensi (fundamentalisme esensi).

Sambil mempertahankan gradualitas, Mulla Sadra mengembalikan masalah Inti ke eksistensi. Menurut Sadra, eksistensi bukanlah objek-objek yang ada (exist) atau maujud-maujud (existents), yang menemukan personalitasnya sendiri-sendiri di dunia objektif sebab bermacam kuiditas (esensi) yang menyertainya, melainkan 1 realitas tunggal. Inilah yang teori tasykik al wujud atau gradulitas eksistensi.

READ  Turki Diadukan Kirim Ribuan Anggota ISIS ke Libya - Aspiratif News

Hukum gradualitas (tingkatan) berlaku secara determinan dalam benak dan realitas. Hukum ini menetapkan bahwa apapun yang berawal dan Adalah entitas efektual berperingkat utawa tidak setara secara eksistensial. Inilah yang menghadirkan keragaman selaku fakta tidak terbantahkan. Teori ini diperkenalkan oleh Sadr al-Din Syirazi atau Mulla selaku koreksi atas teori emanasi Peripatetik dan iluminasi Suhrawardi.

walau dinilai selaku konsep final dalam metafisika, eksistsnsi yang diposisikan selaku subjek tunggal metafisika oleh Sadra dan Tabatabai juga para filsuf penerusnya, menurut filosof muslim kontemporer Fayyazi, murid senior M. Taqi Misbah Yazdi, meninggalkan problema krusial. Kritik Fayyazi bukan sekadar lontaran objection selaku letupan sesaat tapi membuka babak baru dengan kritik-kritik susulan yang tidak cuma bersifat catatan kritis tapi menandai lahirnya aliran ke-4 dalam stoa metafisika.

Ringkasnya, kaum saintis Penting lebih bersikap rendah hati dan Penting pula mengamati akar epistemologi perbedaan pemahaman keagamaan. Tidak seluruh orang teis itu picik dan tidak seluruh orang beragama itu anti logika. Sebagian dari mereka meyakini Tuhan dan beragama dengan dasar rasional sambil mengakui kebenaran fakta saintifik tanpa berusaha menjadikannya selaku referensinya.

Secara umum, yang Penting diketahui ialah hal-hal selaku berikut: 1. Kaum saintis atheis menganggap Tuhan dan agama dianggap delusi sebab ia abstrak. Padahal Tuhan secara ontologis dalam pandangan metafisikawan (bukan para penganut dogmatis) ialah realitas objektif, sedangkan agama secara ontologis ialah entitas mental berupa keyakinan dan konsep metafisikal lainnya 2. Sebab pikiran ialah citra mental sebuah persepsi sensual kepada fakta fisikal, Tuhan dan agama yang ditiadakan oleh para ateis ialah Tuhan dan agama yang dipersepsikan secara saintifik. 3. Sains empiris yang cuma dapat menjangkau realitas fisikal cuma dapat menyimpulkan “tidak menemukan Tuhan”, bukan “Tuhan tidak ada.” Sains cuma mengurusi korespondensi dengan objek, bukan dari eksistensi objek itu sendiri. Padahal “tidak menemukan” atau “Tuhan tidak ditemukan” tidak meniscayakan secara logis “Tuhan tidak ada.” 4. Saintis mengira agama (dengan ragam konten ajaran dan namanya) yang dianut masarakat beragama cuma punya pola pemahaman yang sama sehingga kerap melaksanakan penilaian general kepada agama selaku delusi, seakan seluruh agama menetapkan “iman” (keyakinan tanpa logika). Padahal persepsi agama bagi saban penganutnya tidak senantiasa sama. Setidaknya ada 2 kategori agama; yaitu a) agama yang Adalah produk doktrin atau keterlanjuran; b) agama yang Adalah buah kesadaran rasional dan turunan sistematis dari logika dan pandangan dunia filosofis. 5. Saintis atheis tidak membedakan Tuhan dengan agama. Padahal agama Adalah buah pemahaman dan keyakinan orang yang meyakini eksistensi Tuhan. Dengan kata lain, bertuhan tidak niscaya beragama, dan tidak sebaliknya.

Dr. Muhsin Labib

Sumber: https://seword.com/umum/ekstremitas-sains-dan-agama-2h1ZoGFa3O

(Suara Islam)


Ekstremitas Sains dan Agama | The Truly Islam – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *