Fenomena ‘Kecapaian Zoom’ Selama Pandemi, Apa Itu? – Aspiratif News

Fenomena ‘Kecapaian Zoom’ Selama Pandemi, Apa Itu? - Warta Batavia
Views: 1586
Read Time:1 Minute, 55 Second

Fenomena ‘Kecapaian Zoom’ Selama Pandemi, Apa Itu? – Aspiratif News

Jakarta, Aspiratif News—Akibat anjuran physical distacing dan WFH selama pandemi virus corona, banyak orang melakukan aktifitas video conference untuk beraktivitas sehari-hari. Akan tetapi, aktivitas baru ini ternyata berefek buruk bagi psikologi manusia, apakah itu?

Ledakan yang belum pernah terjadi sebelumnya dari pemanfaatan video conference memunculkan istilah baru yaitu “Zoom fatigue” atau kecapaian zoom.

Istilah itu mereferensi pada sifat kecapaian yang muncul waktu banyak melakukan video conference. Walau mempergunakan zoom, istilah tersebut juga berlaku jikalau mempergunakan Google Meets, Skype, FaceTime, atau aplikasi panggilan video call lainnya.

Andrew Franklin, asisten profesor ilmu psikologi siber di Norfolk State University menerangkan, hasil eksperimen sosial terkait pemanfaatan video call memperlihatkan bahwa interaksi virtual dapat amat memengaruhi otak.

“Ada banyak pemeriksaan yang memperlihatkan bahwa manusia sungguh-sungguh kerepotan karena hal ini,” katanya.

Menurut Franklin, orang-orang waktu ini terkejut dengan betapa sulitnya melakukan panggilan video yang terbatas pada layar kecil dan banyaknya gangguan, seperti koneksi, suara, dan lainnya.

READ  Teks Lirik Aghitsna Ya Rasulallah (Arab dan Latin)

Selama tatap muka, otak sebagian berfokus pada kata-kata yang diucapkan, tetapi juga memperoleh makna tambahan dari lusinan isyarat non-verbal, seperti melihat gerak gerik tubuh lawan bicara, galau waktu berbicara, atau lainnya.

Video conference merusak kesanggupan yang tertanam ini, dan memerlukan perhatian yang berkelanjutan dan intens untuk kata-kata. Jika kualitas videonya buruk, harapan untuk memperoleh sesuatu dari ekspresi muka akan hilang.

Performance multiple display juga memperbesar problem Zoom fatigue. Performance kotak-kotak kecil di mana semua peserta rapat tampil dengan bermacam gaya menantang visi sentral otak, dan memaksanya untuk memecahkan kode begitu banyak orang sekaligus.

Franklin menyebutkan, perhatian parsial yang terus-menerus dapat disebut sebagai kategori multi-tasking yang memerlukan fokus otak. Bagi sebagian orang, perpecahan fokus yang berkepanjangan dapat menciptakan rasa bingung.

Otak jadi kewalahan oleh rangsangan berlebih yang tidak dikenal sambil jadi kelebihan fokus pada pencarian isyarat non-verbal yang tidak dapat ditemukan. Itulah sebabnya panggilan telepon tradisional mungkin kurang membebani otak karena cuma menyampaikan suara. (ra/radarindo)

READ  Bijak Berlebaran di Tengah Pandemi - Aspiratif News

 


Fenomena ‘Kecapaian Zoom’ Selama Pandemi, Apa Itu? – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *