Famili Koudjis Belajar dari Perjalanan – Aspiratif News

Views: 25
Read Time:4 Minute, 27 Second

Famili Koudjis Belajar dari Perjalanan – Aspiratif News

KELILING dunia mungkin jadi impian bagi sebagian orang. Akan tetapi, butuh keberanian tinggi untuk mewujudkannya, apalagi jikalau ada anggota Famili yang masih kecil ikut serta. Akan tetapi, tidak ada yang mustahil di dunia ini selama kita percaya dan mau bekerja keras mewujudkan impian tersebut. Seperti ini prinsip yang selalu dipegang pasangan Eelco Koudijs, 53, dan Vryedta Tjandra Ilfi a, 51, terlebih waktu memutuskan memulai petualangan keliling dunia yang mereka namai Journey of Wonder Family semenjak Juli tahun lalu.

Prinsip yang jadi pegangan mereka ialah learning is a journey, not a destination, khususnya untuk ke-2 anaknya, Nesya, 11, dan Tyo, 10. Eelco ingin menjadikan perjalanan Famili yang mereka tempuh ini sebagai sebuah metode pembelajaran. Karenanya, tidak penting seberapa jauh jarak yang mesti ditempuh, tapi berapa banyak yang dapat dipelajari dan diserap dari tiap-tiap tempat yang dikunjungi itu yang paling Utama.

Mereka ingin mengajarkan pada anak anaknya soal berproses dalam hidup. “Ini cita-cita yang sudah lama. Kenapa keliling dunia? Karena kami ingin studi banding. Ada apa di luar Indonesia? Bagaimana kehidupannya, alamnya, pendidikan, wisata, dan lain-lainnya. Ini ialah pembelajaran yang luar biasa untuk kami dan anak kecil,” jelas Eelco yang waktu ini tengah mengurus perpindahan kewarganegaraan dari Belanda ke Indonesia.

READ  jema’ah Embarkasi Surabaya Akan Tempati Zona Mahbaz Jin

“Kami punya mimpi dan tekad bulat. Anak kecil sudah cukup usianya untuk diajak jalan. Kalau lebih muda, mungkin mereka akan sulit untuk mengingatnya, tapi jikalau sudah remaja, mereka akan sulit diajak karena sudah punya lingkungan sendiri,” tukas Iyel menyambung sang suami.

Butuh persiapan panjang sebelum keduanya akhirnya mantap untuk memulai petualangannya itu, khususnya mengatasi problem finansial. Untuk mewujudkan impian tersebut, Eelco dan Iyel telah mempersiapkan tabungan spesial semenjak 4 tahun lalu dari bisnis wisata di wilayah Bali dan Sukabumi yang mereka tekuni.

Mereka telah membikin jadwal perjalanan dari Jakarta-Pontianak-Serawak (Malaysia)-Kuching (Malaysia)-S ingapura – Malaysia – Thailand-Laos-Tiongkok- Kyrgyzstan-Tajikistan – Uzbekistan-Iran-Turki-Eropa (Belanda, Austria, Kroasia, Portugal, Italia, Swis, dan Perancis)-Afrika, dan terakhir Pakistan selama 11 bulan dan kembali ke Indonesia dengan pesawat melalui Pakistan pada Juli tahun lalu.

Kendaraan

Untuk mobilitas perjalanan, Eelco sempat mempertimbangkan mempergunakan campervan atau truk ukuran kecil agar seluruh anggota Famili merasa nyaman. Akan tetapi, hal itu dia batalkan karena mobil tersebut akan sulit melewati jalan yang sempit. Akhirnya, pilihan Eelco pun jatuh pada Mitsubishi Pajero Dakar 4–4 dengan pelat B yang ia namai Capuccino.

READ  Akhlaq Mbah Maimoen dan Prof Quraish Shihab yang Menakjubkan - Warta Batavia

Membawa mobil pelat B berkeliling dunia tentu bukan hal yang mudah, Eelco wajib mempunyai ‘carnet’ (paspor untuk mobil) dan dokumen kendaraan yang komprehensif agar mudah jikalau diperiksa di tiap-tiap tapal batas bermacam negara.

Sempat perjalanan Famili Koudijs ini tertahan di tapal batas Malaysia dan Thailand karena keputusan taktik pemerintah Thailand untuk memperketat dan memilah mobil dari negara mana saja yang dapat masuk ke negara ‘Gajah Putih’ tersebut.

“Kami sudah mengetahui regulasi Thailand yang tidak mengizinkan mobil masuk, kecuali dari Malaysia, Singapura, Laos, dan Kamboja. Akan tetapi menurut pengalaman beberapa Sahabat overlanderkami, mereka tetap dapat lewat di tapal batas Thailand dengan aman katanya. Mungkin kami waktu itu memperoleh petugas yang ketat saja sehingga kami tertahan di tapal batas dan tidak dapat lewat untuk beberapa waktu,” cerita pria kelahiran Belgia itu.

Lepas dari drama perizinan di tapal batas, perjalanan Famili Koudijs ternyata juga banyak diwarnai bermacam cerita menarik, salah satunya ialah sambutan yang hangat dari masarakat lokal yang penasaran dengan asal dari pelat mobil mereka waktu sampai di Tajikistan dan Iran karena banyak yang menanyakan asal mereka dari mana. Akhirnya, Eelco pun berinisiatif menempelkan stiker bendera Merah Putih di kap mobilnya.

READ  PA 212 Masih Ngotot Tolak Pemerintahan Joko Widodo atas Dasar Tudingan Curang

Waktu berkendara di negara orang, tentu Eelco juga wajib menyesuaikan diri dengan kondisi lalu lintas di negara yang ia singgahi dan adaptasi tentu sudah jadi kewajiban yang wajib mereka lakukan lintas negeri. “Seperti di Maroko, kecepatan wajib kami turunkan karena ada polisi yang Memperingatkan bahwa kami telah melebih batas kecepatan di sana,” jelas Eelco. (Bus/M-4)


Famili Koudjis Belajar dari Perjalanan – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *